Berubahnya zaman menuju era millenium membawa banyak sekali perubahan dalam kehidupan manusia, termasuk dalam urusan informasi. Kehadiran alat komunikasi dan internet, kini memberikan pengaruh sangat besar terhadap kemajuan penyebaran berita di masyarakat. Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, satu berita mampu menembus ratusan bahkan jutaan kilometer jauhnya dari tempat berita dimuat. Ini tentu berita baik bagi kemajuan literasi di masyarakat.

Namun sebagaimana cahaya yang selalu meninggalkan bayangan, ada sisi gelap yang kini mulai menjalar dan menginfeksi pemikiran masyarakat, khususnya bagi remaja dan dewasa selaku pengguna internet terbanyak. Jutaan berita dapat disiarkan setiap harinya secara bebas tanpa ada filter yang kuat, ini yang membuka banyak ruang bagi masuknya berita-berita palsu dalam pemikiran masyarakat.

Tujuannya jelas, penggorengan isu dan berita palsu oleh oknum-oknum yang tak bertanggung jawab demi mendapatkan manfaat tertentu secara instan. Bila ingin melihat bagaimana berita hoaks itu menyebar dan bekerja secara nyata, maka simak dengan baik ketika pemilhan-pemilihan kepala daerah sedang berlangsung, dapat kita saksikan bagaimana fitnah terjadi silih berganti. Begitu mudahnya suatu berita dimodifikasi sedemikian rupa untuk menimbulkan kecintaan atau menebar kebencian antara satu dengan lainnya. Contoh tersebut hanya satu dari sekian banyak model hoaks yang terjadi di masyarakat, penyebaran paham radikal, penulisan isu palsu yang menarik demi mendapatkan uang, dan kesengajaan penghancuran nama baik orang tertentu menjadi variasi asal muasal datangnya berita hoaks.

Penyebaran berita hoaks bukan hanya sebuah ketidaksengajaan atas ketidaktahuan, tapi justru disengaja dan diperbanyak, bahkan sampai pada level munculnya website-website dan akun-akun media social (medsos) yang khusus untuk memproduksi berita hoaks. Menurut data dari kominfo.go.id, pada tahun 2016 kurang lebih terdapat 300-an akun medsos yang diblokir polisi karena menjadi akun penyebar hoaks. Tentu saja dapat diyakini bahwa akun medsos yang memproduksi berita hoaks jauh lebih besar dari apa yang telah diblokir oleh polisi.

Namun, sayangnya sampai saat ini hoaks masih belum dianggap sebagai sesuatu yang darurat. Khususnya bagi pengguna internet, inilah yang menyebabkan begitu mudahnya pengguna internet termakan berita hoaks, karena tidak menyadari betapa bahayanya berita hoaks ini. Tidak tanggung-tanggung berita hoaks dalam tingkatan tertentu bisa mengguncang stabilitas keamanan Negara. Tentu saja kita tidak berpikir ini berlebihan, dapat kita saksikan bagaimana berita saling mengadu domba antara petinggi-petinggi negara, yang menyebabkan kekacauan politik dan panasnya pendukung dari kedua kubu yang sedang diadu domba.

Tentu saja kehadiran berita hoaks menjadi ancaman mendalam yang tak bisa dibiarkan begitu saja. Terlebih kini internet bukan hanya dapat diakses oleh orang dewasa, namun, juga anak-anak dan remaja yang tak memiliki bekal pemahaman untuk dapat menyaring berita hoaks.

Lantas, sekarang dalam keadaan seperti ini siapa yang harus bertanggung jawab? siapa yang harus disalahkan? apakah pemerintah ataukah masyarakat? atau justru pengguna internet itu sendiri? hal ini mungkin dapat kita jawab bahwa pemberantasan penyebaran berita hoaks adalah tanggung jawab bersama, kesalahan bersama. Lagipula apa gunanya saling menyalahkan, seperti kata orang bijak, “menegakan kebenaran bukan mencari kesalahan”.

Pemerintah kini telah menetapkan dan memberlakukan UU ITE yang melarang pengguna internet untuk menyakiti orang lain dengan tulisannya. Namun, ternyata undang-undang ITE belum dapat sepenuhnya menghentikan laju arus penyebaran hoaks di masyarakat. Beberapa penyebabnya adalah ketidaktahuan masyarakat terhadap pemberlakuan Undang-Undang ITE itu sendiri, dilain sisi bagi orang yang pernah mendengar UU ITE, masih sering mengkonotasikan bahwa UU tersebut hanya terbatas pada bullying melalui media sosial saja, tidak sampai pada pemahaman pembatasan berita hoaks.

Untuk menangani hal ini dibutuhkan sosialisasi segencar-gencarnya guna menginfokan lebih rinci terkait UU ITE yang telah diterapkan. Tidak cukup sampai di situ, dari masyarakat sendiri selaku konsumen berita harus mampu mengendalikan diri dan tak mudah terbakar provokasi lantaran berita-berita hoaks, serta harus bisa sebijak mungkin menggunakan internet dan media, dengan tidak mudah meng“klik” suatu berita yang kontroversional. Sebab pendapatan penghasil hoaks adalah terhitung dari banyaknya orang yang membaca beritanya. Akhir kata, pada intinya kita semua sebagai kesatuan komponen Negara dan keluarga harus bersatu padu untuk mengibarkan bendera perlawanan terhadap berita hoaks.

(Khairul Amar/Kader LPM Pilar Demokrasi 2016)

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *