Ketika berada di daerah pegunungan, maka hewan-hewan yang acap kali terlihat ialah mereka yang menetap di Hutan Belantara. Sehingga, tak ayal jika hewan yang sering tampak ialah seperti burung elang, kera, ular bahkan ada pula harimau. Namun berbeda dengan salah satu kawasan wisata di daerah Sleman, Yogyakarta. Kawasan wisata di daerah Gunung Merapi ini justru menyambut para pengunjung dengan hewan udang yang identik hidup di perairan. Berlokasi di Jalan Wara, Kaliurang, Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, setiap orang yang akan memasuki wilayah Kaliurang pasti akan menjumpai Tugu Udang yang berada di tengah-tengah pertigaan jalan.

Sesuai nama daerahnya, Kaliurang menjadi asal muasal dipilihnya udang menjadi sebuah ikon. Dahulu, daerah Kaliurang terdapat banyak sungai dengan udang yang melimpah ruah di dalamnya, seperti di Sungai Kuning dan Boyong. Sayangnya udang-udang tersebut kini telah tiada pasca erupsi Gunung Merapi pada tahun 1994. “Dulu ada sungai memang banyak udangnya, tapi setelah erupsi Gunung Merapi airnya mati pasca tahun 1994, sungainya banyak lumpur jadi udangnya habis,” ujar Sugeng Wahyudi (39), Kepala RT 04 Kaliurang Selatan.

Melalui peristiwa tersebut, masyarakat sekitar akhirnya berinisiatif untuk melakukan pembangunan Tugu Udang. Berbagai dana pun didapatkan mulai dari pemerintah hingga iuran warga sekitar. Sehingga pada tahun 2007, pembangunan pun dimulai dan rampung hanya dengan waktu sekitar tiga bulan. “Hanya 3 bulan saja karena kami sudah nyicil pekerjaannya,” ucap Ahmad Barokah (50), selaku desainer sekaligus pembuat Tugu Udang. Kehadiran Tugu Udang sebagai ikon wisata Kaliurang membuat warga menjadi senang, karena daerah tersebut kini memiliki daya tarik tersendiri yang dapat dikenal oleh masyarakat luas dan para wisatawan. Walaupun usai berdirinya, masih terdapat beberapa kendala seperti perawatan tugu.

“Kalau setelah selesainya pembangunan, kendalanya terdapat pada perawatan Tugu Udang. Kalau sewaktu pembangunan tidak terjadi kendala atau suatu masalah,” ungkap Sugeng.

Tugu yang terdiri dari tiga udang tersebut menggambarkan regenerasi udang di sungai. Dengan penggambaran satu udang jantan, satu udang betina dan satu anak udang. Tidak ada pesan moral tersendiri dari pembangunan Tugu Udang ini karena itu dibangun hanya untuk dijadikan sebuah ikon Kaliurang saja. “Jadi kalau kembali ke tugu udang, pesan moral memang tidak ada hanya terdapat nilai keindahan dan sebagai ikon dari Kaliurang sendiri,” tutur desainer Tugu Udang.

Kontruksi Tugu Udang dibuat sangat kuat bahkan saat erupsi Gunung Merapi tahun 2010 tugu tersebut tidak mengalami kerusakan sedikitpun. “Iya, karena memang sengaja kami buat kontruksinya kuat, karena dekat dengan jalan raya dan mengantisipasi gempa, jadi kami sudah perhitungkan,” sambung Barokah.

Sampai detik ini pun Tugu Udang masih terlihat sangat kuat dan menawan.  Sebab, warga sekitar bertanggung jawab penuh dalam perawatan Tugu Udang tersebut. Seperti halnya dalam membersihkan daerah sekitar tugu serta  menanami dan menyirami tanaman yang ada di pinggiran tugu. Namun jika perawatan skala besar menjadi tanggungjawab bersama antara warga sekitar dan pemerintah atau dinas pariwisata. Tugu Udang sendiri sudah mendapatkan satu kali renovasi pengecatan dengan menggunakan dana dari pemerintah.

Namun setelah renovasi pengecatan oleh pemerintah, didapati banyak protes dari warga. Warna yang digunakan untuk mengecat kurang natural menurut warga, sehinga tidak seperti udang-udang sungai yang semestinya. Hal tersebut terjadi karena yang melakukan pengecatan bukanlah warga pembuat Tugu Udang dahulu. Melainkan pemerintah membayar orang luar daerah Kaliurang untuk mengerjakan pengecatan Tugu Udang tersebut.

Penulis                         : Nadhira Arsya Diva

Reportase Bersama   : Akhmad Abdussalam

Editor                          : Mu’arifatur Rahmah

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *