“Pendidikan cenderung berpijak pada kebutuhan pragmatis, atau kebutuhan pasar lapangan kerja, sehingga ruh pendidikan islam sebagai pondasi budaya, moralitas, dan social movement (gerakan sosial) menjadi hilang.”

Pendidikan Islam menjadi satu dalam pendidikan nasional, tetapi predikat keterbelakangan dan kemunduran tetap melekat padanya, bahkan pendidikan islam sering dinobatkan hanya untuk kepentingan orang-orang tidak mampu atau miskin, memproduk orang yang eksklusif dan fanatik. Karena pada kenyataannya beberapa lembaga pendidikan Islam dianggap sebagai tempat berasalnya kelompok tersebut. Walaupun anggapan ini keliru dan dapat ditolak, sebab tidak ada lembaga-lembaga Islam yang bertujuan memproduk kelompok-kelompok tersebut.
Orientasi pendidikan, sebagaimana yang dicita-citakan secara nasional, barangkali dalam konteks era sekarang ini menjadi tidak menentu, atau kabur kehilangan orientasi mengingat adanya tuntutan pola kehidupan pragmatis dalam masyarakat Indonesia. Hal ini patut untuk dikritisi bahwa globalisasi bukan semata mendatangkan efek positif dengan kemudahan yang ada, akan tetapi berbagai tuntutan kehidupan yang disebabkan olehnya menjadikan disorientasi pendidikan. Pendidikan cenderung berpijak pada kebutuhan pragmatis, atau kebutuhan pasar lapangan kerja, sehingga ruh pendidikan islam sebagai pondasi budaya, moralitas, dan social movement (gerakan sosial) menjadi hilang.
Pendidikan Islam mempunyai sejarah yang panjang dalam perkembangannya, terutama pendidikan islam di Indonesia telah mengalami pasang surut yang kerap terkait dengan situasi dan kondisi sosial, budaya, politik, ekonomi dan bahkan ortodoksi islam. Pendidikan secara umum menghadapi masalah-masalah berat, namun ia berhasil menghadapi perubahan yang terjadi setelah Indonesia meraih kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Tidak hanya pendidikan Islam mengalami perluasan pada periode pasca-kemerdekaan, tetapi juga madrasah dan pesantren pelan-pelan mengalami konsolidasi. Senada dengan hal tersebut dalam menghadapi perubahan zaman yang terus berkembang, pendidikan Islam telah memberikan berbagai respons pembaharuan (modernisasi). Perlunya pendidikan Islam untuk merevisi kembali, baik dalam bentuk strategi maupun dalam hal lain, diikuti dengan berdirinya lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam, yang dikenal dengan IAN (Institut Agama Islam Negeri), mulanya di Jakarta dan Yogyakarta, pada 1960-an menjelang 1970-an, di hampir setiap ibu kota provinsi di Indonesia.
Dilihat dari kesejarahannya sejak tahun 1980-an pendidikan Islam sedang menghadapi dua tantangan, yakni pertama, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi-informasi sebagaimana kata Alvin Toffler, dalam bukunya The Trird Wave (1980). Kedua, umat Islam sedang/akan mengalami suatu krisis kader ulama di masyarakat. Di dalam masyarakat Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim seperti ini, kedua aspek ini ibarat sekeping mata uang yang sulit dipisahkan dari tujuan pendidikan Islam.
Di samping masalah pertama dan kedua, juga karena rasa keprihatinan terhadap mutu pendidikan Islam yang rata-tara masih rendah. Opini lama yang sempat muncul ke permukaan adalah banyaknya orang tua muslim yang tidak percaya kepada sekolah Islam. Sehingga mereka banyak yang menyekolahkan anaknya ke sekolah-sekolah Misionaris, baik Katolik maupun Protestan, yang sejak aman Belanda telah dan hingga sekarang masih dikenal dengan kualitasnya yang baik. Melalui keprihatinan inilah akhirnya banyak pihak untuk mengusulkan supaya pendidikan Islam mendirikan sebuah sekolah unggulan Islam.
Dalam perspektif ekonomi dan sosiologis, munculnya sekolah unggulan Islam diharapkan dapat menjawab berbagai persoalan yang tengah dihadapi oleh internal umat Islam sendiri yakni keprihatinan terhadap mutu pendidikan Islam yang rendah dan sekaligus memberi solusi terhadap tantangan Iptek dan Imtak. Sebagai sekolah Elit, mereka kebanyakan merebak di daerah perkotaan. Dan jika dilihat dari kaca mata ekonomi dan sosiologi, sekolah Elit memang pangsa pasarnya adalah anak-anak dari orang tua yang taraf penghidupannya sudah relatif mapan. Sehingga hubungan antara sekolah unggulan Islam dengan masyarakat terdapat titik kesamaan yaitu unsur budaya kelas tinggi.
Secara finansial, sekolah unggulan Islam relatif mahal, hanya terjangkau bagi masyarakat kelas menengah ke atas. Secara sosiologis hal ini ada korelasi mengapa sekolah unggulan Islam itu tergolong cepat berkembang dan membanggakan, karena secara finansial bagi sekolah unggulan Islam tidak lagi ada masalah. Sebut saja misalnya; Sekolah Al-azhar yang berada di Kawasan Kebayoran Baru, Lembaga Pendidikan Islamic Village berada di Tangerang, SMU Madaniah berada di Parung Bogor, Sekolah Pendidikan Pelita Harapan di Tangerang, SMA Darul Ulum di Jombang, MIN Malang dan seterusnya.
Pendidikan Islam saat ini sudah berada pada titik terakhir kebangkitan. Oleh sebab itu selaku para generasi penerus bangsa agar supaya memajukan pendidikan Islam yang dahulu pernah jaya pada masa keemasan dan berupaya menerapkannya kembali dalam sistem pendidikan Islam di Indonesia tidak mati sungguhan.
Kehadiran sekolah terpadu yang dikembangkan ke arah pemaduan sistem sekolah dan pesantren untuk mencapai keunggulan, baik pada aspek akademik, non akademik maupun karakter kepribadian Islam yang kuat, kokoh dan mantap dalam diri peserta didik, merupakan salah satu jawaban alternatif terhadap berbagai tantangan tersebut.
Oleh karena itu mengingat pentingnya pendidikan Islam terutama bagi generasi muda, semua elemen bangsa terutaama para akademisi pendidikan Islam, perlu membumikan kembali pendidikan Islam di lembaga-lembaga pendidikan baik formal maupun informal. (Abdul Ghafur/Kader LPM Pilar Demokrasi, mahasiswa PAI 2015)

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *