Ia sebuah logam, berbentuk pipih-melingkar, memiliki dua sisi yang tidak bisa dipisahkan. Sering kita dapati mereka tak saling berkaitan. Tengoklah uang logam lima Real Yaman, satu sisi hanya berupa angka lima-dalam alfabetis Arab. Dan di sisi lain, ia hanya gambar bangunan, kosong tanpa bisa kita pahami makna hakikinya. Tapi, tak jarang juga kita temui kedua sisi pada uang logam lain yang serasi dalam satu kesatuan tema. Saling melengkapi, saling menggambarkan.

Sejatinya bukan sebuah masalah manakala kita tidak bisa membedakan  identitas pada kedua sisi tersebut. Apakah mereka serasi atau tidak? namun akan menjadi sebuah problema yang sangat besar. Jika analogi ini, dibawa pada skala yang jauh lebih luas. Dua objek dengan dua pendapat. Satu pendapat menganggap kedua objek saling berlawanan; kontradiktif dan tak saling berkaitan, sementara pendapat lain menganggap keduanya serasi; sependapat dan satu kesatuan.

Apa yang disampaikan ustadz Abu Bakr Ba’asyir dalam sebuah catatan yang dinukil oleh Irwan Masduq dalam bukunya “Berislam Secara Toleran”, merupakan sebuah deskripsi real, dua sisi uang logam yang tidak saling akur. Ia secara gamblang menyampaikan bahwa demokrasi, nasionalisme, dan sekulerisme merupakan paham-paham syirik yang bertentangan dengan ajaran agama dan syari’at Islam.

Pandangan kontradiksi antara nasionalisme dan syariat Islam sebenarnya bukanlah hal yang baru dalam perkembangan zaman. Di awal abad kedua puluh, Assayid Abul Ala’ Al maududi-seorang ulama dan pendiri gerakan jamaat e-Islami di Pakistan-menyampaikan sebuah argumentasi yang cukup rasional dalam pembahasan ini.

Ia menganggap ideologi sebagai sebuah kerangka-pandangan Islam. Karenanya, tidak ada nasionalisme dalam Islam, sebab Islam bersifat universal bagi seluruh umat manusia. Tidak ada kotak-kotak batasan tempat kelahiran sebagaimana yang menjadi dasar pemikiran lahirnya nasionalisme.

Nasionalisme juga, membuat orang bersikap fanatik buta. Persaudaraan se-iman yang sudah didengungkan Islam sejak awal kemunculannya, seperti tidak ada harganya. Semua sibuk mengurusi daerahnya sendiri. Dikhawatirkan akan muncul sebuah paradigma mengerikan yang memandang lebih baik mengurus penduduk wilayahnya yang non-muslim daripada sesama muslim di wilayah lain.

Landasan yang seringkali diinterpretasikan ke arah ini adalah perintah Allah dalam surah al-Baqoroh ayat 208. Allah memerintahkan kepada orang beriman untuk masuk ke dalam agama Islam secara total (udzhulu fial-silmi kaffah).

Lafal al-silmi yang merupakan bentuk masdar dari sa-la-ma dan memiliki makna etimologi menyerahkan, diartikan dengan Islam sebagai sebuah sistem yang total. Sehingga, semua orang Islam harus berada dalam satu naungan yang tidak dibatasi oleh wilayah tertentu.

Namun seperti dua buah uang logam. Kedua sisi dari logam pertama saling bertentangan sedangkan logam kedua sebaliknya. Di sinilah tugas kita, membedakan di antara keduanya, mana yang berlawanan dan mana yang harmoni beriringan.

Prof. Ridwan Lubis dan Muhamad Hisyam dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam jilid lima menuturkan, Islam sebenarnya tidak menafikan setiap orang mempunyai afiliasi terhadap tanah air tertentu. Hal ini dikarenakan sudah menjadi tabiat umum yang wajar bagi manusia untuk bersikap demikian.

Pendapat ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldun, seorang sejarawan muslim ulung dengan maha karyanya “mukaddimah”. Ia mengemukakan gagasan bahwa nasionalisme atau rasa cinta terhadap tanah air lahir dari sebuah fanatisme yang disebut dengan istilah Ashabiyah dalam bahasa Arab. Istilah ini memiliki makna dengan lafal usbatun dalam potongan ayat “nahnu ushbatun” pada surat Yusuf ayat ke-14 yang menceritakan bujuk-rayu putra Ya’qub A.S. untuk membawa Yusuf muda ikut dalam perburuan mereka di hutan.

Usbatun sendiri memiliki makna perasaan satu ras, satu darah, dan satu golongan. Dalam ilmu Mantiq, dikenal sebuah kaidah yang berbunyi “musawi musawi syai’, musyawin lahu li dzalika syai’” yang kurang lebih memiliki arti, bahwa sesuatu yang menyamai sesuatu yang menyerupai sesuatu (yang lain), maka ia (yang pertama) menyerupai sesuatu (yang ketiga) tersebut. Dengan demikian, definisi usbatun dapat diterapkan pada makna kata ashabiah sebagaimana yang sudah disebutkan di atas.

Seiring berjalannya waktu, cakupan makna Ashabiyah menjadi lebih global dari sebelumnya. Ia mencakup perasaan satu kelompok atau solidaritas sosial yang timbul secara alamiyah dalam kehidupan manusia karena adanya suatu ikatan tertentu. Pada umumnya, ikatan tersebut berasal dari ikatan sejarah panjang yang menyeragamkan nasib dan status sosial mereka. Seperti Indonesia, sejarah panjang penjajahan Belanda membuat masyarakat pribumi merasa senasib dan seperjuangan dibanding masyarakat satu ras seperti Melayu yang pada akhirnya membentuk satu negara sendiri.

Alquran sendiri secara tersirat mengisahkan sebuah suri tauladan sikap nasionalisme lewat diri Nabi Ibrahim A.S. Suatu ketika, di tengah-tengah gurun pasir tak berpenduduk, Nabi tiga agama ini mengucapkan sebuah doa untuk meminta pada Tuhannya. “Tuhanku, jadikanlah negeri ini suatu negeri yang aman. Dan berikanlah rezeki kepada penduduknya dari buah-buahan bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.” (Al-baqoroh: 126).

Kenyataannya doa ini tidak hanya diucapkan sekali. Alquran merekamnya sebanyak dua kali dengan redaksional kata yang hampir mirip. Menukil pendapat Imam Fakhruddin Arrozi dalam tafsirnya-mafatihul ghoib-disebutkan bahwa desa (dalam redaksi quran disebut balad) pada ayat al-Baqoroh ayat 126 di atas, memiliki sifat umum dan berada dalam kondisi yang disebut sebagai nakiroh. Hal ini menggambarkan, Nabi Ibrahim berdoa pada saat kondisi belum terbentuknya negeri tersebut. Semua lahannya masih kosong tidak berpenduduk.

Pada ayat lain, Nabi Ibrahim mengulangi doanya. Namun, doanya kali ini menyebutkan lafal balad beriringan dengan huruf alif lam. Sehingga ia berada dalam kondisi yang disebut ma’rifah, yaitu sebuah kondisi yang di mana sudah diketahui objeknya. Dengan begitu, dapat digambarkan doa tersebut diucapkan pasca terbentuknya negara yang tengah ia doakan.

Sementara itu, KH. Abdurrahman Wahid dalam bukunya “Islamku, Islam anda dan Islam kita” memberikan jawaban mengenai interpretasi surat al-Baqoroh ayat 208. Menurutnya, penafsiran Islam kafah sebagai sebuah sistem hanya diikuti oleh sedikit dari umat Islam. Mayoritas kaum muslimin memegang makna Islam sebagai pengayom. Kitab suci meminta kita bertindak untuk melindungi dan menghormati semua orang berikut pandangannya, tak terkecuali golongan non-muslim.

Pun demikian, apa yang dikhawatirkan oleh mereka, seperti hilangnya rasa persaudaraan antara sesama muslim secara luas, sikap fanatik orang, dan sikap mengedepankan masyarakat non-muslim dibanding muslim sebenarnya dapat dipatahkan dengan analogi sederhana.

Bila terjadi kebakaran di rumah kita, wajarnya orang yang pertama kali menolong kita adalah tetangga dekat kita meskipun mereka dari golongan non-muslim. Jika kita memilah-milih orang yang akan menolong, maka bisa jadi tidak akan ada lagi yang tersisa dari harta benda di rumah kita. Maka di sinilah eksistensi sesungguhnya dari nasionalisme guna meleburkan sensitifitas ras, suku serta agama.

Seperti sebuah uang logam yang kedua sisinya begitu jelas memiliki hubungan, nasionalisme dan Islam dewasa ini merupakan representasi daripadanya. Heterogennya masyarakat yang tumbuh bersama, hilangnya eksklusivitas satu golongan serta perkembangan zaman, mau tidak mau membentuk masyarakat yang memiliki ragam corak dan latar belakang. Nasionalisme dan Islam, dua buah payung yang menaungi keberagaman itu lewat toleransi yang digambarkan oleh keduanya.

(Muhammad Shodiq Masrur/Mahasiswa rogram studi Pendidikan Agama Islam FIAI UII)

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *