Ia selalu menggelengkan kepala usai berkenalan dengan seorang lelaki, dengan segala umur. Tidak ada satu pun yang tahu mengapa ia menggelengkan kepala. Bila ada yang bertanya soal penyebabnya, ia selalu punya seribu jawaban sehingga penyebab yang sesungguhnya tidak terbongkar. Ya, semua ini terjadi sejak lelakinya ketahuan selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Ia melihat lelakinya saling melekatkan bibir di sebuah taman pada suatu sore yang cerah. Padahal waktu lamaran sudah ditentukan. Sebelum itu, ia telah empat kali berpacaran. Sebenarnya untuk hubungan yang kelima, ia sempat berpikir dua kali untuk kembali berpacaran. Ia ragu, karena melihat pengalaman masa lalu. Alasan berakhir hubungan hampir sama, mantan-mantannya berpindah ke lain hati. Namun atas dasar kesepian dan perempuan membutuhkan pelukan, ia terima lelaki yang kelima.

Ia memutuskan mengadu pada ayah dan ibunya saat itu. Betapa jiwanya tercabik-cabik melihat kenyataan yang ada. Keluarganya langsung membenci keluarga lelakinya. Untungnya sanak saudaranya hanya satu dua yang mengetahui kalau ia hendak dilamar, jadi keluarganya tidak begitu malu dengan keadaan ini. Keluarganya telah membuat malu keluarga lelakinya dengan mendatangi rumahnya dan menerangkan apa yang sebenarnya telah terjadi. Sempat terjadi percekcokan yang luar biasa. Singkat cerita, hubungan antara dua keluarga itu putus. Sejak itu ia sedikit menjaga jarak dengan semua lelaki. Kalaupun ia harus berhadapan dengan lelaki, ia selalu berusaha sebisa mungkin bersikap sewajarnya—sikapnya terhadap beberapa teman lelaki bahkan terlihat dingin. Ia tidak ingin rasa cinta muncul karena sikapnya yang berlebihan. Ia tidak ingin masa lalunya hadir kembali pada kehidupannya.

Bila mengingat kejadian yang tidak pernah ia duga itu, ia merasa seperti dihantam ribuan batu. Ia tidak menyangka, kisah cintanya yang kelima meninggalkan luka yang begitu dalam. Sebelum-sebelumnya memang ia sakit hati. Tetapi rasa sakit itu tidak semenyakitkan kali ini. Wajar saja, ia dengan mata kepala sendiri mendapati lelakinya saling melekatkan bibir. Setiap kali teringat, kenangan itu selalu menjelma sebilah pisau yang menyayat hatinya. Suatu ketika ia berkata kepada temannya yang bernama Wilujeng; semua laki-laki itu sama saja. Wilujeng hanya tertawa.

“Laki-laki pun juga bisa mengatakan semua perempuan sama saja,” kata Wilujeng, setelah tawanya habis. “Kau tidak bisa menyamakan semua laki-laki. Tidak semua laki-laki seperti apa yang kau pikirkan, Wilastri. Kau saja yang apes, Wilastri.”

“Aku tetap saja tidak bisa menerima apa yang kau katakan itu. Bagiku, tetap saja, semua laki-laki sama. Aku yakin, jika boleh jujur, tidak ada laki-laki yang benar-benar setia. Mereka setia hanya di mulut,” ucapnya menggebu-gebu.

Wilujeng tersenyum.

“Mereka mendekati kita hanya untuk mengejar kepuasaan. Dan mereka tidak pernah merasa puas. Ketika rasa bosan terhadap kita hadir, mereka punya keinginan menghilangkan kebosanan itu dengan cara mencari perempuan lain. Mereka selalu ingin dan ingin mencari perempuan baru,” katanya. Ia tampak begitu yakin dengan kata-kata. “Meskipun mungkin keinginan itu tidak ia wujudkan dalam kenyataan.”

“Itu artinya laki-laki ada yang setia. Kita pun jika boleh jujur, juga seperti itu.”

Ia tetap saja tidak setuju dengan Wilujeng. Baginya lelaki tidak ada yang benar-benar setia. Ia sungguh trauma. Pemikiran itu terus dipupuk dalam kepalanya oleh ingatan. Semakin hari, ia tumbuh semakin kokoh, dan mengakar kuat dalam kepalanya. Ia tidak pernah tahu, apakah pemikiran itu dapat ditebang dan dienyahkan dari kepalanya, atau malah bertahan untuk selama-lamanya. Sesungguhnya jika dipikir-pikir, ialah yang bodoh. Mengapa tidak pernah mengambil pelajaran dari masa lalu?

Rasa trauma itu yang kemudian seperti menjadi pemantik menggerakkan kepalanya setiap berkenalan dengan lelaki. Di otaknya selalu terpahat kata, “tidak” untuk setiap lelaki yang baru ia kenal. Kata itu yang kemudian terwujud dalam bentuk gelengan. Gelengan itu hadir begitu saja, bahkan pernah ia tidak sadar saat menggeleng. Teori apapun tentu sulit menjelaskan hal ini. Tapi demikian kenyataannya—Ia tidak mengatakan yang sebenarnya mengenai penyebab kepalanya menggeleng kepada orang-orang, ia tidak ingin dikatai gila.

“Perkenalkan, namaku Daniel. Siapa namamu?”

“Wilastri…”

“Senang berkenalan denganmu…”

Kurang lebih seperti itu, kata-kata yang tersaji setelah berkenalan dengan seorang lelaki. Setelah tahu nama lelaki yang baru saja dikenalnya, kepalanya refleks, langsung menggeleng, mulutnya seperti hendak berkata, lelaki ini sama saja dengan lelaki lain. Ia sebisa mungkin membuat keadaan biasa-biasa saja, seakan gelengan itu tidak pernah terjadi.

Sungguh. Trauma itu seakan telah menjelma phobia yang begitu akut. Ia sedikit menjaga jarak dengan lelaki. Stereotip, semua lelaki sama saja terus terpelihara di otaknya.

Syarafnya tidak rusak. Ia pernah menghadap dokter pribadi ayahnya pada awal gelengan itu muncul. Dokter mengatakan lehernya dalam keadaan baik-baik saja. Begitu pun kepalanya. Tidak ada syaraf yang eror. Dokter malah menyarankannya untuk datang ke seorang psikolog rekomendasinya. Alih-alih mengiyakan kata si dokter, ia malah dongkol.

Tetapi, mencoba apa yang disarankan oleh si dokter, tidak ada salahnya. Ia hilangkan perasaan dongkol itu. Maka menghadaplah ia ke psikolog rekomendasi si dokter. Ia menceritakan pengalamannya dengan detail.

“Anda hanya trauma biasa,” ucap psikolog.

“Trauma?”

“Anda telah mendoktrin otak dengan pikiran Anda sendiri. Itu yang membuat trauma muncul. Hilangnya trauma hanya masalah waktu saja. Jika mau lebih cepat hilang, Anda harus dapat menerima apa yang terjadi pada masa lalu dengan ikhlas, dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi.”

Nyatanya, ia belum bisa melakukan apa yang dikatakan si psikolog. Ia telah mencoba, tapi tetap saja, setiap berkenalan dengan lelaki ia selalu menggelengkan kepalanya. Entah sudah berapa kali ia menggelengkan kepalanya. Jarak waktu berakhirnya hubungannya dengan kekasihnya yang kelima hingga sekarang, telah terhitung tiga tahun.

 

***

 

Hingga kini ia belum juga dekat dengan seorang lelaki. Kata, “tidak” semakin bercokol kokoh di kepalanya. Satu dua tiga orang temannya ada yang bertanya padanya, mengapa tidak kunjung mencari gantinya. Mereka tidak lelah memberi pengertian, tentang pentingnya lelaki untuk perempuan, dan menerima dengan ikhlas kejadian masa lampau. Mereka menyarankan untuk segera mencari lelaki, mengingat setahun lagi, usianya menginjak tiga puluh tahun. Ia terus menyibukkan diri untuk melupakan makhluk yang bernama lelaki dengan berbagai cara.

Ayahnya telah meninggal dunia setahun yang lalu. Sebulan sebelum pergi untuk selama-lamanya ia sempat berpesan untuk segera mencari jodoh. Ayahnya berkata, “Mumpung ayah masih ada.”

Ibunya tidak henti terus mengejarnya untuk segera mencari jodoh. Bahkan ia sanggup mencarikan jodoh, bila ia tidak sanggup mencari. Ibunya ingin segera memiliki cucu. Ibunya mempunyai impian, ia memiliki anak kembar, entah itu sama jenis kelaminnya, entah beda.

Dengan desakan sana-sini, ia mulai goyah juga. Terkadang ia membayangkan, alangkah bahagia seandainya mempunyai kekasih. Saat ia sedang mempunyai masalah, ia bisa berbagi cerita dengannya, dan darinya ia berharap mendapatkan solusi. Saat ia lelah, dan tidak mempunyai semangat, lelakinya hadir dan merelakan dirinya sebagai tempat untuk bersandar. Saat waktu makan tiba, akan ada orang yang mengingatkannya makan. Ia pun terus membayangkan hal-hal indah lainnya.

Pemikiran yang selama ini singgah di kepalanya pun akhirnya runtuh manakala suatu hari ia berkenalan dengan karyawan baru di kantornya—perlu diketahui ia bekerja sebagai sekretaris. Wajahnya tampan. Hanya saja, kedudukannya masih sebatas karyawan biasa. Rasa-rasanya sudah begitu lama ia tidak melihat lelaki berwajah tampan. Ia kesengsem. Lelaki itu juga kesengsem padanya.

Mereka sering jalan bareng. Lelaki itu seolah diturunkan Tuhan untuk menghapus masa lalunya. Ia mulai lupa dengan kenangan pahitnya. Ia mulai bisa membuka hatinya untuk disinggahi seorang lelaki. Mereka kemudian pacaran. Ia semakin mencintai lelaki itu. Begitu pun sebaliknya. Ia sering dipuji dengan kata-kata indah. Gombalan-gombalan klise yang tidak pernah berganti terus keluar dari mulut lelakinya. Ia merasa cocok dengan lelaki itu. Akan tetapi suatu pagi—di waktu yang baginya masih terlampau pagi—ada yang mengganggu hatinya, saat ia mendapati lelakinya berangkat ke kantor berboncengan menggunakan sepeda motor dengan seorang perempuan. Kenangan silam nan pahit, muncul kembali. Ia seperti mendapatkan suatu kebetulan yang begitu berharga, telah berangkat sangat pagi—mungkin lelakinya mengira ia belum berangkat, maka itu ia memberanikan diri berboncengan dengan perempuan lain. “Jangan-jangan sudah berkali-kali seperti ini,” pikirnya.

Ia menanyakan perempuan itu pada lelakinya dengan wajah penuh cemburu. Lelakinya berucap, “Tetangga yang kebetulan berangkat kerja searah.”. Lelakinya juga menjelaskan alasan, kenapa ia berboncengan dengan perempuan itu. Kendaraan sedang bermasalah. Tetapi setelah hari itu, lelakinya kembali berboncengan dengan perempuan itu, hingga berhari-hari kemudian. Lelaki itu enak-enak saja tanpa dosa berboncengan. Gurat wajahnya seperti berbicara, kalaupun hubunganku dengannya harus berakhir bukan menjadi masalah bagiku. Ia sering melarang lelakinya agar tidak berboncengan dengan perempuan itu. Lelakinya tidak terima, ia merasa diatur. Alhasil, ia sering cekcok dengan lelakinya. Ia menjadi yakin, lelakinya kini sama dengan lelakinya yang terdahulu. Dan suatu ketika, mungkin ia akan kembali menggelengkan kepalanya!

 

Penulis                  : Risen Dhawuh Abdullah/ Penulis merupakan Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2017. Bukunya yang sudah terbit berupa kumpulan cerpen berjudul Aku Memakan Pohon Mangga (Gambang Bukubudaya, 2018).

Editor                    : Mu’arifatur Rahmah

Ilustrasi Gambar : Mu’arifatur Rahmah

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *