Asuransi nama yang tidak asing di telinga publik, sebagian besar masyarakat Indonesia memakai asuransi untuk membantu kelancaran kehidupannya. Seperti yang kita tahu juga, di Indonesia sendiri terdapat dua sistem asuransi, yaitu asuransi konvesional dan asuransi syariah. Namun, hampir seluruh masyarakat “Islam“ khususnya di Indonesia kurang mengetahui, apa asuransi syariah itu sendiri? memberikan keuntungan apa ke masyarakat? Serta apa yang menyebabkan masyarakat non-muslim, bahkan tertarik untuk bergabung di asuransi syariah?

Sebagian kecil masyarakat mungkin tahu itu, bahkan mungkin ada yang mengganggap itu semua tidak penting. Tentunya, di tulisan singkat ini, penulis akan mendeskripsikan sedikit terkait asuransi syariah, dan penyebab masyarakat non-muslim tertarik dengan asuransi syariah, agar tidak terjadi keganjalan dan kebinggunggan.

Baiklah, pertama, apa itu asuransi syariah dan asuransi konvesional? penulis akan menjelaskan secara sederhana,  seperti yang terdapat dalam sebuah buku yang ditulis oleh Abdullah Amrin, SE., MM. yang berjudul “Meraih berkah melalui Asuransi syariah ditinjau dari Perbandingan dengan Asuransi Konvesional.”

Dijelaskan bahwa asuransi syariah adalah “suatu bentuk kegiatan yang saling memikul risiko di antara sesama manusia, sehingga antara satu dengan lainnya menjadi penanggung atas risiko lainnya.” Dapat disimpulkan, bahwa saling memikul risiko itu didasarkan atas dasar saling tolong-menolong dalam kebaikan, dan atas dasar prinsip syariat yang saling toleran terhadap sesama manusia untuk menjalin kebersamaan dalam meringankan bencana yang dialami peserta atau nasabah..

Dalam Fatwa DSN MUI, asuransi syariah itu bersifat saling melindungi dan tolong-menolong, yang dikenal dengan istilah “ta’awun” yaitu prinsip saling melindungi dan saling menolong atas dasar ukhuwah islamiyah antar sesama anggota peserta asuransi syariah dalam menghadapi bencana.

Sedangkan, asuransi konvesional tidak jauh berbeda dengan asuransi syariah, yaitu salah satu bentuk pengendalian risiko yang dilakukan dengan dengan cara mengalihkan (transfer) risiko dari satu pihak ke pihak lain (dalam hal ini adalah perusahaan asuransi). Maksudnya, pihak asuransi akan siap mengendalikan dan mengalihkan setiap kerugian (risiko) yang didapati dari bencana, seperti kebakaran, kecelakaan dll, yang terjadi pada nasabah dengan mengalihkan risiko bencana tersebut kepada pihaknya (perusahaan asuransi), untuk meringankan risiko yang dialami nasabah.

Dalam Pasal 246 kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD), asuransi konvesional itu suatu “perjanjian dengan mana seorang penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung, dengan menerima suatu premi, untuk penggantian kepadanya karena suatu kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tidak tentu.”

Bisa kita lihat perbedaan yang paling mendasar dari kedua asuransi tersebut, yaitu dari prinsipnya. Asuransi syariah sendiri menerapkan prinsip syariah yang sesuai dengan tuntunan islam atau syariat islam, di konvesional lebih kepada  prinsip menguntungkan dan umum.

Kedua, apa saja keuntungan dan manfaat dari asuransi syariah dan konvesional ?

Manfaat atau keuntunggan dalam asuransi syariah dapat kita jabarkan dalam beberapa nilai, yaitu keadilan, tolong menolong, menghindari riba (bunga), kejujuran, bertanggung jawab, amanah, menjalankan berdasarkan tauhid. Dari nilai-nilai ini, munculah jiwa seorang syariah marketer yang meyakini bahwa hukum-hukum syariat yang teistis atau bersifat ketuhanan adalah yang paling adil, paling mampu mewujudkan kebenaran, memusnahkan kebatilan dan menyebarluaskan kemaslahatan, dan tercipta kemashlahatan yang memberikan keuntungan bukan hanya dunia tapi juga akhirat.

Disisi lain manfaat atau keuntungan dalam asuransi konvesional juga memiliki beberapa nilai yang membantu terbentuknya atau terciptanya keuntungan, yaitu kejujuran, bertanggung jawab, kontribusi, hukum yang berlaku. Kita tarik kesimpulan, bahwa manfaat dapat diperoleh melalui adanya hak dan kewajiban, munculnya rasa berkewajiban untuk  memberikan  tanggung jawab, serta memperoleh keuntungan di beberapa pihak dan bersifat duniawi.

Jika kita perhatikan dari beberapa nilai asuransi syariah dan asuransi konvesional, terlihat jelas perbedaan yang membuat asuransi syariah lebih menjamin kemashlahatan umat banyak. Hampir sebagian masyakarakat non-muslim di Indonesia tertarik dengan asuransi syariah, karena asuransi syariah sendiri membawa kemashlahatan secara langsung maupun tidak langsung. Sedangkan, konvensional hanya memikirkan satu pihak, dan tidak begitu memikirkan kemaslahatan umat dalam jangka panjang.

Ketiga, Apa yang menyebabkan non-muslim mau menjadi nasabah asuransi syariah? Inilah pertanyaan inti dari judul di atas. Dari nalar saja hal ini mungkin menjadi kurang begitu masuk akal, seorang non-muslim tertarik dengan asuransi yang jelas-jelas mengikuti syariat islam. Padahal dalam banyak hal mereka sulit menerima ketentuan-ketentuan dalam islam. Tentu saja ada sesuatu yang menarik minat mereka di sana.

Dalam penelitian yang dilakukan Winny Rahmawati-seorang mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah jurusan Ekonomi Islam-terhadap AJB Bumiputera Syariah (lembaga asuransi) mengenai alasan di balik ketertarikan nasabah non-muslim kepada asuransi syariah. Winny menuturkan sebagian besar alasan nasabah non-muslim memutuskan menjadi nasabah dalam asuransi syariah karena ketertarikannya dengan investasi dana tabbaru’ yang menurut mereka sangat transparan.

Contoh pada nasabah yang berasal dari pulau bali mayoritas memeluk agama hindu, mereka memilih produk asuransi Mitra Amanah Plus. Alasan mereka memilihnya, lantaran produk ini tidak hanya mengandung proteksi kesehatan, namun mendapatkan tambahan unsur investasi pula, yang dapat menjamin hidup seorang pada waktu yang tak terduga.

Masyarakat Indonesia; mayoritas muslim, namun kebanyakan dari mereka masih binggung dengan adanya asuransi syariah ini, minat masyarakat muslim juga sedikit. Hal ini dikarenakan masyarakat muslim masih belum mengetahui tujuan dari asuransi syariah, serta nilai-nilai yang diterapkan para pemasar/marketer.

(Hani Syahidah/Kader LPM Pilar Demokrasi 2016)

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *