Masih tertanam kuat dalam ingatan publik sebuah slogan penuh makna yang didendangkan pahlawan serta Founding father kita Soekarno awali langkahmu membangun negeri ini dengan mengajar. Mengapa harus mengajar? Mengapa harus pendidikan? Karena dari pendidikan itulah berawal yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak bisa menjadi bisa.

Sudah tidak asing lagi bahwa pendidikan sangatlah penting dalam membangun peradaban negeri dan moralitas anak bangsa, karena bangsa yang maju adalah bangsa yang memiliki pendidikan merata. Apabila pendidikannya maju maka pembangunan segala bidangpun dapat berjalan dengan lancar.

Pendidikan mempunyai tujuan yang tertanam dalam Undang-Undang, yang pada intinya membentuk karakter seseorang yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Memang begitu mulianya tujuan dari sebuah pendidikan, di antaranya ialah memakmurkan berjutaan umat manusia dan memajukan negara dengan segala bidang yang digelutinya. Akan tetapi terkadang dalam pelaksanaannya sangat tidak sinkron dengan apa yang menjadi goalnya.

Coba kita tengok sedikit saja, di keramaian kota begitu banyak generasi penerus bangsa terlunta-lunta di jalanan, bernyanyi ria dengan pakaian yang lusuh dan muka yang cemong, mengemis ria dengan wajah yang bermacam makna. Kemudian kita bergeser sedikit di seberang, akan kita temui  generasi penerus bangsa berlarian berlomba mencari rerumputan maupun kayu bakar. Sungguh pemandangan yang seharusnya membuat hati kita bersimpati, bukan acuh tak acuh, dan bukan pula ucapan urusanku-urusanmu.

Kita ini adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia, bukan negara Jawa atau pulau jawa saja, tapi berpuluh-puluh pulau kita punya. Kita semua adalah bangsa Indonesia, baik yang ada di gang kumuh sudut kota yang ramai, hingga jalan setapak hutan rimba pedalaman sana. Mereka perlu diperhatikan terutama dalam aspek pendidikannya.

Merujuk data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), pada 2015-2016 terdapat sekitar 946.013 siswa lulus SD yang ternyata tidak mampu melanjutkan ke tingkat  menengah (SMP). Hal ini diperparah dengan data 51.541 siswa yang melanjutkan pendidikan ke SMP ternyata tidak lulus. Artinya, ada 997.445 anak Indonesia hanya berijazah SD di tahun 2015 hingga tahun 2016. Ternyata masih begitu banyak anak-anak bangsa yang luput dari perhatian Pemerintah.

Pemerataan pendidikan belum sepenuhnya dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia, terutama di pelosok-pelosok pedesaan. Berbagai faktor yang mempengaruhinya, seperti wilayah, sosial, budaya, sarana-prasana, dan yang paling utama adalah tenaga pengajar. Realitanya, di beberapa daerah pedalaman sudah tersedia bangunan beserta sarana-prasarana pendidikan, namun tiadanya tenaga pengajar apa artinya sebuah bangunan pendidikan (sekolah)?

Tak dapat kita pungkiri bahwa saat ini jurang perbedaan antara kota metropolis dengan distrik terpencil semakin jelas terlihat: mengkhawatirkan dan mengenaskan. Para pengajar yang sudah memiliki kualifikasi sebagai guru lebih memilih bekerja di perkotaan, sebab menurut sebagian orang segalanya lebih mudah, begitupun dengan aksesnya; kondisi sekolah sudah lengkap dengan segala sarana-prasarana yang dibutuhkan; dan honor serta akreditasi sekolah yang memuaskan. Yah, mau bagimana lagi? memang mayoritas orang di era globalisasi lebih memilih hidup dengan segala kemudahan dan ke-praktis-an, begitupun dengan tempat tinggal serta suasana hidup.

Akhirnya, sekolah-sekolah di daerah pedesaan-pun ditinggalkan, bahkan tidak akan terlirik sedikitpun atau tidak masuk dalam daftar. Lantas, bagaimana dengan nasib generasi penerus bangsa yang tinggal di daerah hutan rimba? Salahkah mereka yang memiliki kehidupan di pelosok sana? Mereka juga membutuhkan hal yang sama dengan anak-anak lain, yaitu mendapatkan asupan pendidikan. Siapa yang harus disalahkan? Katanya negeri ini memiliki cita-cita luhur mulia yang sudah jelas tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar “ mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara” . Pada akhirnya cita-cita tersebut hanya pajangan saja. Implementasinya sangat rendah, bahkan pemerintah seperti menutup mata untuk memberi kenyamanan pendidikan bagi putra-putri bangsa yang memiliki beberapa keterbatasan. Sungguh sangatlah kronis keadaan bangsa ini.

Sebenarnya anak-anak di daerah pedalaman sangat ingin merasakan, apa itu pendidikan? Semangat mereka tidak pernah pudar. Bagi mereka tidak berat berlarian melewati jurang-jurang nan-terjal bebatuan, yang jauhnya tidak terkira demi mencapai bangunan tepat pukul 07.00 pagi yang disebut rumah pendidikan. Satu hal yang mereka fikirkan bagaimana agar tidak terlambat, menunaikan kewajiban sebagai murid, tanpa berfikir panjang mengenai resiko yang harus dihadapinya. Hai para pendidik dan elit politik, dengan semangat mereka yang demikian, masihkah tega kita berpaku tanggan?

Jika saja pemerintah lebih melakukan koreksi dan evaluasi terhadap pendidikan di seluruh pelosok negeri, serta memperhatikan hal-hal sepele yang sebenarnya penting. Kemudian perlahan-lahan membenahi apa yang harus dibenahi, seperti penjaminan mengenai kesejahteraan guru di daerah-daerah pelosok, pembangunan fasilitas serta infrastruktur penunjang pendidikan, dan pemberian beasiswa kepada keluarga tak mampu atau berprestasi. Insya Allah, dengan ini perlahan cita-cita Indonesia mengenai pendidikan tidak lagi menjadi mitos.

(Sulastri Dwi Lindaningsih/kader LPM Pilar Demokrasi 2016/2017)

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *