“Kesalahan yang disepakati dan diabaikan adalah kebenaran, kesalahan yang dibenarkan terus menerus adalah tradisi yang menyesatkan”

Kekeluargaan dan persaudaraan adalah slogan yang terus digencarkan dan ditanamkan dalam pemikiran mahasiswa baru tahun ajaran 2016-2017 di Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII). Hal ini adalah sebuah kewajaran, bahkan keharusan bagi lembaga yang bersangkutan untuk menciptakan kenyamanan dan peningkatan solidaritas dalam lingkup FIAI UII.

Beberapa carapun ditempuh untuk mewujudkan suasana kekeluargaan dan persaudaraan di FIAI UII. Mulai dari pelaksanaan Ta’aruf Mahasiswa (Tamah), ketika masuknya mahasiswa baru (Maba), hingga pelaksanaan Malam Keakraban (Makrab).

Tentu saja, menjaring peserta dalam pelaksanaan Tamah jauh lebih mudah dibandingkan pelaksanaan Makrab. Sebab maba masih meyakini bahwa Tamah adalah bagian dari rangkaian kegiatan penerimaan mahasiswa baru, sehingga Tamah diikuti oleh hampir seluruh maba di FIAI UII.

Namun, beda persoalan dengan pelaksanaan Makrab. Ini merupakan tantangan yang cukup berat bagi pihak panitia pelaksana dalam menjaring peserta. Terlebih lagi pelaksanaan Makrab berada di tengah-tengah proses perkuliahan. Meskipun peserta Makrab secara otomatis akan terdata kehadirannya, namun nyatanya kelas kuliah tetap berlangsung dengan banyak atau sedikitnya mahasiswa, sehingga mahasiswa yang mengikuti Makrab secara otomatis akan melewatkan pelajaran.

Kenyataan inilah yang menimbulkan polemik dalam diri mahasiswa baru. Sebab disatu sisi mereka ingin mengikuti Makrab, namun di sisi lain mereka membawa amanah untuk kuliah dengan baik. Persoalan-persoalan ini yang membuat penjaringan peserta Makrab semakin rumit bagi panitia pelaksana.

Menghadapi persoalan di atas panitia mengeluarkan peraturan yang menyatakan bahwa bagi maba yang tidak mengikuti Makrab, maka tidak akan memperoleh atau lebih tepatnya akan kehilangan sertifikat Tamah mereka. Tidak cukup sampai di situ, bahkan bagi mereka yang tidak mengikuti Makrab, maka akan dicabut haknya untuk mengikuti kelembagaan di FIAI UII.

Tentu saja, hal ini menjadi pukulan telak bagi mahasiswa baru yang awalnya tidak berkeinginan untuk mengikuti Makrab. Sebab mereka harus kehilangan sertifikat Tamah, meskipun telah mengikuti semua kegiatannya sampai selesai. Dan sekaligus terancam tidak dapat bergabung dalam kelembagaan FIAI. Bisa dikatakan ini sama dengan pengasingan. Padahal di UII kelembagaan adalah suatu hal yang sangat dibutuhkan untuk pengembangan diri.

Sebagai mahasiswa baru yang masih buta akan aturan kelembagaan, tentu saja kebijakan gugurnya sertifikat (Tamah) dan larangan ikut serta dalam kelembagaan (FIAI) tidak akan banyak dipertanyakan. Semuanya dianggap wajar dan lazim.

Jika merunut dari penjelasan panitia pelaksana, Makrab dan Tamah merupakan satu rangkaian acara, sehingga bila tidak mengikuti Makrab maka tidak akan mendapatkan sertifikat Tamah. Sedangkan syarat untuk mengikuti kelembagaan di FIAI adalah sertifikat Tamah dan Makrab. Jadi secara tidak langsung mahasiswa yang tidak mengikuti Makrab akan kehilangan haknya untuk berlembaga.

Namun, bila ditelisik lebih dalam ternyata kebijakan ini cukup kontradiktif dengan slogan yang digaum-gaumkan saat Tamah, yaitu kekeluargaan dan persaudaraan. Bagaimana mungkin sebuah keluarga tega menggugurkan hak anggotanya melalui kebijakan yang dibuatnya sendiri. Lebih dalam lagi bagaimana dengan nasib mahasiswa baru yang benar-benar tidak dapat mengikuti Makrab bukan sebab ia tak mau. Namun, karena keadaan yang memang tidak memungkinkan mereka harus kehilangan sertifikat Tamah yang secara nyata mereka mengikuti prosesinya dari awal hingga akhir.

Belum lagi menghadapi kenyataan akan begitu sarunya penetapan kebijakan ini. Apakah ini benar-benar aturan ataukah ini siasat untuk menjaring peserta baru sebanyak-banyaknya? Bila ini murni aturan, bagaimana bisa satu rangkaian acara dilakukan dalam rentang waktu yang begitu jauh? dan bahkan dengan pembukaan dan penutupan yang berbeda antara satu dengan yang lain. Semuanya masih rancu tanpa ada penjelasan yang jelas dari pihak yang berkaitan. Namun bila hanya sebatas siasat penjaringan peserta, bukankah kebijakan itu terlalu arogan, bahkan nampak kejam untuk sebuah aturan yang ditetapkan terhadap mahasiswa baru yang polos diawal-awal masuk dunia kampus.

Ini semua masih menjadi pertanyaan yang terkubur rapi tanpa ada pertanyaan-pertanyaan menggugat. bila kebijakan ini benar baik, maka mahasiswa baru harus menerima dengan lapang hati. Namun bila nyatanya ini adalah kebatilan, maka sertifikat Tamah adalah hak mahsiswa baru yang telah disamarkan. Hak tetaplah menjadi hak meski terkubur ratusan tahun dengan menunggu pertanggungjawaban yang pantas.

(Khairul Amri/Kader LPM Pilar Demokrasi tahun 2017/2018)

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *