Disadari atau tidak ternyata pergerakan mahasiswa di Universitas Islam Indonesia (UII) sudah hampir terbunuh lenyap ditelan bumi entah kemana. Teriakan “Hidup mahasiswa!” yang selalu menjadi jargon andalan, kini telah asing terdengar. Hanya pada saat-saat tertentu saja, jargon tersebut akan senatiasa dikumandangkan, namun bukan lagi menyimbolkan suatu kejayaan mahasiswa yang sebenarnya. Ironisnya lagi, para mahasiswa yang mengikuti suatu aksi cenderung tidak mengerti persoalan serta permasalahan apa yang sedang terjadi.

 

Kurangnya politik gerakan pendidikan moral mahasiswa

Sebenarnya kita sangat berharap pada pendidikan, sebagai pencerahan dan kesadaran kritis terhadap mahasiswa terkait peran dan tanggung jawab sosialnya. Sebagaimana diungkapkan oleh Buya Syafi’i Ma’arif, bahwa hakikat pendidikan bukanlah sekadar proses penanaman nilai-nilai moral untuk membentengi diri dari akses negatif globalisasi. Langkah reformasi yang dilakukan melalui gerakan moral mahasiswa akan menjadi salah satu ciri khas di dalam elemen masyarakat karena mahasiswa dianggap paling lama dalam melahap proses pendidikan. Sementara proses kritis berbasis massa dilakukan dengan aksi nyata yang dapat terlihat.

Tetapi yang paling urgent adalah bagaimana nilai-nilai moral yang ditanamkan pendidikan mampu berperan sebagai kekuatan pembebas (liberating force) dari himpitan kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan sosial, budaya serta ekonomi.

Dalam konteks perubahan sosial, pendidikan merupakan prahara dari percepatan perwujudan cita-cita keadilan di masyarakat, karena pendidikan merupakan media transformasi kritis pencerdasan dan pencerahan sosial. Makanya sangat cocok menempatkan mahasiswa dan gerakannya menjadi kekuatan dinamisator yang mampu mendorong secara radikal perubahan-perubahan sosialnya baik pada tingkat negara maupun di tingkat kampus.

Oleh sebab itu, disadari atau tidak inilah dunia pendidikan yang dehumanistik dan membunuh proyeksi perwujudan peradaban universal kedepan. Apalagi, pendidikan yang tidak orientatif pencerahan ini hanyalah mengantarkan peserta didik pada penguasaan pengetahuan  dan melepaskan dari aspek-aspek etika sosialnya berupa tanggung jawab untuk mewujudkan tatanan yang berkeadilan dan berkemanusiaan.

Apabila melihat dalam perspektif Islam, cita-cita Islam bukanlah mencetak ilmuwan sebagaimana dalam tradisi barat yang sekuler serta memisahkan keberadaan agama dan ilmu pengetahuan. Akan tetapi jauh dari pada itu semua, Islam berorientasi untuk mencetak manusia yang berintelektual yang mampu menempatkan pengetahuannya sebagai alat pembebas sosial masyarakat dari segala bentuk tirani dan diktatorian.

 

Apakah masyarakat masih bisa berharap kepada mahasiswa?

Persoalan dan permasalahan di negeri ini begitu banyak tidak bisa dihitung skalanya. Mulai dari kasus intoleransi, konflik agraria dan isu politik nasional terus bergulir. Mungkinkah rakyat masih bisa menaruh harapan kepada mahasiswa yang katanya mengabdi untuk masyarakat serta menjadi Agent of Change dan Social Control.

 

Kurangnya Diskursus Politik

Kelemahan gerakan mahasiswa hari ini adalah diskursus politik. Tidak dapat dipungkiri, salah satu hal pokok dalam gerakan mahasiswa 90-an adalah radikalisasi politik. Diskursus politik berlangsung dengan sangat gencar dan mendalam, terlihat dari munculnya berbagai kelompok diskusi di berbagai daerah seperti Yogyakarta, Salatiga, Bandung, Jakarta dan daerah lainnya.

Kajian-kajian politik yang filosofis hampir menyebar secara rata di beberapa daerah. Berbagai macam spektrum politik pun dikaji dan didiskusikan dengan serius, dari kanan hingga kiri.

Aksi massa tidak akan berarti apa-apa tanpa perkembangan diskursus sosial politik yang mendalam. Intelektualitas gerakan perlu dipertanyakan, apalagi yang menyangkut pokok-pokok gerakan. Mulai dari kajian terhadap tuntutan, metode pendekatan intelektual secara akar rumput, sampai tahap-tahap mempersiapkan pendidikan politik berkepanjangan untuk gerakan. Sekarang begini, berapa banyak mimbar bebas yang dibuat untuk menanggapi isu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)? Berapa banyak kegiatan diskusi yang membahas Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law yang bermasalah itu? Berapa banyak diskusi atau debat publik menanggapi konflik di papua? Berapa banyak pendidikan politik dan hukum terhadap isu RKUHP? Apakah sebanyak rapat organisasi-organisasi internal kampus? Atau sebanyak konsolidasi aksi di kampus? Silakan pembaca menyimpulkan sendiri.

 

Terkadang Dipersulit oleh Dewan Mahasiswa

 

Seharusnya para dewan mahasiswa yang sekarang menjabat mampu menjadi pelopor kepada lainnya, dan memberikan ruang seluasnya untuk berdialektika serta mampu menjaga dan mengembalikan ruh mahasiswa. Hal itu dapat dilakukan dengan terus memompa semangat untuk membaca buku, lalu melaksanakan kebebasan berdiskusi sebagai cara mahasiswa berekspresi serta mengungkapkan rasa keresahanya, sehingga proses transformasi dan keterbukaan juga tetap ada di lingkungan kampus.

Namun meskipun demikian, mahasiswa juga harus mampu menjadi pelopor moral di masyarakat sebagai tanda segmen pemuda yang tercerahkan dan memiliki kemampuan intelektual sekaligus sebagai orang yang memiliki kemampuan logis dalam berfikir sehingga dapat membedakan dan berimajinasi secara progresif. Kemudian gerakan mahasiswa dan terlebih khususnya lagi di UII seharusnya ada proses perubahan sosial melalui reformasi.

Saya pernah memiliki pengalaman mengadakan acara diskusi di kampus yang ternyata malah dipersulit. Waktu itu bersama kawan-kawan Study Club Bundaran Kritik mengangkat tema Hari Pahlawan Nasional, kala itu berniat mengundang pihak-pihak organisasi internal kampus seperti Dewan Permusyawaratan Mahasiswa (DPM) dan Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) UII untuk berkolaborasi.

Tujuannya agar ada proses dialektika antara mahasiswa dan wakil mahasiswa yang menjabat di organisasi. Alhasil, harapan yang harusnya indah tersebut justru berbanding terbalik. Setelah saya mencoba menghubungi pihak DPM, malah dipersulit untuk menunjukkan surat perizinan dan tanda tangan dari rektor serta ketua DPM terlebih dahulu.

Tetapi akhirnya, karena konsep diskusi saat itu sudah begitu matang. Kami pun terpaksa tidak menggubris. Meskipun pihak dari DPM mempersulit dan tidak datang, diskusi berjalan sangat cair yang dihadiri mahasiswa lintas fakultas. Mereka yang hadir mengkritik penghilangan sejarah-sejarah di UII dan menolak kelompok ekstrimisme di dalam kampus.

Dari cerita pengalaman tersebut, kita bisa mengerti bahwa gerakan mahasiswa ternyata justru dipersulit oleh pihak mahasiswa itu sendiri. Padahal kalau kita bersatu akan menjadikan gerakan mahasiswa semakin progresif dengan adanya ruh pergerakan pada tiap mahasiswanya.

Oleh sebab itu, saran saya kepada semua elemen perlu adanya suatu proses transformasi informasi, penanaman intelektual dan militansi, transmisi mahasiswa, demi mempersiapkan aktor perubahan yang siap dengan segala kondisi.

Harapan terbesar saya bahwa gerakan mahasiswa kedepan lebih responsif dan solutif dalam melihat isu-isu situasi baik dalam skala nasional maupun regional termasuk yang ada di dalam kampus sendiri, karena dalam hal ini mahasiswa adalah PEJUANG-PEMIKIR, PEMIKIR-PEJUANG!

 

Penulis                 : Gading Pamungkas / Ketua SC Bundaran

Editor                   : Rigo Septian

Sumber Gambar : kognisia.co

 

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *