Pilardemokrasi.com, Kampus Terpadu UII—Kita semua pastinya mengetahui, bahwa guru ialah sarana pendidik pada sebuah lembaga pendidikan. Dan, posisi pengajar yang lebih tinggi dari guru adalah dosen. Fungsi dosen tak jauh dari fungsi guru, salah satunya yakni sebagi pengajar.

Dosen memiliki andil sangat besar dalam memberikan informasi yang sangat luas pada mahasiswa agar dapat mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni sesuai dengan bidang masing-masing. Tidak lupa, dosen juga memiliki fungsi mengabdi kepada masyarakat.

Selain adanya perbedaan tugas, batas pensiun seorang guru dengan dosen pun berbeda. Seorang guru akan mengalami pensiun saat usianya memasuki 60 tahun, sedangkan dosen mengalami pensiun pada usia 65 tahun.

Berdasarkan Permenristekdikti Nomor 26 Tahun 2015 dan Permenristekdikti Nomor 2 Tahun 2016, bahwa seorang dosen yang telah memiliki Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN), dan dosen dimaksud bukan profesor, maka akan pensiun dalam usia 65 tahun, kecuali yang telah memiliki jabatan fungsional profesor yang akan pensiun dalam usia 70 tahun.

Di tahun 2018 lalu, jumlah dosen yang akan pensiun di Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) tercatat sebanyak 7 orang. Para dosen tersebutlah yang telah ikhlas mengabdi dan memberikan pengaruh yang besar demi perkembangan UII. Dari 7 dosen tersebut, tim Pilar Demokrasi berkesempatan berbincang dengan Sidik Tono, salah satu dosen Prodi Ahwal Al-Syakhshiyyah. Berikut perbincangannya:

Bagaimana dulu Bapak bisa menjadi dosen di FIAI?

Saya menjadi dosen di FIAI sejak tahun 1985. Pada tahun itu, saya menjadi dosen ada beberapa jalur; yaitu melalui tes seperti membaca kitab kuning. Tidak seperti sekarang, kalau sekarang tesnya seperti TPA (Tes Potensi Akademik). Kalau saya dulu SLTA lulusan di salah satu pondok di daerah Klaten.

Bagaimana kesan Bapak selama menjadi dosen di FIAI?

Kesan saya menjadi dosen di FIAI itu adanya peluang, memenuhi beberapa syarat, dan senang seperti layaknya mahasiswa yang diterima di kampus favorit. Sebenarnya saya dulu tidak ada tujuan apa-apa untuk menjadi dosen di FIAI, dan itu  mengalir saja karena semasa menjadi mahasiswa, saya tidak ada berfikir untuk menjadi dosen. Di situ saya belajar dan belajar terus untuk meningkatkan prestasi.

Saya memilih UII karena adanya kesempatan. UII adalah tempat pengabdian yang paling bagus, menyenangkan, serta memiliki nilai dakwah berbeda dengan perguruan tinggi yang lain, seperti Catur Darma yang berisi nilai dakwah. Jadi di sini saya selain menjadi dosen, saya juga berniat untuk berdakwah.

Selama menjadi dosen di FIAI, Bapak juga pernah menjabat menjadi apa saja?

Selama saya menjabat menjadi dosen di FIAI, saya pernah menjabat menjadi Kepala Penelitian, sejak tahun 1989-1995 di Fakultas Syariah. Setelah itu saya menjabat menjadi Kepala Perpustakaan. Selanjutnya saya juga menjabat menjadi Pembantu Dekan selama kurang lebih 2 periode. Dan yang terakhir saya menjabat menjadi Ketua Jurusan dan Prodi (setelah sekarang sudah berganti menjadi FIAI).

Apa saja karya dan prestasi yang sudah Bapak capai atau publikasikan?

Karya saya sudah tercantum di Google Schoolar, dan di situ karya saya tertuang. Seperti hasil penelitian dan jurnal internasional yang akan saya luncurkan di akhir masa pensiun. Semasa menjadi dosen, saya juga pernah menjadi mahasiswa UII, akan tetapi saya kuliah di Fakultas Hukum UII. Saya terobsesi untuk belajar dan belajar, pada waktu saya S2 umur saya sudah 43 tahun dan S3 saya berumur 60 tahun.

Apakah ada pengalaman menarik Bapak sewaktu menghadapi mahasiswa?

Menurut saya hal itu adalah hal yang biasa karena sifat rajin, malas, dan bandel itu merupakan karakter mahasiswa. Sehingga cara menghadapinya yaitu dengan memberikan keteladanan dari awal hingga akhir pensiun melalui dukungan memberikan semangat menulis.

Bagaimana konsep pengajaran yang Bapak terapkan di kelas?

Konsep saya dalam mengajar di kelas yakni selalu update dalam materi dan selalu meng-update metode-metode dalam pengajaran sesuai dengan kondisi pada saat ini. Seperti metode tindak pidana masa kini.

Mata kuliah apa yang Bapak senangi?

Kalau ilmu dasar, baik seorang dosen maupun mahasiswa haruslah menguasai, seperti Pengantar Ilmu Hukum dan Pengantar Hukum Islam. Pelajaran tersebut haruslah dikuasai karena selalu berkaitan. Sedangkan pada ilmu inti itu seperti Waris dan Jinayah. Kalau Ilmu Waris itu karena ada matematika di dalamnya, sedangkan Jinayah itu termasuk Hukum Pidana, jadi pada waktu mengajar ada efek ke diri sendiri tentang perbuatan-perbuatan yang dilarang sehingga kita bisa menjiwai.

Bagaimana tanggapan Bapak mengeni penggabungan Fakultas Syariah dan Fakultas Tarbiyah menjadi FIAI pada tahun 1998?

Itu hanya efisiensi karena tidak terlalu banyak fakultas sehingga dijadikan Prodi, karena dulu hanya terdapat Fakultas Syariah dan Fakultas Tarbiyah. Barulah pada saat digabungkan bertambahlah 1 Prodi yaitu Ekonomi Islam. Sedangkan Ekonomi Islam sendiri awalnya masuk ke dalam Hukum Islam, baru setelah Fakultas Syariah dan Fakultas Tarbiyah digabungkan, Ekonomi Islam kemudian berdiri sendiri.

Bagaimana keadaan fakultas pada saat masa reformasi?

Pada masa reformasi itu berjalan biasa-biasa saja, tidak ada gejolak apapun. Kalau mahasiswa dan dosen ikut demo itu masih wajar karena memang situasinya pada saat itu. Dari kejadian demo dan sebagainya, dampak terhadap fakultas itu tidak ada karena tujuan mereka melakukan itu hanya untuk menurunkan presiden saja, setelah presiden telah berganti keadaan berjalan mulus dan normal tidak ada masalah. Jadi tidak ada pengaruh apa-apa terhadap fakultas.

Bagaimana kriteria dosen yang baik menurut, Bapak?

Dosen yang bisa membawa mahasiswanya, mentransfer knowledge-nya dengan baik, bisa memberi teladan yang baik. Contohnya dengan cara mengajak sholat berjamaah karena ibadah adalah yang utama, bukan kuliahnya. Apabila ibadahnya baik maka kuliahnya pun akan sukses, memberi kesalehan.

Sampai saat ini, apa yang belum Bapak capai di FIAI?

Hal yang belum saya capai yaitu menjadi guru besar. Kenapa? Karena saya terlambat untuk  belajar. Obsesi saya untuk belajar itu sangat besar, hingga S3 saya pun alhamdulillah sudah terlaksana pada usia tua.

Hal apa yang ingin Bapak lakukan setelah pensiun?

Hal yang akan saya lakukan setelah pensiun yaitu mengabdi apabila masih dibutuhkan. Kalau tidak, ya kita nikmati hari-hari tua dengan meningkatkan ibadah kepada Allah Swt, dan dengan menjaga kebugaran setiap hari, karena apabila fisik kita sehat ibadah kita pun nyaman. Jenis kebugaran yang saya lakukan yaitu dengan berolahraga, seperti bulutangkis dan naik sepeda setiap pagi.

Apa pesan yang ingin Bapak sampaikan kepada Mahasiswa FIAI?

Pesan saya terhadap mahasiswa itu hanya satu; yaitu biasakan berbuat baik agar menjadi kebiasaan seperti belajar, ibadah, dan etika. Hidupkanlah suasana akademik yang baik  seperti melakukan kajian-kajian atau kegiatan yang positif lainnhya. Contohnya, apabila bertemu dengan dosen hendaklah yang dibicarakan adalah ilmu bukan hal yang lain dan membuat grup diskusi untuk keilmuan.

Kalau Pesan Bapak kepada LPM? Hehe

Pesan saya terhadap LPM FIAI yaitu muatlah artikel-artikel yang bersifat edukatif, seperti rubrik pendidikan, rubrik hukum, dan rubrik ekonomi yang mencantumkan ketiga prodi di FIAI dengan memanfaatkan tulisan-tulisan dari mahasiswa.

Terakhir, apa harapan Bapak terhadap FIAI?

Harapan saya terhadap FIAI yaitu menjadi teladan, rujukan. Ciri-ciri Prodi yang maju itu seperti dosen yang produktif.

 

Penulis: Inggried Alvia D.

Editor: Mu’arifatur Rahmah

Reportase bersama: Muhammad Arif C. M., Maulana Ridwan, Anisa Nugrahening P.

Foto oleh: Maulana Ridwan

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *