Setelah pulang sekolah, saya melangkahkan kaki menuju rumah bu Herlina hingga jam menunjukkan pukul tiga sore. Tiba-tiba saya mendengar suara tangisan yang berasal dari sana, yang menangis pasti Inari. Bu Herlina duduk di kursi teras, Inari duduk di lantai teras.

Tanpa permisi atau apa, saya langsung menginjak lantai teras, dan memang, bu Herlina telah menyuruh saya untuk menganggap rumahnya sebagai rumah saya sendiri. Rumah saya dengan rumahnya hanya dipisahkan sebuah tembok. Saya mendekat ke Inari, dan bu Herlina menatap saya dengan wajah yang kusut.

Saya langsung tanyakan kepadanya, kenapa Inari menangis. Saya hanya heran, mengapa Inari begitu lama menangis.

“Inari ingin melihat kucingnya. Hanya saja entah kucingnya itu ke mana. Saya sudah mencari ke mana-mana, tapi tidak ketemu.”

“Oh, hanya karena kucing?”

Bu Herlina menambahkan, Inari rewel sejak pagi dan ia sudah melakukan segala cara untuk menenangkan Inari. Usahanya gagal, Inari tak berhenti menangis.

Inari sama sekali tidak takut dengan kucingnya, bahkan pernah ia mengelus-elus hewan menggemaskan itu. Kucing Inari bukan kucing semacam Anggora, atau jenis lainnya. Kucing Inari hanyalah kucing biasa, bu Herlina menemukan hewan lucu itu di pojok kampung dengan luka di lehernya. Bu Herlina menemukan kucing itu sebelum ia melahirkan Inari. Ia merasa kasihan, lalu membawa pulang kucing itu dan merawatnya.

Saya menggendong Inari, saya pamitan pada bu Herlina, akan mengajaknya jalan-jalan keliling kampung. Bu Herlina tentu saja mengizinkan. Saya kasihan dengannya. Inari masih menangis, saya terus berusaha menenangkan Inari dengan berkata-kata dan sesekali menunjuk suatu objek yang kira-kira menarik dengan jari telunjuk. Namun, tetap saja apa yang saya lakukan tidak berhasil.

Saya terus melangkah, Inari terus menangis. Kemudian saya mampir ke warung bu Maria, membeli sebungkus roti dan beberapa permen. Di tengah-tengah bu Maria menanyai saya perihal penyebab Inari menangis, saya membuka bungkus roti. Saya cuil roti dan saya berikan pada Inari. Inari meredakan tangisnya, ia menerima uluran saya. Namun roti yang saya berikan padanya tak dimakan, ia jatuhkan dan Inari kembali menangis. Saya pun membuang cuilan itu ke tempat sampah.

“Inari hanya ingin melihat kucingnya, bu. Kata bu Herlina Inari rewel sejak pagi. Dicari-cari, kucingnya tidak juga ketemu. Bu Maria lihat kucing Inari tidak?” kata saya, lalu memasukkan permen ke dalam mulut saya sendiri, dan tidak sampai semenit saya sudah memecah permen itu dan menguyahnya hingga halus—itu sudah menjadi kebiasaan saya. Kini Inari berada di atas kursi panjang yang terbuat dari bambu.

“Tidak. Yang warna coklat itu kan?”

“Iya. Ke mana ya?”

“Duh, saya tidak tahu.”

Bu Maria keluar dari dalam warung, ia ikut menenangkan Inari dengan cara ala ibu-ibu. Tetapi usaha itu sia-sia, Inari tetap menangis, dan berucap tidak jelas yang saya mendengarnya sebagai, “Miem”. Bu Maria menjadi gemas. Ia gendong Inari, dan menggoyang-goyangkannya. Lalu bu Maria masih dengan gemas mencium pipinya, ia terlihat lebih menekankan bibirnya beberapa saat kemudian. Inari mengeraskan tangisnya, bu Maria membiarkan bibirnya berada di pipi Inari. Saya terkikik melihatnya.

 

***

 

Setelah beberapa menit di warung bu Maria, saya melanjutkan jalan-jalan. Matahari sebentar lagi akan sempurna tidak terlihat. Saya lihat jam tangan, pukul lima lebih dua puluh menit. Saya belum mempunyai keinginan untuk pulang. Ayah Inari mungkin sudah pulang dari tempat kerja, dan menanyakan Inari kepada bu Herlina.

Saya ke arah lapangan sepak bola. Setiap sore tempat itu selalu ramai. Para remaja bermain sepakbola. Mereka baru akan pulang menjelang azan magrib berkumandang, bahkan bisa setelah magrib jika mereka sedang semangat-semangatnya. Saya juga suka dengan sepak bola. Klub idola saya Manchester United. Ayah kerap melarang saya menonton sepak bola di tengah malam di televisi. Saya kerap tak mematuhi nasehatnya. Ketika di sekolah saya sering mengantuk.

Dan karena bola, saya pernah juga beberapa kali taruhan dengan teman laki-laki—perempuan di kelas saya tidak ada yang menyukai sepakbola. Teman sebangku saya selalu mengingatkan saya. Tetapi taruhan itu seperti candu, membuat kita ketagihan.

Di kelas dua belas ini saya sudah berjanji, untuk menghentikan sepenuhnya kebiasaan buruk itu. Ini kelas akhir, saya harus fokus, saya harus diterima di perguruan tinggi favorit.

Tiga puluh meter sebelum saya tiba di lapangan, dari arah berlawanan tampak segerombolan remaja berjalan. Mereka tahu saya suka bola, jika saya ada waktu luang, saya menonton mereka.

Sabri yang berwajah lumayan tampan mendekati saya. Sementara remaja yang lain berlalu, setelah menyapa saya.

“Mau menonton sepak bola?”

“Tidak,” jawab saya ketus. Inari masih menangis, meski suaranya sudah mengecil.

“Kau ini seharusnya tidak mau digendong sama Cornelia, kau pasti diapa-apakan ya?”

“Sudah sana, pulang. Cerewet!”

Inari menatap Sabri dengan kepolosan. Tangis mereda.

“Tunggu sebentar,” kata Sabri, begitu melihat gelagat saya yang akan berjalan.

“Apalagi?”

“Kau cantik.” Begitu ia berkata, ia langsung lari terbirit-birit. Saya mendesah kesal. Saya kembali berjalan. Tentu di lapangan sudah tidak ada siapa-siapa. Di ujung barat, sinar matahari masih terpancar meski begitu lemah. Saya duduk di kursi bawah sebuah pohon, tempat yang menjadi langganan saya melihat sepakbola. Entah siapa yang membawa kursi itu kemari, saya tidak tahu.

Saya memeluk Inari sembari mata memandang sekeliling, saya berharap kucing Inari ada di sini. Tetapi tidak ada seekor kucing pun setelah saya amati sekitar. Tangis Inari benar-benar reda. Hati saya tenteram. Mungkin Inari lelah.

“Mungkin kucingmu akan kembali besok,” kata saya. Tetapi kemudian Inari memberontak dari pelukan saya, tangannya yang mungil mengarah ke semak-semak yang berjarak sekitar tiga puluh meter dari saya duduk. Saya menoleh ke arah kanan.

“Apa?”

Tangannya terus mengarah ke semak-semak dan Inari berupaya melepaskan dirinya dari penguasaan saya. Saya pun beranjak dari duduk. Jangan-jangan kucing Inari, kata saya dalam hati. Saya ke semak-semak yang ditunjuk Inari. Saya mendengar kucing mengeong. Saya menyibakkan semak agar tidak menghalangi langkah saya untuk lebih mendekat dengan suara itu. Jantung saya hampir copot seketika begitu melihat ada seekor anjing dengan perut bermandikan darah di balik semak yang saya sibak. Saya berlari menghindar dari semak. Dada saya berdebar, detak jantung tidak karuan.

Beberapa meter dari semak, tiba-tiba saja air mata saya menetes. Saya teringat seekor anjing berwarna putih, mirip anjing yang sudah tidak bernyawa yang baru saja saya jumpai. Anjing itu milik Pak Dawam, seseorang yang tinggal di kampung sebelah. Saya benci Pak Dawam, ia telah membuat ayah terluka. Ibu berselingkuh dengannya saat saya menginjak kelas dua sekolah menengah pertama. Dari perselingkuhan itu lahirnya seorang anak yang umurnya saat ini empat tahun. Saya mengutuk ibu.

Pernah suatu kali, dua tahun setelah ayah menceraikan ibu, secara tidak sengaja saya bertemu dengan ibu di pasar. Ibu mencoba mengajak saya berbicara, pada saat itu saya tahu ibu hendak meminta maaf dan mengungkapkan penyesalannya. Saya langsung berlari. Saya marah, sedih, dan kecewa. Saya tidak akan pernah memaafkan ibu. Saya persetan dengan hidup saya yang sejak lima tahunan belakangan tanpa seorang ibu.

Karena anjing yang tidak bernyawa itu terus membayang di benak, saya menjadi ingat dengan rencana lama ayah ; membunuh anjing Pak Dawam. Sementara Inari kembali memberontak, saya membalikkan badan, tampak seekor kucing berwarna coklat menatap ke arah saya dan Inari.

 

 

Penulis                   : Risen Dhawuh Abdullah / Penulis merupakan mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2017. Bukunya yang sudah terbit berupa kumpulan cerpen berjudul Aku Memakan Pohon Mangga (Gambang Bukubudaya, 2018).

Editor                     : Mu’arifatur Rahmah

Sumber Gambar  : styletrack.ru

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *