Satu dari dua puluh empat jam di hidupnya, lelaki itu selalu menyempatkan diri berkunjung ke bundaran patung WR Supratman. Dia tak bergeming, hanya tersenyum tawar. Entah apa yang disembunyikannya, semuanya tidak ada yang tahu. Baru ketika bintang kejora mulai keluar dari sarangnya, pria itu mengucapkan sesuatu lalu mengayuh sepedanya, pergi.

Esoknya, di jam yang sama, lelaki itu kembali lagi. Tak tanggung-tanggung, kali ini ia tak hanya memabawa diri, tetapi juga membawa biola. Di depan patung sang pencipta Indonesia Raya, pemuda berwajah cekung itu mulai memainkan sebuah melodi.

Ketika dawaian melodi terdengar, bulu kuduk pejalan kaki mulai berdiri. Takzim. Melodi lagu kebangsaan, membuat mereka terkenang akan masa-masa lampau. Serta-merta mereka mendekati sumber melodi.

Suara langkah kaki kian terdengar ramai. Desas-desus suara orang pun kian memekakkan telinga.

“Mari kita menyanyikan lagu kebangsaan bersama!” ajak si pemuda seraya mulai menggesek dawainya kembali.

Hentak serempak, suara demi suara bersahutan. Syahdu. Nuansa khidmat mulai menjalar di antara kerumunan orang-orang itu, tapi tatkala nada yang sama diulang untuk ketiga kalinya, kekhidmatan itu hancur. Orang-orang saling tatap.

“Bukankah Indonesia Raya itu hanya dua kali pengulangan?” batin mereka.

Meski tidak ada yang mengiri dawai biolanya lagi, si pemuda berwajah cekung tetap bermain. Seorang wanita paruh baya pun mendekat. Sejenak, ia membaca name tag di dada pemuda itu.

“Mas Rey, mau sampai berapa kali lagu itu diulang?”

Rey menghentikkan melodinya, “Saya tidak menyuruh kalian mengulang kok, lanjutkan saja!”

“Lagu Indonesia Raya-nya kan cuma diulang dua kali,” balas seorang cewek berdaster.

“Lagu kebangsaan nggak sesimpel itu?” tanya Rey balik.

“Seharusnya memang harus simpel, biar anak-anak gampang menghapalnya,” sahut seseorang yang lain.

Rey tertawa simpul bahkan sedikit lepas. Orang-orang yang tengah berkumpul di sana, sedikit tersinggung, tapi ada juga yang hanya bingung.

“Kalian sungguh telah membuat WR Supratman menderita,” pungkas Rey.

Perkataan itu membuat kerumunan gaduh. Seorang pria paruh baya merangsek kerumunan. Matanya membelalak. Ia meremas kerah Reyhan.

“Apa maksudmu, hah?”

Hening. Keadaan mencekam itu membuat semua orang mematung. Tak ada satu pun yang mau bergerak. Reyhan tak peduli. Ia ingin mengabulkan impian seseorang. Seseorang yang mempunyai hubungan erat dengan sosok patung di belakangnya.

***

Setiap kali Rey memasuki ruangan latihan biolanya, ia selalu bertanya. Ada banyak pemain biola di dunia ini yang mumpuni, tapi kenapa harus WR Supratman. Bukankah beliau hanya sosok lampau yang keahliannya telah dikembangkan oleh banyak orang?

“Kenapa rumah Bapak dipenuhi foto WR Supratman?” tanya Rey.

“Karena beliau, Bapak bisa jadi seperti ini. Kamu tahu kenapa?”

Rey menggeleng pelan.

“Bapak ingin sekali karya Bapak terkenang di hati semua orang. Seperti WR Supratman yang telah menciptakan lagu kebangsaan kita. Lagu itu selalu dan selalu bisa membuat bulu kuduk merinding, takjub.” Mata pelatih Reyhan berbinar saat mengatakannya, tetapi beberapa saat kemudian, sinar mata itu menghilang.

“Sayangnya, nasib WR Supratman tidaklah sepadan dengan nasib karyanya,” lanjutnya.

“Kenapa, Pak?”

“WR Supratman-lah, pahlawan yang menyatukan semua orang lewat sebuah lagu, tapi beliau tak pernah tahu kalau lagunya menjadi lagu kebangsaan sesuai. Ironisnya lagu itu hanya dinyanyikan satu stanza saja, padahal WR Supratman menciptakannya dalam tiga stanza. Bapak ingin sekali membuat lagu Indonesia Raya tiga stanza itu dinyanyikan orang lain. Agar rasa terima kasih Bapak bisa sampai kepadanya.”

Rey diam. Ia mengamati wajah gurunya yang sendu.

“Maukah Bapak mengajariku Indonesia Raya tiga stanza itu?”

“Pasti, pasti Bapak ajarkan semua ilmu Bapak padamu.”

Seiring bertambahnya usia, pemahaman Rey kian matang. Rasa hormat yang diturunkan gurunya pun kian menjadi. Ada banyak komposisi nada di dunia ini, tapi hanya satu komposisi nada yang bisa menyatukan bangsa. Dan komposisi itu telah dirangkai oleh WR Supratman.

Semenjak saat itu, ketika pemuda berwajah cekung itu pulang dan melewati bundaran patung WR Supratman, ia pasti berhenti. Setiap hari, sepanjang waktu. Kedalaman ilmu biolanya, membuat ia semakin lama termangu di bundaran itu. Ia ingin sekali berterima kasih kepada gurunya juga kepada WR Supratman. Berkat mereka, Reyhan dapat mengenal dunia melodi yang indah.

Oleh karena itu, Reyhan ingin berbuat sesuatu. Ia ingin membuat dirinya bangga ketika menatap patung WR Supratman. Andai kata ia berada di Surabaya, ia pasti akan melalukan sesatu agar makam pahlawan tercintanya ramai.

Hari demi hari ia lalui tanpa berbuat apapun. Dan ketika sebuah ide sederhana sampai di otaknya, ia pun langsung melakukannya. Berdiri di patung ini sambil memainkan biolanya. Itulah idenya. Reyhan sama seperti gurunya. Lelaki berwajah cekung itu ingin menggaungkan Indonesia Raya tiga stanza.

“WR Supratman telah mengarang lagu Indonesia Raya dengan tiga bagian, dan selama ini kalian hanya menyanyikan satu bagiannya saja. Pahlawan itu sudah tidak melihat lagunya menjadi lagu kebangsaan, makamnya sepi pula. Lah ini, lagunya hanya dinyanyikan setengah-setengah. Aku pun kalau jadi beliau, sudah pasti sangat kecewa.”

Lelaki paruh baya yang tadi meremas kerah Rey, perlahan melepaskannya.

“Bohong! Indonesia Raya tidak mungkin berubah,” sahut seorang perempuan.

“Indonesia Raya memang tidak pernah berubah, hanya kalian saja yang menyanyikannya terlalu singkat,” balas Rey.

“Mana buktinya kau berkata seperti itu, hah? Sedari kecil aku tak pernah mendengar lagu Indonesia Raya yang kau bicarakan.”

“Buka saja di google, gitu saja kok repot.”

Satu per satu orang di kerumunan itu membuka HP-nya. Mereka mengetikkan kata “Lagu Indonesia Raya tiga bagian” di address bar kemudian menekan enter. Tak lama informasi itu muncul. Ada juga foto makam WR Supratman dan tekt lagu itu yang terukir rapi di tembok.

“Jadi bagaimana? Apakah kalian masih tidak percaya?” tantang Rey “baiklah, mungkin kalian baru mengetahuinya. Mungkin akan lebih baik jika aku mendendangkannya terlebih dahulu.”

Rey meletakkan biolanya. Ia membuka HP lalu memutar instrumen Indonesia Raya dengan tiga stanza. Bertahap namun pasti, ia dengan lantang bernyanyi. Tak malu dan tak gentar. Inilah bentuk terima kasih kepada WR Supratman karena telah menjadi motivator bagi dirinya dan gurunya.

“Semoga dengan ini, aku bisa bangga ketika menatapmu, wahai pahlawanku,” ucapnya di hati.

 

Penulis                  : Fasihi Ad Zemrat

Merupakan nama pena dari Amin Arifin. Penulis merupakan seorang mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Salah satu novel yang pernah diterbitkan berjudul ‘Dengarlah Hujan Berbicara.’

Editor                    : Naila Rif’ah

Sumber Gambar  : kebudayaan.kemdikbud.go.id

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *