Di era modern dewasa ini, perhatian dunia terhadap kaum hawa seakan lebih terfokus dibandingkan perhatian dunia terhadap kaum adam. Hal ini nampak dari banyaknya pembelaan terhadap kaum wanita dilihat dari aspek “kebebasan berekspresi” yang banyak diusung oleh kelompok barat yang mengatasnamakan Hak Asasi Manusia.

Maraknya gerakan feminisme dan paham-paham pergerakan lainnya yang didasari oleh semangat “emansipasi wanita”, merupakan bukti nyata betapa masyarakat -khususnya kelompok barat- begitu mencoba untuk mewujudkan kesetaraan dan kebangkitan kaum wanita dari “penindasan” kaum pria.

Wanita sejatinya ialah makhluk yang spesial. Sebab selain sebagai seorang Abdullah bagi dirinya sendiri, ia juga seorang yang melahirkan hamba-hamba Allah kelak. Dengan kata lain wanita merupakan samuderanya kehidupan. Tidak hanya melahirkan, wanita juga memiliki peran yang besar dalam mendidik dan mengkader penerus generasi bangsa yang beriman, jujur, dan amanah. Di samping itu seorang wanita juga dituntut untuk selalu taat kepada suami dan berbakti kepada orang tua.

Tanggung jawab tersebut tidak-lah ringan bagi seorang wanita. Dalam menjalankan tugasnya, seorang wanita haruslah memiliki intelektual yang tinggi, jiwa yang besar, dan juga iman yang teguh. Di mana iman tersebut merupakan bukti kecintaan seorang muslimah terhadap Allah Swt. Dengan selalu melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Wanita yang selalu melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar ialah wanita yang selalu dirindukan oleh surga.

Setiap wanita memiliki cita-cita untuk menjadi bidadari surga tercantik di akhirat kelak. Namun, tidak semudah itu baginya untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Hanya wanita shaliha yang akan menjadi dambaan surga. Wanita tersebut layaknya mawar yang meski keindahan ada pada dirinya, tapi tak sembarang orang dapat menggenggamnya. Seorang wanita patutnya selalu menjaga diri (iffah) dan kehormatannya serta selalu menghiasi dirinya dengan akhlak mulia.

Dalam hadis riwayat Muslim dan Nasa’i, Rasulullah SAW, bersabda bahwa “Dunia itu perhiasan, dan perhiasan dunia yang paling indah adalah wanita shaliha.” Pengertian perhiasan dalam hadis tersebut bukanlah menunjukkan wanita itu sebagai objek pandangan (kenikmatan), tetapi justru merupakan penghargaan yang tinggi dari Rasulullah SAW. untuk menunjukkan ketinggian derajat wanita shaliha dalam pandangan Allah dan rasul-Nya.

Hal tersebut juga menunjukkan bahwa Islam bukanlah agama yang anti terhadap emansipasi dan modernisasi. Hak-hak wanita selalu dijunjung tinggi di dalam Islam. Bahkan Islam-lah yang pertama kali menyelamatkan harga diri seorang wanita.

Pada zaman sebelum Islam datang, kaum wanita tak lebih dari sekedar budak seks dari kaum lelaki. Keindahan wanita pada saat itu hanyalah sebagai bahan eksploitasi dan pemuas gairah yang dapat dibeli. Bahkan, ketika Bangsa Arab masih jahiliyah pun nasib kaum wanita sangat mengenaskan. Banyak bayi yang berjenis kelamin peremuan di kubur hidup-hidup oleh orang tua mereka karena dianggap sebagai pembawa kesialan. Hal ini timbul karena adanya anggapan bahwa kaum wanita-lah yang menyebabkan Adam terusir dari surga.

Menjadi sosok wanita shaliha merupakan impian hampir seluruh kaum hawa penganut agama Islam. “shaliha” sendiri merupakan predikat yang diberikan masyarakat kepada setiap wanita yang mampu menjalankan kewajibannya dengan baik sebagai seorang muslimah, bahkan Islam pun meyatakan bahwa setiap wanita shaliha akan dipertemukan dengan seorang pria shalih. Hal tersebut sejalan dengan nilai yang berlaku di tengah-tengah masyarakat bahwa setiap orang akan mendapatkan pasangan yang merupakan cerminan bagi dirinya.

Seorang wanita shaliha sejatinya mampu memahami substansi dari gelar “shaliha” itu sendiri, di mana ke shalihannya tersebut tidak hanya mendatangkan kebaikan bagi dirinya sendiri, tapi juga bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. Ketika seorang wanita mampu menjadi muslimah shaliha, seyogyanya ia mampu memberikan dampak positif bukan hanya bagi dirinya sendiri, tapi juga bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.

Nilai-nilai kebaikan yang ia jalani sebagai bentuk ke shalihannya tersebut patut untuk dijadikan contoh bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengannya, dan dengan itu, ia tidak hanya menuai kebaikan bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi kehidupan yang lebih luas. Kiranya hal tersebutlah yang perlu diperhatikan oleh setiap wanita muslimah, agar tidak hanya mewujudkan keshalihan individual semata namun juga dibarengi dengan terwujudnya keshalihan sosial. Sebagaimana tugas bagi setiap penganut agama Islam yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an yaitu untuk dapat mengajak kepada kebaikan dan mencegah setiap perbuatan munkar.

Beruntungnya kaum wanita yang hidup di masa sekarang. Saat di mana telah banyak gerakan feminis yang menjunjung tinggi persamaan derajat antara wanita dan laki-laki. Meskipun berada di zaman modern, wanita shaliha akan selalu memegang teguh prinsip-prinsip Islam. Ia tidak akan tergoda oleh tren berbusana yang mempertontonkan aurat yang berkedok emansipasi dan modernisasi.

Sebab keindahan hakiki seorang wanita muslimah bukanlah terletak pada fisik semata, wajah yang menarik mata kaum pria, tetapi terletak pada hati yang suci dan diri yang mulia. Maka dari itu wanita shaliha akan selalu mengerjakan apa yang telah diperintahkan Allah dan senantiasa menjalankan sunnah. Mendirikan shalat, berbuat kebajikan, serta senantiasa menutup aurat.

(Savira Atiqarosa/Kader LPM Pilar Demokrasi)

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *