Azan Subuh telah berkumandang, Melin masih saja tertidur pulas di atas ranjang susun berbahan besi. “Okay for the all my sisters it’s time for going to auditorium, so please wake up!” Terdengar saru suara wanita memanggil. Wanita itu tak lain ialah seorang ustazah yang mencoba membangunkan para santri yang masih belum beranjak dari tempat tidur mereka. Ustazah yang anggun dengan jilbabnya yang terulur rapi.

“Melin … Melin … bangun, dong!”

“Apaan sih, Fer. Aku masih capai tahu.”

Fera sedikit merasa kesal dengan sikap Melin. Sembari membawa handuk dan gayung yang berisi peralatan mandi lainnya, Fera melangkahkan kaki dan berlalu ke kamar mandi. Kala Fera melewati aula, seorang ustazah yang anggun itu tiba-tiba menghentikan langkahnya.

“Melin di mana, kok tumben tidak bareng?”

“Eh Melin, Ustazah. Melin masih tidur.”

Dengan satu perintah, sang ustazah menitahkan Fera berbalik kembali ke kamar, “Jangan ke kamar mandi sebelum Melin bangun!” Katanya. Dengan muka masygul, Fera terpaksa kembali ke kamar kemudian mencoba membangunkan Melin yang masih molor.

“Melin di aula sudah ikamah, kamu ingin dihukum lagi?” Tegas Fera mencoba menakut-nakuti Melin.

“Iya, bawel banget sih kamu, Fer.”

“Melin, kamu harus mulai belajar beradaptasi!” Tegur sang ustazah yang sedari tadi memperhatikan perbincangan mereka berdua di ambang pintu. “Dan untuk kamu Fera, kamu harus sabar dalam mengajak berbuat kebaikan!”

Mereka kemudian mengangguk mengiyakan perkataan sang ustazah. Melin dan Fera mulai beranjak dari tempat tidur, kemudian mengambil handuk serta peralatan mandi lainnya, lalu pergi ke kamar mandi berniat untuk membersihkan badan mereka sebelum ke aula.

Di pintu kamar mandi, nampak bagian keamanan berjaga-jaga untuk memastikan keadaan kamar mandi sudah steril. Memang 15 menit sebelum azan, para santri harus sudah berada di aula untuk menungu waktu salat berjamaah tiba. “Hei …  kalian ngapain bawa peralatan mandi segala macam, kalian tahu ini jam berapa?”

Dengan tegasnya, koordinator keamanan melarang Fera dan Melin mandi. Melin dan Fera tertunduk malu, mereka bergegas masuk ke kamar mandi hanya untuk berwudu, kemudian mereka siap-siap. Mereka berlari ke aula dengan tergesa-gesa sembari membawa peralatan salat dan kitab talim yang akan dipelajari pagi itu seperti biasanya.

Saking tergesanya membuat pena yang dibawa Melin jatuh. Ketika ia hendak mengambilnya, Melin merasa ada orang di depannya. Ternyata Ustaz Yusdi berdiri tegap dengan wajah yang terlihat memerah. “Melin dan Fera silakan berdiri di lapangan!”

Fera mencoba meyakinkan Ustaz Yusdi supaya mereka tidak mendapatkan hukuman, akan tetapi Ustaz Yusdi yang memang memiliki karakter tegas tetap memberikan mereka hukuman, malah hukumanya ditambah berdiri di lapangan sambil menghafalkan lima surah di juz 30.

Waktu sudah menunjukkan pukul 06.30 pagi. Santri-santri sudah bersiap untuk ke sekolah. Namun sebelum pergi ke sekolah, seperti biasanya mereka sudah berada di lapangan untuk antri mengambil makan, dengan membawa piring masing-masing.

“Fera, kita satu piring berdua ya, please.” Kata Melin.

“Apa kamu mau kita dihukum lagi?”

“Engga, Fer. Tapi piringku disita. Soalnya kemarin aku taruh sembarangan di aula.”

“Itu salah kamu sendiri, Mel.”

“Iya aku tahu, tetapi aku laper banget Fer, ayolah.”

Fera kemudian bertugas mengambil makanan, sedangkan melin beranjak menuju keran untuk mengambil air dengan botol aqua bekas. Ketika mereka sedang sarpan, ternyata Ustaz Yusdi sedari tadi memperhatikan mereka.

“Anak-anak jangan lupa ya sampahnya dibuang, makan dengan rapi dan bersih!”

“Baik, Ustaz!” Santri-santri serentak mematuhi perintah Ustaz Yusdi.

Fera dan Melin sudah merasa ketakutan, karena mereka melakukan pelanggaran. “Fera dan Melin kalian melanggar peraturan lagi?” Ustaz Yusdi menegur dengan heran, “sebagai hukumannya, Ustaz berikan waktu buat kalian berdua menghafal juz 30 selama satu bulan.”

Fera dan Melin terperanjat, kembali mereka mendapat hukuman. Menhafal juz 30 selama satu bulan, sedangkan mereka sangat sulit untuk menghafal, terlebih Melin adalah orang pemalas, tak akan mudah. Akan tatapi mereka harus mengikuti perintah Ustaz Yusdi sebab konsekuensi yang akan mereka dapatkan ketika tidak melaksanakan printah adalah mereka akan dilaporkan kepada kedua orang tua, dan mungkin dikeluarkan secara tidak hormat dari pondok karena memang telah terlalu sering melanggar peraturan.

“Sudahlah, kalian jangan berlagak solehah!”

“Apa maksudmu?” Melin merasa kesal.

“Sudahlah, jangan diladenin, mending kita lanjut menghafal saja,” ucap Fera mencoba menenangkan.

Pagi itu, Fera dan Melin sedang mengulang hafalannya di aula kala santri lain datang lalu mencibir. Tak lama berselang, koordinator keamanan memanggil mereka dan memerintahkan untuk segera menghadap kepada Ustaz Yusdi. Mereka berdua keringat dingin, terutama Melin yang merasa paling bersalah.

“Tidak apa-apa, Melin. Yang paling penting kita sudah berupaya selama satu bulan ini.” Fera memang selalu berusaha menenangkan Melin.

Di kantor Ustaz Yusdi terlihat sedang duduk sembari memegang secangkir kopi yang ada di tangannya. Sedang Fera dan Melin masih ragu-ragu untuk masuk, padahal pintu kantor terbuka lebar. Ustaz Yusdi melirik ke pintu, “Silakan masuk!”

Tanpa basa-basi Ustaz Yusdi langsung membacakan ayat kemudian memerintahkan mereka berdua melanjutkannya secara bergantian. Begitu terus setelahnya sampai setelah diberikan pertanyaan beruntun, mereka akhirnya dinyatakan berhak untuk mengikuti perlombaan menghafal mewakili pondok. Mereka berdua keluar dengan wajah yang berbinar-binar.

 

Penulis: Mauliya Redian

Editor: Iqbal Firdaus

Gambar: pixabay.com

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *