Harian Kompas pada tanggal 09-03-2017, memuat berita makin meningkatnya perkembangan mahasiswa yang berpaham radikal. Di berita tersebut juga dipaparkan hasil kajian yang dilakukan oleh Kapolri, Jendral Tito Karnavian, bahwa banyak ditemukan mahasiswa terlibat kelompok radikal. Umumnya mahasiswa jurusan sains, seperti fisika dan kimia.

Sebagai mahasiswa, membaca berita ini, saya tak terkejut apalagi kaget. Karena memang faktanya mahasiswa yang berpaham radikal itu ada dan nyata. Seperti halnya beberapa waktu lalu, ketika pesantren disinyalir menjadi tempat peredaran dan konsumsi narkoba, saya juga tidak kaget, karena memang faktanya ada segelintir pesantren yang terbukti demikian.

Tentu di tulisan singkat ini, saya tak akan membahas apa itu radikal & radikalisme. Pembahasan mengenai definisi radikal sudah banyak dibahas oleh para pakar. Saya lebih tertarik menjawab pertanyaan ini; kenapa mahasiswa cenderung mudah menjadi radikal atau mengikuti kelompok radikalisme? Atau lebih simpelnya, kenapa mahasiswa bisa radikal?

Baiklah, mari kita bahas secara sederhana saja. Sepengetahuan saya dari pengamatan sederhana setidaknya bisa dilihat dari fenomena berikut ini:

Pertama, semakin menguatnya pengaruh kelompok Islam baru seperti HTI, Salafi-Wahabi, dan kelompok Tarbiyah Ikhwanul Muslimin. Kelompok ini menguasai diskursus keagamaan di kampus melalui kajian, seminar, dan rekrutmen kader yang sangat intensif.

Sengaja, beberapa kali saya mengikuti kajian (Halaqoh) yang diadakan oleh mereka. Dari itu saya tahu, piawainya mereka menumbuhkan militansi dan ideologi mahasiswa dengan isu perlawanan terhadap barat, pemimpin taghut, dan isu-isu pendirian khilafah.

Pada titik tertentu, kelompok ini telah menggeser paham keagamaan mahasiswa ke arah radikalisme-fundamentalisme, literal-tertutup, eksklusif mutlak, fanatik, dan sinis terhadap kelompok lain yang berbeda paham.

Mahasiswa yang baru mengenal diskursus keagamaan di dunia kampus, sengaja mereka dekati untuk kemudian mulai diajak mengikuti kegiatan yang mereka gelar. Agar ajakannya mudah diterima, tema-tema yang dibahas biasanya tema umum seperti sejarah Nabi, sejarah Sahabat, mengenang masa kejayaan islam, shalat berjamaah, dan lain sebagainya.

Namun, pada tahap selanjutnya ketika secara emosional mereka dekat, mahasiswa ini mulai diasupi dengan paham yang anti pancasila, anti demokrasi, anti tradisi, anti ziarah kubur, mudah men-judge orang yg tidak sepaham dengan sebutan bid’ah, kafir, masuk neraka, dan paham-paham rigid lain. Sehingga, mahasiswa yang semestinya bisa merespon perbedaan cara pandang kegamaan dengan baik, malah dipertentangkan dan sulit menerima perbedaan. Fenomena ini sungguh sangat miris sekali.

Kedua, Tidak sanggupnya organisasi Islam yg sudah ada, seperti HMI dan PMII, bertarung dalam diskursus keagamaan dengan kelompok pertama tadi. Kelompok pertama cenderung sulit “bersatu” dengan kelompok kedua ini, karena memang kedua kubu ini berada di dua kutub yang berbeda. Pertama cenderung kaku fundamental, sedangkan yang kedua cenderung toleran-liberal kebablasan (Ingat, tidak semua). Ada yang terlalu “nyegoro”, bahkan sampai kelelep saking nyegoronya. Adapula ‘sumbu pendek’ yg digesek dikit aja terbakar.

Maka benar apa yang disebut di dalam sebuah kalam hikmah berikut ini:

الناس بين طرفين النقيض

Artinya, orang-orang di zaman ini berada di antara dua kutub yang berbeda. Ada yang terlalu liberal, adapula yang terlalu radikal.

Menjadi mahasiswa yang tawasut alias di tengah-tengah, tidak ekstrim kanan atau kiri, membutuhkan wawasan. Membutuhkan ilmu. Membutuhkan proses pembelajaran yang kontinu. Sedangkan untuk sekedar menjadi radikal tak seribet itu, cukup modal al-Quran terjemah, Hadis terjemah, google, dan grup whats app kegamaan sudah bisa membid’ahkan & mengafirkan orang lain.

Untuk menjadi liberal juga tak terlalu sulit, cukup berwacana LGBT boleh, al-Quran expired, Hadis perlu dirombak, dan sebagainya, kalian sudah dicap sebagai liberal. Namun, untuk menjadi orang yang berada di tengah-tengah antara keduanya, mutlak membutuhkan ilmu.

Terakhir ketiga, kurang pedulinya para petinggi kampus terhadap perkembangan organisasi keagamaan di kampusnya. Sebagian kampus bahkan ada yang memberikan ruang selebar-lebarnya terhadap kelompok radikal-fundamentalis ini. Terutama di kegiatan wawasan keagamaan bagi mahasiswa baru. Fenomena ini patut disesalkan. Sebab, jika gejala radikalisme agama ini tidak sedari dini diantisipasi, maka yang suatu saat nanti mendapat ekses negatif bukan hanya dosen, kampus, tapi juga negara kita tercinta ini.

Memang radikalisme tidak lantas identik dengan terorisme, tapi meminjam bahasa Rizal Sukma (2004), “Radicalism is only one step short of terorism”. Karenanya, bibit tumbuhnya radikalisme dari dunia kampus ini perlu dicarikan solusi. Diantaranya dengan menyemarakkan dialog lintas sektoral di internal kampus terkait dengan isu-isu aktual maupun yg sensitif di dalam agama.

(Zain Rusdy/kader LPM Pilar Demokrasi 2016) 

 

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *