Pada pagi yang cerah, hati saya gundah setelah merenungi masa depan dunia Islam. Konflik dan peperangan terjadi di negara-negara Arab. Tahun 2010, dalam musim semi Arab tidak kunjung menghembuskan angin harapan bagi masa depan dunia Islam. Pasca Arab Spring, kekacauan di dunia Arab semakin menjadi. Konflik terus terjadi di Libya, Mesir, Iraq, Yaman, dan yang terparah sekarang ini, terjadi di Suriah dengan korban ratusan ribu jiwa.

Muncul pertanyaan besar dalam benak saya, apakah krisis di negara-negara Arab muslim merupakan fenomena baru? Atau merupakan skenario orang Yahudi Israel, seperti yang disebutkan Sayyid Qutb dan Abu al-A’ala al-Maududi?

Dilihat dari fakta historis, perang unta tahun 35 H/656 M antara Ali bin Abi Thalib dan Aisyah binti Abu Bakar, janda Nabi. Perang tersebut merupakah krisis umat Islam pertama dalam sejarah, setelah Nabi wafat. Perang tersebut berlangsung setelah terjadi pembunuhan keji terhadap khalifah Utsman bin Affan (644-656) oleh pemberontak muslim yang menentang kebijakan khalifah karena dinilai tidak adil. Penyebab perang tersebut patut dicurigai dengan adanya faktor perebutan kekuasaan selain faktor pembunuhan khalifah Utsman, indikasinya adalah bergabungnya Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam dalam kubu Aisyah yang mana mereka berdua merupakah kandidat khalifah bersama dengan Ali. Artinya antara Ali, Thalhah dan Zubair terlibat kontestansi politik.

Persaudaraan umat Islam yang masih seumur jagung mendapat ujian kedua. Tujuh bulan setelah perang unta (656M) terjadi perang shiffin antara pasukan Ali dan Muawiyyah bin Abu Sofyan, gubernur Suriah. Pada perang saudara, ini ribuan orang tewas dari kedua belah pihak. Ini merupakan krisis kedua dunia Islam dalam sejarah. Dalam perang tersebut, Ali bin Abu Thalib hampir menang, namun utusannya, Abu Musa Al-`Asy`ari ditipu oleh utusan Muawiyah, ‘Amr bin ‘Ash yang cerdik, agar peperangan dihentikan dan berdamai (tahkim) di Daumatul Jandal yang terletak antara Damaskus dan Madinah.

Seperti yang banyak dituliskan dalam sejarah, setelah perang ini, persaudaraan umat muslim terpecah menjadi tiga gologan, Suni, Syi’ah dan Khawarij. Golongan yang setia terhadap Muawiyah, golongan yang setia terhadap Ali bin Abi Thalib dan golongan yang ingkar terhadap keduanya.

Dalam hemat saya, terpecahnya umat muslim menjadi tiga sekte, Syi’ah, Suni dan Khawarij yang sampai sekarang tidak pernah berdamai merupakah buah dari perpecahaan politik yang harus dibayar dengan persaudaraan umat Islam oleh elit muslim kala itu. Dampak dari perang shiffin ini dapat kita rasakan antar lintas negara dan lintas abad sampai hari ini. Padahal ketika kita amati dengan nalar kritis, perang tersebut bukan perang agama, namun perang antara elite muslim dalam kontestasi kekuasaan. Di bawah dinasti Umayyah (661-750) Islam mengalami perluasan wilayah, lumbung emas umat terisi penuh, namun beriringan pula dengan gaya hidup pemimpin dan pejabatnya yang jauh dari kata sederhana. Peradaban dimasa dinasti Umayyah berkembang pesat. Namun semua itu, dibangun di atas kafan saudara sesama muslim yang berbeda pandangan politiknya. Dinasti Umayyah hanya bertahan 90 tahun setelah diluluhlantahkan oleh dinasti Abbasiyah yang terdiri dari golongan Arab dan Persia, golongan yang dianaktirikan oleh dinasti Umayyah. Inilah pil pahit yang harus ditelan umat Islam akibat pecahnya persaudaraan dan menguatnya sektarian.

Rezim Abbasiyah (750-1248) dalam sejarah ditulis sebagai The Golden Ages of Islam, karena pada masa itu, peradaban umat Islam mencapai puncaknya baik dari segi ilmu pengetahuan maupun pembangunan. Sepanjang dilihat dari kemegahan duniawi, julukan itu pantas tanpa melihat keutuhan persaudaraan umat Islam. Tidak jauh berbeda dengan rezim Umayyah, rezim Abbasiyah juga  memberangus lawan politik yang berbeda dari sekte sang khalifah.

Pil pahit kedua kembali ditelan umat Islam ketika persaudaraan dikorbankan demi kepentingan kekuasaan bercorak sektarian. Dinasti Abbasiyah hancur akibat serangan Mongol yang dipimpin cucu Ghengis Khan, Hulagu Khan. Tragedi Bagdad 1258 saat pasukan Hulagu Khan meluluhlantahkan komunitas muslim patut kita rekam ulang untuk dijadikan pelajaran moral, bahwasanya persaudaraan umat Islam menjadi kunci utama keluar dari krisis yang hampir mendarah daging di dunia muslim.

Dilihat dari catatan sejarah, raja terakhir Abbasiyah adalah Musta’sim, raja dari kelompok Suni yang dikenal selalu menghina kelompok  Syi’ah dan sering mempermainkan iman mereka di muka umum. Menyadari orang Mongol akan menyerang raja Suni tersebut, para pemimpin Syi’ah memberi fasilitas  kepada orang Mongol dengan membuka kota-kota kecil sampai akhirnya tiba di ibu kota Bagdad. Tentara Mongol menyadari perpecahan di kubu internal komunitas muslim sehingga mengambil pion untuk dimainkan.

Dalam situasi krisis dan serba mencekam, Perdana Mentri al-Alkamzi, seorang penganut Syi’ah menghianati sang raja dengan memihak tentara Mongol. Melalui perjanjian Hulagu Khan, tidak akan menghancurkan tempat-tempat suci kaum Syi’ah di Najaf dan Karbala. Selama tujuh hari Bagdad dikepung, sekitar satu juta penduduknya terbunuh baik kaum Syi’ah maupun kaum Suni, karena tentara Mongol tidak dapat membedakan mereka.

Hari ini, mari kita lihat Suriah, Yaman, Iraq, Mesir dan Libya. Penyebab dari hancurnya negara-negara tersebut adalah perang saudara. Kita ambil contoh Suriah, Presiden Assad lebih memilih berperang demi mempertahankan kekuasaanya. Mayoritas umat yang terbunuh di Suriah berasal dari golongan Suni. Negara Iran dengan mayoritas Syi’ah mendukung presiden Assad dan menanamkan hegemoninya. Arab Saudi dengan mayoritas Suni mendukung kaum oposisi yang menentang kekuasaan Presiden Assad. Belum lagi munculnya ISIS, Al-Qaeda, HAMAS dan gerakan militant sektarian lainya, patut dicurigai bukan semata-mata muncul sebagai peristiwa sejarah, namun dikarenakan faktor politik sektarian dari kelompok elite muslim Arab.

Terakhir, saya ingin meluapkan kepiluan hati dalam perenungan pagi ini, umat Islam umumnya larut dalam kemegahan peradaban, larut dalam kemegahan kekuasaan rajanya, akan tetapi sedikit sekali yang merenung dan mengoreksi proses kemegahan itu diraih. Andai kata para pemimpin Islam kala itu tidak mengorbankan persaudaraan demi kepentingan kekuasaan, boleh jadi sejarah mencatat dengan tinta emas kemenangan dinasti Abbasiyah dari serangan Hulagu Khan dikarenakan persatuan antara Syi’ah dan Suni, mereka saling bahu membahu mempertahankan kerajaan dan hidup berdampingan dengan damai. Boleh jadi dengan tinta emas sejarah tersebut, presiden Assad berdamai dengan oposisi dan negara Suriah tidak hancur.

Namun, semua itu hanya lamunan saya tentang persaudaraan umat Islam, karena faktanya elite muslim sendiri yang tidak ingin sesama umat Islam bersaudara. Jangankan berbicara masa depan dunia Islam, menyelesaikan konflik internal dunia Islam saja belum terdengar wacananya. Sekali lagi, kunci untuk keluar dari krisis dan melangkah menuju masa depan dunia Islam dengan persaudaraan, keluar dari kotak sektarian, galakkan toleransi dengan semangat pluralisme.

 

 

 

Penulis                    : Nur Khafi Udin/ Mahasiswa Program Studi Ahwal Syakhsiyah FIAI UII angkatan 18

Editor                      : Mu’arifatur Rahmah

Ilustrasi Gambar  : Mu’arifatur Rahmah

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *