Sajak-sajak untuk Perempuan yang Kupanggil Ibu dan Lelaki yang Kusebut Ayah

 

[x]

Jika Anggukan dan Senyuman

Adalah Pualam Ketulusan-mu

 

Jika Pelukan dan Kecupan

Adalah Rinai Kasih Sayang-mu

 

Doa-mu; hujan yang tak pernah berhenti

Cinta-mu; udara yang mengiringi

 

Bahkan, setiap kata adalah nyata

 

Tak Ada Kiasan, Padanan, Ungkapan;

Yang Mampu Bersanding denganmu, Ibu.

 

[!]

Rindukah Kau?

Bersama Menatap Senja

Menunggu Bedug

 

Rindukah Kau?

Mengeluh tentang Lelah,

Yang Kata-Nya Tak kan Lama

 

Rindukah Kau?

Merasa Tua, Tak Lagi Lama,

Berpesan Patah-patah

 

Dengarlah, Ayah

Aku rindu tentang jejak yang tak bisa hilang

Aku rindu tentang kasih yang tak kunjung usai,

Pada waktu fajar;

Yang Hilang

Tak Kembali!

 

[*]

Ayah;

Aku tetaplah seorang Anak Kecil yang Berharap Pelukan-mu

Dan,

Kau Tetaplah seorang Lelaki yang Tak Pernah Mengucap Rindu

Lalu,

Aku Beranjak Besar

Lalu,

Kau Perlahan Memudar

Hingga,

Kau Mampu Berujar Rindu

Tapi,

Kau Tak Lagi di Sampingku.

 

[-]

Ada Barisan Kenangan tentang Jutaan Kebahagiaan.

Kujajar rapi pada Sudut Hampa; Tempat rasa Bermuara

Kuambil satu buku yang berjudul Pengorbanan; Kulihat Ibu menyuapiku Ayam, sedang Ibu Mengunyah Nasi bercampur Garam

Aku Tergugu Menyibak Pilu.

Lagi, Kuambil Buku Lain yang berjudul Ketulusan; Kulihat Ayah pulang Memelukku senang, padahal Penopang Tulang Tak lagi Seimbang

Aku termenung menatap wajahnya yang kini Bercahaya dalam Bingkai.

Lagi, Kuambil Buku Bening yang berjudul Perempuan; Kulihat Aku, Menatap Aku, Tersenyum pada-ku. Aku tutup Buku itu dengan tangan bergetar. Aku buka lagi perlahan; Ada Wajahmu tersenyum, menatap Aku.

 

 

Ayah

 

Nak, kau sudah bertambah besar.

Semoga hatimu juga semakin melebar.

Nak, kau sudah berjalan sendiri.

Maukah kau berjanji?

Kelak jika kau telah gagah berdiri,

Berbaliklah untuk menatap Ayah dan berkata;

“Ayah, kau telah abadi. Sejak aku belum berdiri”

 

 

Teruntuk Kamu yang Ditunggu Waktu

 

/1/

Aku merindumu

Kau merinduku

Bagaimana kalau kuberi penawaran?

Tulislah rindu itu di secarik kertas

Gantungkan pada angin

Kita hirup bersama

 

/2/

Kita sudah merindu bersama

Kukira akan selesai

Nyatanya

Guratan manismu masih tercermin

Dalam derap keramaian kaca

 

/3/

Kutapaki, selurus kidung senja

Kudapati rindu berserak berai

Kupunguti satu demi satu

Ada yg terjatuh

Kupungut tanpa ampun

Kini, semuanya utuh

Menjadi kamu

 

/4/

Ada sendu;

Saat kau urai rambut.

Mengurai kabut

Menyentuhmu, lalu berebut.

 

Ada janji;

Kala senyummu mengoyak sepi.

Janji untuk kembali

Berbagi kasih.

 

Kuberi penawaran;

Segumpal hati,

Dengan tulusnya,

Beningnya,

Dan sepasang cincin; Mau?

 

/5/

Kusajikan sepiring rindu;

Segelas kasih,

Sepotong kebencian;

Lalu kau datang dan berkata,

“ada yang kurang, Sesendok luka!”

Kau nikmati semua sajiannya;

Kemudian kau Memanggilku,

“Inilah rasanya cinta!”

 

/6/

Denting garpu, sendok;

Ramai memang,

Sial! Suaramu yang terngiang.

 

Bising nafas mereka yang berbual;

Sengau memang,

Tapi, kulihat kau berjalan seperti biasa.

Hingga di batas pertigaan,

Kau hilang.

 

/7/

Di sepertiga malam

Kutengok wajahmu ragu

Lalu kupejamkan mata

Masih kutengok wajahmu ragu

Kuambil derai air

Kumengaduh, terlelap;

Kutengok kau berjubah putih,

Tersenyum dan berkata,

“Kutunggu kau di pertigaan, tempat aku menghilang”.

 

/8/

Rindukah kau?

Pada kemarin, saat angin menerpa lembut pipimu membuatmu tersenyum malu.

Rindukah kau?

Pada temaram senja, kala kupanggil namamu mengharapkanmu mendengar tapi kau tak berbinar.

Rindukah kau?

Mengeja deretan kata tentang cinta, luka, dan tiada; hingga kau terus berjalan ke arah sana, sedangkan aku berdiri mematung di sini.

Menunggumu kembali.

 

 

Penulis                   : Akhmad Idris / merupakan Dosen dan Penulis Buku “Wasiat Nabi Khidir untuk Rakyat Indonesia”

Editor                     : Mu’arifatur Rahmah

Ilustrasi Gambar  : Abdul Khaliq

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *