Ket. Foto: Ketua Dewan Permusyawaratan Mahasiswa (DPM) UII Febrian Ramadhani saat memberi sambutan di Pesona Taaruf UII 2020, Rabu (9/9).

 

“Selamat datang di Universitas Islam Indonesia, kampus perjuangan, kampus hijau yang kemudian di kampus inilah lahir organisasi terbesar di Indonesia, yaitu Himpunan Mahasiswa Islam, yang sampai sekarang masih eksis dalam mencari kader-kader yang kemudian bermanfaat untuk bangsa dan negara ini.”

Begitulah kutipan perkataan Ketua Dewan Permusyawaratan Mahasiswa (DPM) UII, Febrian Ramadhani, kala memberi sambutan di pembukaan Pesona Taaruf (Pesta) UII 2020, Rabu (9/9) lalu. Apakah ada yang salah dari ucapannya?

Kacamata Ketua Umum Lembaga Eksekutif (LEM) UII, Pancar Setiabudi, tidak melihat ada yang salah. Saat forum pers, ia menyebut apabila ada penyampaian tentang HMI, maka itu atas dasar historis. HMI disebutnya bagian yang tak bisa lepas dari UII, melihat sejarah berdirinya organisasi mahasiswa itu.

Hal senada tampaknya juga ada di benak kebanyakan mahasiswa baru (maba). Mereka mungkin saja bergumam ‘ohh, gitu toh’ ataupun kata-kata sejenis. Perkataan Ketua DPM UII itu akan menjadi wawasan baru bagi mereka. Namun, lain cerita jika maba yang cukup kritis menyimak dengan seksama.

Apabila ditelaah lebih jauh, ada dua hal yang menjadi pokok permasalahan. Pertama soal penyebutan HMI. Bukan hanya menyinggung sekilas, Febrian menjadikan HMI sebagai bahasan utama dalam sambutannya. Usai perkataan yang dikutip di awal, separuh lebih sambutannya menceritakan sosok Slamet Suroyo, aktivis HMI yang dibunuh setelah berusaha membongkar skandal korupsi pimpinan UII kala itu. Namun, lagi-lagi, ini bisa jadi dianggap bukan masalah jika melihat dari kacamata yang sama dengan Pancar tadi.

Masalah kedua, yang lebih ‘berbahaya’ yakni embel-embel eksis mencari kader. Pernyataan ini di samping menekankan eksistensi organisasi, secara tidak langsung juga menjadi upaya memikat calon kader mereka. Pesta UII 2020 dengan 4000-an pesertanya menjadi panggung yang besar.

Cukup mengherankan memang melihat dua pokok permasalahan di atas. Bagaimana bisa seorang pemberi sambutan, berstatus sebagai Ketua DPM, dalam tanda kutip mempromosikan organisasi ekstra kampus kala orientasi mahasiswa baru UII?

Atau mungkin lebih tepatnya, mengapa ia berani mengenalkan organisasi ekstra kampus saat sambutan?

Setidaknya ada tiga hal yang dapat jadi alasan di balik terjadinya promosi di kala sambutan tersebut. Pertama soal sejarah, yang kedua lemahnya regulasi, dan ketiga terkait dengan etika.

Faktor Sejarah

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, tak dapat dipungkiri antara HMI dengan UII memiliki kedekatan secara historis. Faktor sejarah ini amat memengaruhi dinamika kegiatan mahasiswa yang ada di dalam kampus (intra) hingga saat ini. Jajaran anggota DPM contohnya, baik di tingkat fakultas maupun universitas yang didominasi mutlak oleh orang berlatar HMI.

HMI digagas oleh Lafran Pane, pahlawan nasional yang saat itu menjadi Ketua III Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (STI). Bersama beberapa rekannya, ia mendirikan HMI pada tahun 1947 di salah satu ruang kelas STI, atau yang kini bernama UII, di saat jam kuliah Tafsir Al-Quran Prof. Husein Yahya.

Tujuan berdirinya HMI tidak lepas dari kondisi bangsa saat itu yang masih bergolak akibat upaya Belanda menjajah kembali. Mempertahankan Negara Republik Indonesia menjadi tujuan utama, di samping misi syiar agama.

Selain soal berdirinya, dilansir dari hminews.com, HMI juga sempat menjadi organisasi intra kampus di STI selain Senat Mahasiswa (SM). Hal ini tidak lepas dari pengaruh Lafran Pane yang kala itu menjadi Ketua III SM.

Lemahnya Regulasi

Bukan tanpa regulasi, telah ada aturan yang mengatur keberadaan organisasi ekstra di Pesta UII 2020. Sebut saja aturan yang melarang berbagai atribut organisasi ekstra kampus hadir di dalam acara. Namun, meski telah ada di Pesta UII edisi-edisi sebelumnya, tak jarang aturan ini justru lemah dalam penerapannya.

Bisa dilihat 2018 lalu, ucapan selamat datang maba dari HMI MPO (Majelis Penyelamat Organisasi) bertengger di baliho besar depan Auditorium KH. A. Kahar Mudzakkir dan videotron muka gerbang UII sejak kuliah perdana. Dikutip dari himmahonline.id, rektorat selaku penyelenggara kuliah perdana serta DPM UII tampak saling lempar tangan soal baliho dan videotron.

Masalah serupa telah terjadi sebelumnya, seperti pada Pesta UII edisi 2012 dan 2013 masih dikutip dari sumber yang sama. Kurang kuatnya regulasi, juga penerapannya yang lemah, bisa dibilang menjadi sebab hal ini berulang dan jadi masalah yang cukup klise.

Masalah Etika

Melihat ikatan historis yang kuat, memang cukup sulit memisahkan HMI dengan UII. Akan tetapi, apakah elok menjadikan orientasi mahasiswa baru sebagai panggung memperkenalkan organisasi ekstra kepada khalayak, khususnya maba? Mengingat sakralnya Pesta UII sebagai pintu masuk mereka ke dunia perkuliahan di UII, setelah kuliah perdana.

Didirikannya HMI di UII oleh tokoh UII tak serta merta menempatkan HMI menjadi satu kesatuan dengan UII. Terlebih statusnya kini yang merupakan organisasi ekstra kampus, bukan intra. Sehingga, organisasi ekstra kampus seperti HMI harus pandai-pandai menempatkan diri.

Bukankah ucapan selamat datang lebih tepat dan pantas disandingkan dengan sejarah lahirnya UII yang diprakarsai para tokoh pendiri bangsa? Daripada menyinggung HMI terlalu dalam.

Tiga alasan ini, faktor sejarah, lemahnya regulasi, dan masalah etika saling berkaitan satu sama lain. Apabila tidak ada salah satu darinya, maka seharusnya Pesta UII tidak kecolongan oleh organisasi ekstra kampus yang hadir dalam berbagai bentuk. Kita misalkan masalah etika tidak ada, maka organisasi ekstra akan sungkan dengan sengaja menampakkan diri. Mereka tidak akan promosi yang bukan pada tempatnya. Begitu pula jika regulasi lebih kuat. Meski etika kurang, mereka akan terhalang aturan.

 

Penulis : Husain Raihan

Editor   : Abdul Khaliq Napitupulu

Foto       : Youtube/Pesona Taaruf UII

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *