Ada beberapa teman bertanya kepada penulis, bang, nanti kamu mau jadi apa? Mau jadi hakim atau pengacara? Jujur saja, penulis amat sulit untuk menjawab secara spesifik pertanyaan tersebut. Bukan karena penulis tidak memiliki keinginan atau impian yang ingin dicapai. Tentu saja semua orang memiliki cita-cita yang ingin diraih, memiliki impian yang ingin dicapai, dan memiliki keinginan sebagai pemantik semangat perjuangan.

Memiliki cita-cita itu harus, memiliki target yang ingin dicapai di masa depan juga harus. Orang yang tidak memiliki cita-cita dan keinginan, tak ubahnya binatang; yang penting makan. Hanya saja, terkadang kita dikekang oleh keinginan-keinginan dan target-target yang ingin kita capai di masa depan.

Kita terkadang terlalu fokus terhadap masa depan dan melupakan masa kini. Padahal, masa depan dibentuk oleh masa sekarang. Jika saat ini kita baik, maka di masa depan kita akan baik, bahkan tambah baik. Sebaliknya, jika pada saat ini kita tidak baik, maka kecil kemungkinan di masa depan akan baik. Hari ini menentukan hari esok. Jalani hari ini, hadapi hari esok.

 “Apapun yang Anda lakukan hari ini, akan Anda petik hasilnya di masa depan, kata Ary Ginanjar Agustian. Maka, jika semua yang kita lakukan hari ini akan dibalas di masa depan, lalu kenapa kita khawatir dengan masa depan? Bukankah semestinya yang perlu dikhawatirkan justru masa sekarang? Sudah maksimal atau belum? Ini juga di antara alasan kenapa Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Kerugian yang akan didapat, jika hari ini sama dengan hari kemarin, apalagi lebih buruk!

Kembali pada pertanyaan di atas. Pertanyaan itu muncul bukan tanpa alasan. Penulis mafhum bahwa tidak sedikit dari mahasiswa yang kuliah karena ingin memiliki masa depan yang cerah, memiliki pekerjaan dan penghasilan. Oleh karena itu, tidak sedikit dari mereka yang sebelum kuliah sudah memiliki nama-nama universitas yang diimpikan serta dianggap mampu mewujudkan impian mereka. Maka, tidak mengherankan pertanyaan semacam itu muncul.

Sekarang, apakah hal semacam itu salah? Tentu tidak. Tetapi tidak sepenuhnya benar. Semestinya, kuliah murni untuk belajar bukan untuk mencari pekerjaan. Orang yang kuliah dengan tujuan mencari pekerjaan, sama halnya tidak percaya kepada takdir dan ketentuan Tuhan.

Ketentuan Tuhan itu pasti, karena Ia tidak akan pernah ingkar janji. Imbalan setiap manusia seleras dengan amal perbuatannya. Itu adalah janji Tuhan. Lantas, bagaimana tujuan (niat) kuliah yang benar?

Pertama, murni karena Allah SWT. Niat semacam ini amat penting, sebab orang yang ikhlas kuliah karena Allah swt akan selalu semangat belajar dalam keadaan dan situasi apa pun. Dia juga tidak akan membatasi dirinya di dalam belajar. Dia akan menyenangi semua mata kuliah tanpa membeda-bedakan. Dan yang terpenting dari semua itu adalah dia akan siap menghadapi ketentuan Allah SWT di masa depan.

Kedua, niat menghilangkan kebodohan. Menghilangkan kebodohan adalah tujuan dasar dari setiap orang belajar. Dengan niat menghilangkan kebodohan, kita akan terus belajar dan membaca. Jika tidak tahu, akan bertanya kepada yang tahu. Jika tidak paham, akan terus belajar sampai paham. Kebodohan akan hilang hanya jika sudah paham.

Ketiga, niat menegakkan agama Allah. Dengan niat ini, kita akan selalu mematuhi perintah-Nya di dalam belajar dan juga di dalam aktivitas yang lain. Menghindari pacaran, aktivitas tidak penting, dan semua hal yang dilarang oleh Allah SWT.

Bohong, orang yang kuliah dengan tujuan ingin menegakkan agama Allah, tetapi pada saat kuliah sibuk pacaran atau membuang-buang waktu dengan mengerjakan hal-hal yang sama sekali tidak berguna serta tidak memberikan efek signifikan terhadap perkembangan dirinya.

Alâ kulli hâl, niat dalam hal apapun memiliki peran yang amat fundamental dan signifikan. Niat akan berpengaruh terhadap pola pikir dan cara pandang seseorang. Pola pikir dan cara pandang berpengaruh terhadap tindakan seseorang. Jika pola pikir kita positif, maka tindakan dan sikap kita akan ikut positif. Bagitu pun sebaliknya.

Penulis punya teman, dia sama dengan penulis dan kebanyakan mahasiswa Hukum Islam yang lain. Niat awal datang ke Universitas Islam Indonesia memang bukan untuk masuk ke Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI). Akan tetapi, karena berbagai faktor dia akhirnya memilih masuk ke FIAI.

Setelah masuk ke FIAI, dia tidak begitu semangat di dalam mengikuti perkuliahan. Yang penting hadir. Tidak aktif sama sekali di dalam ruang kuliah. Ini adalah di antara bukti betapa dahsyat pengaruh sebuah niat (tujuan).

So, segala sesuatu itu seleras dengan tujuan (niat) nya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang menjadi tujuannya. Orang yang kuliah dengan tujuan bekerja, maka ia akan mendapatkan pekerjaan dimaksud. Orang yang kuliah murni dengan tujuan mencari ilmu dan menambah pengetahuan, maka ia akan mendapat banyak hal yang tak terhingga dan terduga. Ia akan hidup mulia di dunia dan akhirat. “Wa innamâ likul-limri’in mâ nawâ (setiap orang akan mendapatkan (sesuatu) seleras dengan niatnya), sabda Rasulullah SAW.

(M Nadi el_Madani/Kader LPM Pilar Demokrasi 2016)

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *