Pilardemokrasi.com. Retour A La Nature. Begitulah tema apik yang diangkat oleh panitia Pesona Taaruf (Pesta) Universitas Islam Indonesia (UII) tahun ini. Kalimat yang dicetuskan oleh J.J. Rousseau tersebut berasal dari bahasa Prancis yang artinya ‘kembali ke alam’. Namun ternyata, kalimat tersebut tidaklah dimaknai secara tekstual.

“Ya saya klarifikasi ya, maksudnya retour a la nature di sini kan bila kita lihat sebenarnya menginginkan maba-miba (mahasiswa-mahasiswi baru – Red) ini kembali ke alamnya, yaitu kembali ke alam mahasiswanya. Yakni menjalankan misinya yaitu iron stock, moral force, social control, agent of change. Sebenarnya seperti itu, bukan kembali ke alam yaitu kembali mencintai lingkungan,” ucap Helmi, anggota komisi A Steering Committee Pesta 2019 saat ditemui disela kegiatan Pesta, Rabu (14/8).

Makna tersebut sesuai dengan hal yang melatarbelakangi J.J. Rousseau dalam mencetuskan kalimat Retour A La Nature. Seperti yang telah dijelaskan dalam proposal Pesona Taaruf  2019,  awalnya terdapat sebuah sayembara “Apakah kemajuan di dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan memberi sumbangan untuk moralitas?” J.J. Rousseau memberi jawaban tidak. Ia menyaksikan masih terjadinya ketimpangan sosial di Prancis pada abad ke-18, padahal mereka merupakan negara termaju di Eropa. Sehingga, Retour A La Nature menjadi jawaban terbaik di sayembara tersebut. Begitu pula dengan mahasiswa, seharusnya kembali menjalankan empat tugas mahasiswa.

Namun, sejauh pantauan tim Pilar Demokrasi, tidak ada penjelasan terkait makna tema tersebut, khususnya kepada mahasiswa baru peserta Pesta 2019. Saat ditemui di sekretariat bersama (sekber) pada Kamis (15/8), Dian, anggota komisi A Steering Committee lainnya, menuturkan bahwa pemaknaan dari tema tersebut telah tersalurkan melalui materi-materi kemahasiswaan. Selain itu, melalui materi tersebut juga dijelaskan akan fungsi mahasiswa kepada maba dan miba.

“Kemudian ketika salah pemaknaan sendiri, itu sebenarnya, bagaimana ya, karena kan memang pandangan orang berbeda-beda, jadi tidak bisa disamakan. Dan lagipula, tema sekarang ini konsepnya itu mengacu kepada memang menjaga lingkungan. Jadi dari kami pun juga selain mengenalkan mahasiswa ke fungsinya, itu juga kami berkaca bahwa ini harus menjaga lingkungan nih,” ujarnya.

Dian juga mengaku bahwa penjelasan terhadap tema Pesta sudah dilakukan di sesi forum jamaah, meskipun secara tidak langsung, berupa penekanan akan peran mahasiswa oleh wali jamaah.

Akan tetapi, saat Tim Pilar Demokrasi mencoba untuk mewawancarai beberapa wali jamaah, mereka justru memahami makna tema pesta dengan arti kembali ke alam yaitu kepada lingkungan hidup. Seperti yang dipahami oleh Rama, wali jamaah enam belas, mahasiswa Fakultas Teknologi Industri (FTI). Hal senada juga diungkapkan oleh waljam lainnya. Ahmad, wali jamaah satu saat ditemui pada hari yang sama, Kamis (15/8) menyebutkan penjelasan dari tema Pesta kali ini cukup panjang. Namun inti yang ia pahami adalah mengenai lingkungan.

Bahkan di pihak lain, ada pula waljam yang mengaku tidak mengetahui tema Pesta kali ini. Hal ini seperti yang diutarakan oleh Rifa’i, wali jamaah 82. Ia mengatakan tidak mengetahui tema acara yang diikutinya dengan alasan lupa, sebab dirinya baru saja bergabung dalam kepanitiaan saat menjelang Pesta tahun ini dimulai.

“Saya kan baru, datengnya baru, jadi saya kurang tau masalah itu (tema -Red). Karena kemarin saya menggantikan. Jadi saya dikasih tau tiba-tiba kan katanya kekurangan waljam,” ucapnya.

Ketidaktahuan wali jamaah berbanding lurus dengan anak-anak jamaahnya, mahasiswa baru.  Seperti yang diungkapkan oleh Bayu, mahasiswa program studi Akuntansi dari jamaah enam belas. Ia tidak mengetahui tema yang ada pada acara kali ini. Tidak ada pihak yang menjelaskan mengenai hal itu. Namun, ia mengatakan terdapat penjelasan mengenai peran mahasiswa oleh pembicara yang ada, bukan dari wali jamaahnya. Ia menangkap bahwa mahasiswa harus bisa berkontribusi untuk rakyat.

Begitu pula yang diakui oleh Hani dan Salsa, dua mahasiswi baru jamaah lima tersebut memahami tema acara pesta kali ini ialah peduli lingkungan. Mereka berasumsi demikian dikarenakan rangkaian acara yang ada, seperti menanam tanaman hias menggunakan botol bekas, menuliskan slogan kebersihan di kain panjang, dan perintah membawa alat makan sendiri, tidak menggunakan sendok garpu plastik.

“Kayanya… Walaupun dijelasin kita juga udah tau maksudnya gitu (peduli lingkungan -Red),” ucap Hani.

“Kurang begitu paham juga. Belum ada penjelasan resminya gitu, mungkin kaya buat video dari UII nya gitu apa temanya,” jawab Azrial, mahasiswa baru Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) dari jamaah tujuh belas saat ditanyai mengenai tema.

“Belum, belum paham benar. Soalnya tadi kan banyak yang bilang nanti akan dijelaskan, nanti akan dijelaskan, nanti akan dijelaskan. Tapi saya belum mendapat penjelasannya gitu,” ungkapnya saat ditanya mengenai empat peran mahasiswa, setelah shalat Zuhur pada Kamis (15/8).

Ketidakpahaman akan makna tema menunjukkan kurangnya penjelasan yang memadai kepada mahasiswa baru, bahkan terhadap panitia Pesta itu sendiri. Padahal, tema merupakan gagasan dari sebuah acara yang membentuk acara itu menjadi seperti apa beserta tujuan yang ingin digapainya. Sangat disayangkan apabila ternyata tema itu tidak dipahami oleh pihak-pihak yang terlibat di dalamnya, bahkan oleh pelaksana acara tersebut, yaitu panitia.

 

Penulis                        : Husain Raihan

Editor                          : Mu’arifatur Rahmah

Reportase Bersama   : Abdul Khaliq Napitupulu, Reza Maraghi

Foto Oleh                    : Naila Rif’ah

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *