Sebagian besar mahasiswa yang ada di lingkungan Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII), mungkin tidak begitu mengetahui istilah Dimas Diajeng. Terutama mahasiswa yang sebentar lagi menginjak masa wisuda, karena istilah ini memang baru mulai di populerkan dua (2) tahun yang lalu. Tepatnya pada angkatan 2015 dan 2016 saja.

Banyak di antara kalangan mahasiswa yang notabene nya adalah mahasiswa lama, yang hampir menyelesaikan perkuliahannya merasa asing mendengar istilah Dimas Diajeng. Karena memang yang mereka ketahui adalah Ketua dan Wakil Ketua Angkatan, bukan Dimas Diajeng.

Dimas Diajeng atau Ketua dan Wakil Ketua Angkatan seolah-olah menjadi sosok yang begitu penting dan menjelma menjadi bagian yang wajib ada di setiap angkatan. Bahkan semua angkatan memiliki Dimas Diajeng. Meski demikian, ada sebagian mahasiswa yang tidak mengetahui siapa Dimas Diajengnya. Sebab pengaruh dari adanya Dimas Diajeng, juga tidak begitu terlihat.

Sampai dengan sekarang ini, belum ada kejelasan mengenai peran dan fungsi yang konkret dari Dimas Diajeng (Ketua dan Wakil Ketua Angkatan). Sehingga banyak di kalangan mahasiswa yang memendam tanya dan tak sedikit yang berfikiran negatif dari sosok Dimas Diajeng. Lebih mirisnya lagi, ada oknum mahasiswa yang beranggapan sosok Dimas Diajeng cuma sebatas maskot angkatan saja dan hanya untuk mengikuti formalitas yang sudah ada.

Faktanya, setelah ditetapkannya Dimas Diajeng terpilih, yang seharusnya menjadi titik awal untuk meluncurkan setiap visi dan misi yang telah di gagasnya. Justru sebaliknya, mereka menghilang dan vakum dari jabatanya, tanpa ada kabar dan berita. Akan tetapi, yang membuat banyak pihak bertanya-tanya adalah keterlibatan Dimas Diajeng di event yang diselenggarakan oleh lembaga elit mahasiswa.

Event yang di adakan oleh lembaga elit mahasiswa, inilah yang sontak menjadi awal kebangkitan Dimas Diajeng setelah beberapa waktu vakum dari jabatannya. Lantas di sinilah mereka begitu menonjol perannya. Sebagai juru promosi dan penyukses bagi event yang diadakan.

Sebut saja, event yang baru selesai belakangan ini, yaitu Inauguration Sport and Art FIAI Event, yang kemudian di kenal dengan sebutan ISAFE. Pada acara yang berlangsung sekali dalam setahun ini, Dimas Diajeng FIAI 2016 memiliki peran sebagai mediator antara mahasiswa dengan panitia, di samping itu mereka sendiri juga panitia.

Langkah strategis yang mereka lakukan untuk menyukseskan ISAFE, salah satunya dengan mengumpulkan Ketua Jurusan yang menjadi bawahannya untuk mempromosikan ISAFE dan menghimbau Ketua Jurusan untuk menghimpun mahasiswa pada tiap lomba yang di selenggarakan dalam acara tersebut.

Apakah ini dapat disebut sebagai penyalahgunaan jabatan? Menurut penulis, iya, karena mereka menaruh kepentingannya sebagai panitia dalam kapasitasnya sebagai Ketua dan Wakil Ketua Angkatan. Sebetulnya tak mengapa jika mereka secara tidak langsung ikut andil dalam menyukseskan ISAFE selama visi dan misinya juga terlaksana.

Perlu pembaca menggaris bawahi kalimat “secara tidak langsung” dan “visi dan misinya juga terlaksana”. Untuk mempermudah penulis akan memberi contoh konkret. Pada waktu ISAFE kemarin, Ketua dan Wakil Ketua Jurusan hukum islam 2016 memutuskan membentuk tim untuk membantu mahasiswa hukum islam 2016 dalam mengikuti ISAFE, baik dari segi finansial maupun moral (dukungan).

Keputusan tersebut, secara tidak langsung membantu keberlangsungan ISAFE, akan tetapi di sisi lain keputusan ini hadir sebagai bentuk tanggungjawab ketua dan wakil ketua jurusan. Sebab para peserta lomba berjuang atas nama keluarganya (mahasiswa hukum islam 2016), maka sudah selayaknya mereka diberikan uluran tangan.

Di samping itu Ketua dan Wakil Ketua Angkatan tidak boleh tebang pilih dalam membantu agenda-agenda lembaga, karena yang menjadi titik fokus, bukan lembaganya, tapi apakah agenda itu penting untuk rakyatnya?

Salah satu faktor tidak berjalannya visi-misi Dimas Diajeng terpilih adalah ketidaksiapan mereka dalam menjalankan janji-janjinya, karena pemilihan kandidat dilakukan pada hari yang sama. Belum lagi tekanan-tekanan yang hadir dari teman-teman mahasiswa ataupun dari Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). Akibatnya para kandidat maju dengan rasa terpaksa. Seperti yang terjadi pada pemilihan Dimas Diajeng angkatan 2016.

Perbaikan sistem pemilihan merupakan hal yang mutlak dilakukan, mulai dari sosialisasi hingga pemilihan calon kandidat Dimas Diajeng yang harusnya dilakukan jauh-jauh hari sebelum hari pemilihan. Agar hal serupa tidak terulang lagi pada pemilihan yang akan datang.

Selain itu perlu adanya kepastian peran dan fungsi Dimas Diajeng agar peristiwa tarik ulur peran tertentu antar HMJ dengan Dimas Diajeng segera berkahir. Tentu, Lembaga Ekskutif Mahasiswa FIAI selaku inisiator, tak bisa berpaku tangan. Kalau mereka (Dimas Diajeng) hanya menjadi boneka atau budaya tanpa esensi, haruskah dipertahankan?

(Ibnu Habil/kader LPM Pilar Demokrasi 2016)

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *