Judul buku: Student Hidjo

Pengarang: Mas Marco Kartodikromo

Penerbit: Penerbit Narasi

Kota terbit: Yogyakarta

Tahun terbit: 2018

Tebal buku: 185 halaman

Jenis: Novel

 

Novel Student Hidjo ialah sebuah fiksi yang memceritakan kehidupan seorang pemuda pada zaman pergerakan Indonesia. Si pemuda yang baru saja menyelesaikan sekolah di Hoogere Burgershcool (HBS)—setingkat SMA—itu kemudian diminta untuk melanjutkan sekolahnya menjadi insinyur di Belanda oleh sang ayah. Dalam novel ini, diceritakan juga lika-liku cinta antara beberapa tokoh dengan tokoh utama, yakni si pemuda itu sendiri yang bernama Raden Hidjo.

Buku yang tak terlalu tebal ini, mengambil latar cerita pada masa sebelum peperangan terjadi dan bangsa Indonesia hidup bercampur-baur dengan bangsa Belanda. Buku ini berhasil dengan baik menggambarkan bagaimana pola fikir bangsa lewat sekolah-sekolah bentukan Belanda dan pandangan terhadap dunia Jawa yang makin berkembang.

Karya ini menggunakan bahasa yang masih sangat baku dan beberapa kata menggunakan bahasa Belanda. Hal itu karena karya ini kali pertama ditulis pada tahun 1918 dan diterbitkan menjadi buku pada tahun 1919. Dengan begitu situasi yang digambarkan oleh Mas Marco Kartodikromo terasa sangat dekat dan juga nyata.

Melalui karya ini, Mas Marco Kartodikromo juga menceritakan detail bagaimana tata krama orang Jawa dan bangsa Belanda pada masa itu. Kebanyakan orang Jawa pada masa itu masih memperhatikan derajat dalam urusan sosial. Maka dari itu, munculah ihwal ayah Hidjo ingin sekali menyekolahkan anaknya ke luar negeri agar tidak dipandang rendah oleh pegawai pemerintah, karena ia sendiri hanyalah seorang saudagar.

Konflik dalam novel ini mulai muncul kala sang ibu, Raden Nganten Potronojo, tidak setuju akan rencana sang ayah. Sekali lagi Mas Marco Kartodikromo berhasil membikin alasan yang sangat dekat denagan kehidupan kita, Raden Ngaten takut apabila di negeri orang, Hidjo melenceng dari jalan kebajikan. Apalagi, Hidjo telah memiliki tunangan bernama Raden Ajeng Biroe yang merupakan anak dari saudaranya.

Singkatnya, setelah menerima bujukan-bujukan dari sang ayah dan juga Hidjo sendiri, akhirya Raden Ngaten merelakan Hidjo pergi menuntut ilmu ke Belanda. Sepeninggalan anak nya itu, Raden Nganten justru jatuh sakit disebabkan beban pikiran memikirkan Hidjo yang tak lain ialah anak satu-satunya yang dia miliki.

Hidjo ialah tokoh utama yang digambarkan sebagai pemuda yang pintar dan gemar membaca di manapun ia berada. Dia juga sangat pendiam kecuali lawan bicaranya yang mengawali obrolan terlebih dahulu. Di novel ini, ia adalah sosok yang digambarkan sebagai pemuda yang baik-baik dan tidak mudah tergoda.

Sesampainya di negeri Belanda, Hidjo tinggal di rumah saudara gurunya yang merupakan direktur perseroan di Den Haag, yang ternyata memiliki dua anak perempuan yaitu Betje dan Marie. Betje yang pertama kali melihat Hidjo ternyta jatuh hati kepadanya. Sampai akhirnya mereka berdua saling berhubungan tanpa sepengatahuan siapapun.

Hidjo yang sedang berada di Belanda, saat itu telah merasa bahwa apa yang dilakukannya selama ini adalah salah. Godaan demi godaan yang dilakukan Betje berusaha ditahannya walaupun akhirnya sekali dua kali dia lengah. ia merenungi dan memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Karena ia tidak ingin mengecewakan keluarganya, terutama sang ibu.

Tema yang tersirat dalam novel ini adalah kehidupan seorang pemuda pada masa sebelum peperangan yang bersekolah ke negeri Belanda, juga dengan lika-liku kisah cinta tokoh utama. Sedang bahasa yang digunakan di novel ini cukup berat, dan beberapa kata atau kalimat menggunakan bahasa daerah Jawa dan bahasa asing seperti bahasa Inggris dan bahasa Belanda.

Selain itu, Mas Marco Kartodikromo juga menggunakan bahasa yang sedikit sulit dimengerti oleh sebagian orang, yaitu dengan bahasa yang sangat baku mengikuti sajak sastra jaman dulu. Munurut hemat saya, penulis kurang memperlihatkan dinamika dalam cerita. Klimaks cerita kurang menonjol sehingga para pembacanya merasa dinamika cerita agak sedikit datar.

Meski demikian, kisah yang diceritkan cukup merarik, dengan sedikit konflik dan akhir yang bahagia. Di sini juga kita dapat mengambil pelajaran untuk menjadi orang yang rajin membaca, berbicara secukupnya dan tidak membuang-buang waktu untuk sesuatu yg tidak berguna, seperti sosok pemeran utama di novel ini.

Saat membaca buku ini saya merasa sambil belajar, karena di novel ini, Mas Marco Kartodikromo memberikan beberapa kosakata dalam bahasa Belanda dan bahasa Inggris. Dengan penulisan yang bernuansa jaman dulu, kita bisa merasa ikut tenggelam dalam suasana yang diceritakan oleh penulis.

Penulis: Siska Anggreni

Editor: Iqbal Firdaus

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *