Pada tanggal 2 Mei lalu, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Hardiknas selalu membawa pikiran kita pada proses, kualitas, hingga berbagai problem pendidikan di Tanah Air. Pendidikan memang menjadi urusan penting. Sebab wajah bangsa di masa depan, sangat dipengaruhi kualitas proses pendidikan generasi muda kita hari ini.

Namun, pendidikan selalu dihadang tantangan di tiap zaman. Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di era ini, membuat tantangan pendidikan semakin kompleks. Di tengah segala persoalan klasik dunia pendidikan kita, seperti kualitas tenaga pendidik, sarana prasarana, hingga proses pembelajaran yang monoton, kini muncul tantangan baru terkait derasnya arus informasi era revolusi digital.

Budaya dan tatanan nilai di masyarakat mendapatkan ancaman budaya serta nilai dari luar yang dibawa arus globalisasi informasi. Masyarakat, terutama generasi muda yang sedang tenggelam dalam euforia era digital, internet, media sosial, dan berbagai informasi online, tak jarang terpengaruh oleh nilai-nilai dan budaya luar yang tak sesuai dengan nilai-nilai bangsa kita.

Maraknya kasus kekerasan di kalangan remaja, tawuran, bullying, tindak kriminal, pergaulan bebas, hingga banyaknya anak muda yang terjerat paham radikalisme-terorisme adalah contoh-contoh nyata bagaimana dunia pendidikan mendapatkan tantangan dan problem serius terkait mengikisnya nilai-nilai adab, moralitas, dan nilai-nilai kebangsaan dan persaudaraan.

Kita tak bisa membendung derasnya arus globalisasi informasi dan kita memang tak perlu membendungnya. Sebab, itu adalah bagian dari geliat zaman yang menjadi keniscayaan. Namun, sebagai sebuah bangsa besar yang memiliki prinsip, punya jati diri, dan memiliki cita-cita ke depan, kita mesti bisa menghadapi pesatnya globalisasi informasi dengan bekal bagi generasi muda. Kita tak bisa begitu saja hanyut dalam derasnya arus globalisasi informasi dengan segala nilai yang dibawanya.

Kita butuh bekal yang akan menjadi benteng sekaligus menjadi karakter yang tertanam kuat dalam diri setiap individu generasi muda kita guna melindungi dari pengaruh negatif seperti kekerasan, intoleransi, hingga radikalisme-terorisme. Sebab, itu semua adalah bekal paling mendasar untuk membangun kehidupan bangsa yang harmonis, damai dalam ikatan persaudaraan. Oleh karena itu, kita butuh bekal yang mesti ditanamkan dan dikembangkan lewat proses pendidikan karakter yang intens dan berkesinambungan.

 

Karakter Pancasila

Karakter merupakan ciri atau karakteristik, gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil, dan juga bawaan seseorang sejak lahir (Sjarkawi, 2006). Membangun karakter bukan perkara gampang. Karakter tak muncul begitu saja secara instan. Ia (membangun karakter) adalah kerja panjang yang dilakukan secara intens untuk membentuk sikap, sifat, dan berbagai ciri khas kepribadian seseorang.

Sebagai sebuah bangsa yang memiliki Pancasila sebagai filosofi hidup dan dasar negara, jelas karakter yang terkandung di dalamnya mesti menjadi bagian dari jati diri setiap generasi muda. Karakter Pancasila inilah yang akan menjadi fondasi sikap kebangsaan sekaligus benteng yang akan melindungi generasi muda kita dari ancaman pengaruh negatif arus globalisasi informasi seperti kekerasan hingga paham radikalisme-terorisme.

Zaim Uchrowi dalam bukunya Karakter Pancasila (2012) menjelaskan, penanaman karakter dalam dilakukan melalui tiga pendekatan, yakni keteladanan (role modeling), pembiasaan (conditioning), pengajaran (teaching). Ketiga pendekatan tersebut mesti ditanamkan dan dikembangkan di tiga area penanaman karakter, yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat. Artinya, proses keteladanan, pembiasan, dan pengajaran nilai-nilai Pancasila mesti dilakukan secara intens, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

Di lingkungan keluarga, orangtua adalah aktor yang menentukan sejauh mana nilai-nilai Pancasila seperti ketuhanan, persaudaraan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, gotong royong, hingga keadilan, bisa terserap dan tertanamkan dalam diri anak-anak mereka lewat proses pengasuhan (pengajaran), keteladanan, dan pembiasaan. Hal yang sama juga menjadi tanggungjawab pendidik di lingkungan sekolah, serta masyarakat luas di lingkungan sekitar anak.

 

Milenial Cinta Tanah Air

Jika seorang anak dikondisikan dengan pengajaran, keteladanan, dan pembiasaan sejak kecil dari keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat mengenai nilai-nilai Pancasila tersebut, maka ia akan tumbuh dan berkembang menjadi remaja dan anak muda berkarakter Pancasila yang siap hidup di tengah segala kemajemukan masyarakat Indonesia, bahkan menjadi bagian dari masyarakat dunia. Akan lahir generasi muda atau milenial cinta Tanah Air, toleran, sanggup berdialog di tengah perbedaan, dan bisa hidup berdampingan secara harmonis dalam kemajemukan.

Di era globalisasi informasi, generasi muda dengan karakter Pancasila akan menjadi milenial-milenial cinta Tanah Air yang selalu punya spirit untuk menjaga bangsa. Generasi muda yang tak sekadar cakap memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi, namun juga cerdas dan bijak memanfaatkanya untuk kebaikan hidup berbangsa dan bernegara. Akan lahir generasi milenial yang tak gampang terpengaruh dampak negatif era internet. Generasi yang kebal dari pengaruh konten-konten negatif seperti hoaks, ujaran kebencian, serta berbagai konten bermuatan paham-paham kekerasan, hingga radikalisme-terorisme.

 

 

Penulis                 : Al-Mahfud/Penulis meerupakan alumni lulusan IAIN Kudus

Editor                   : Mu’arifatur Rahmah

Sumber Gambar : inpasonline.com

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *