Westernisasi dalam arti harfiah berarti mengikuti atau meniru segala yang ada di dunia Barat. Lifestyle Barat selalu menjadi referensi bagi manusia pada zaman ini, dengan sasaran paling empuknya adalah kaum muda berintelektual atau mahasiswa. Sejatinya, westernisasi dibuat untuk meruntuhkan kepercayaan manusia terhadap Tuhan. Mengambil kutipan dari Dr. Hamid Fahmy, “Westernisasi dan liberal adalah suatu gerakan, suatu proyek yang dimasukkan ke dunia Islam dengan bermacam-macam jenisnya di antaranya; liberalisasi dalam bidang ekonomi, politik, dan dalam pemikiran keagamaan”.

Dampaknya sangat terasa saat ini, mulai dari gaya hidup hingga beberapa pemikiran yang terkadang membawa doktrin jauh dari Tuhan. Westernisasi adalah sebuah kemajuan modern yang sebagian besar diperoleh dari para filsuf barat seperti Nietzsche, Plato, Socrates, Aristoteles, dan lain sebagainya. Kita ambil saja dari perjalanan hidup Nietzsche yang berusaha mencari Tuhan. Nietzsche berusaha untuk “mendatangkan” Tuhan. Namun, dengan pemikiran yang tidak diikuti jiwa religius yang mumpuni, akhirnya dia berkesimpulan bahwa Tuhan telah mati. Nietzsche beranggapan Tuhan seharusnya sesuai dengan rasional manusia. Tuhan dianggap telah mati karena tidak bisa menolong manusia, Tuhan tidak bisa mengatasi berbagai macam hal tentang permasalahan di hidup manusia.

Permasalahan westernisasi ini adalah tantangan besar bagi umat Islam. Namun, sedikit sekali peran cendikiawan muslim yang merespon tantangan ini dengan cermat dan lugas. Bahkan, sebagian mereka akhirnya menjadi “penyebar” pemikiran keagamaan dengan proyek westernisasi. Westernisasi dirancang sedemikian rupa secara memukau sehingga menarik banyak umat Islam untuk tenggelam di dalamnya. Westernisasi dengan produk liberalnya memanglah serba canggih, mengedepankan pemikiran namun mereka lupa akan Sang Pencipta pikiran yaitu Tuhan. Mereka mencampuradukkan segala urusan agama dengan unsur-unsur yang seharusnya tidak bisa digabungkan dengan agama. Muncul di Indonesia slogan “Islam Nusantara” dimana banyak orang membanggakan Nusantara sebagai role model Islam yang sangat sesuai dengan kedamaian dan saling menghormati. Padahal jauh sebelum Nusantara itu ada Islam yang sudah dengan patennya mengajarkan sebuah “hormat dan kedamaian”.

Menelisik masalah yang terjadi di Indonesia saat ini adalah maraknya penolakan non-muslim atas label kafir yang disematkan muslim kepada mereka. Penolakan disebabkan kata-kata kafir seperti hal yang tak pantas disematkan kepada siapapun yang mengakui adanya Tuhan. Mereka beranggapan bahwasannya muslim tidak sepatutnya mengkafirkan orang. Jika kita selisik lebih dalam, mengkafirkan sesama muslim adalah hal yang dilarang kecuali muslim tersebut benar-benar menyekutukan Allah, sedangkan kafir menurut Alquran adalah mereka yang tidak percaya kepada Allah. Kafir sama seperti Kristiani menyebut orang-orang diluar Kristen sebagai “domba-domba” yang tersesat, Hindu menyebutnya sebagai “maitrah”, Buddha menyebutnya sebagai “abrahmacariyavasa”. Seharusnya tidak ada kata penolakan karena masing-masing memiliki koridor agama yang berbeda. “Bagimu agamamu, bagiku agamaku” sebenarnya sudah cukup untuk menjadi sebuah budaya Nusantara yang saling menghormati.

Terakhir dari opini ini adalah tentang bagaimana westernisasi membangun doktrin gaya hidup yang bebas. Liberalisasi kehidupan mewujudkan kehidupan yang sebebas-bebasnya. Westernisasi tidak menginginkan adanya intervensi dari mana pun tentang kehidupan individu, bahkan westernisasi tidak menginginkan peraturan dari Tuhan karena dapat menjadikan manusia “kolot dan terbelakang”. Bagi mereka, Tuhan hanyalah sebuah batu ganjalan yang membuat individu tidak bisa mengekspresikan diri dengan bebas. Sehingga, timbullah gerakan-gerakan seperti feminisme dan kesetaraan gender. Mengutip dari Dr. Hamid Fahmy tentang ulasannya mengenai feminisme dan kesetaraan gender, “di dalam kesetaraan gender terdapat sebuah dekonstruksi kemapanan, ini bukan masalah posisi wanita dalam konteks sosial saja namun sudah memasuki posisi wanita dalam konteks syariah”.

Dalam Islam, posisi wanita ketika dalam masalah sosial seperti ekonomi ataupun politik tidak pernah menjadi sebuah masalah. Namun, ketika kesetaraan gender ini masuk ke dalam ranah syariah dimana kaum-kaum feminisme ini menggugat peran pria sebagai pemimpin tertinggi dalam syariat dengan dalih penindasan, ini adalah suatu pemikiran yang salah jika kita mengutip ayat Alquran Surah An-Nisa’:

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡۚ فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٞ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُۚ وَٱلَّٰتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهۡجُرُوهُنَّ فِي ٱلۡمَضَاجِعِ وَٱضۡرِبُوهُنَّۖ فَإِنۡ أَطَعۡنَكُمۡ فَلَا تَبۡغُواْ عَلَيۡهِنَّ سَبِيلًاۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيّٗا كَبِيرٗا

“Kaum pria adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (pria) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (pria) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Maka dari itu, wanita yang salihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kalian khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka, dan jauhilah mereka di tempat tidur, dan pukullah mereka. Jika mereka menaati kalian, janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (An-Nisa’:34)

Jika kita maknai dengan seksama maka wanita adalah mahkluk yang diciptakan untuk dilindungi. Dijadikannya pria sebagai pemimpin untuk wanita bertujuan untuk melindungi wanita. Hal ini bukan berarti Islam menganggap wanita itu lemah sehingga harus berada di belakang pria. Namun, wanita adalah makhluk yang harus dijaga. Permasalahan tentang kepemimpinan adalah salah satu jalan bagi westernisasi untuk menjauhkan wanita dari kodratnya sebagai Ibu Bangsa. Setiap pemimpin hebat berasal dari rahim seorang wanita, ketika wanita muslim terdidik dan terpelajar maka dia akan menghasilkan keturunan yang mumpuni. “al-Um Madrosatun ula idza a’dadtaha” sebuah peribahasa Arab yang menggambarkan betapa mulianya seorang wanita, yang dia akan menjadi sekolah awal bagi perkembangan buah hatinya kelak.

Westernisasi sebuah doktrin, sebuah proyek yang dibuat untuk menjauhkan manusia dari Tuhannya, lebih tepatnya menjauhkan muslim dari Tuhannya. Barat menampilkan sebuah pertunjukkan “kebinatangan” yang mereka sebut modernitas. Menganggap religius adalah hal kuno, melabelkan sebuah religius adalah kebodohan. Dunia Barat dipenuhi dengan ideologi kebebasan yang mengesampingkan Tuhan, menolak akan adanya koridor Tuhan dalam kehidupan yang akhirnya merusak tatanan kehidupan manusia itu sendiri. Mari kita sebagai generasi masa depan Islam berusaha untuk memandang segala sesuatu dengan pandangan “Islamic World View”, dimana segala aspek kehidupan kita kolaborasikan dengan pandangan syariat. Hal ini bertujuan agar manusia tetap menjadi makhluk yang berketuhanan sesuai dengan syariat yang telah ditetapkan Sang Pencipta.

 

Penulis: Abdul Khaliq Napitupulu

Penyunting: Nadia Hasna

Gambar: www.dittoville.com

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *