Setelah kedatangan satu wisatawan yang belakangan diketahui dari Asia itu, tugas Rogyapas dan kapak tembaganya kini telah mendapat mangsa. Tiap hari Rogyapas selalu mengasah kapak bermata runcingnya itu sebagai bentuk persiapan bilamana ada job mencacah jenazah di altar kematian.

Di pedesaan yang jauh dari hiruk-pikuk kemacetan dan pada setiap sudutnya ternaungi es abadi itu, hawa dingin menusuk rusuk. Di sanalah suku Tibet dan orang-orang Mongol menetap sejak ratusan bahkan ribuan tahun lalu. Orang-orang pribumi yang menetap di sana banyak mengandalkan keahlian sebagai pemandu wisata pendakian.

“Permisi, Pak?” ucap seorang perempuan.

Perempuan itu datang bersama senja. Ia melapor pertama di pos penjagaan dan meminta bantuan untuk dicarikan tempat penginapan yang menyediakan fasilitas air hangat. Di pos pertama itu ada lima orang petugas yang siap melayani para pendaki setiap harinya. Di tempat yang tidak begitu luas itu jugalah tersedia perlengkapan bagi siapa saja yang ingin menyewa alat-alat pendakian.

“Untuk waktu dekat Nyonya tidak bisa mendaki dulu?” ucap lelaki berbaju kotak-kotak

“Kenapa?”

“Beberapa hari ini puncak mengalami badai yang sangat hebat, sangat sulit sekali jika tetap memaksa pergi ke sana!” perempuan itu hanya memandang jauh ke puncak gunung, sejurus kemudian ia bangkit dari kursi, keluar sambil memeriksa sibuk dengan ponsel pintarnya.

Kemudian, Angelina memanggil perempuan itu kembali, meminta tanda pengenalnya supaya bisa didata. Memang, sudah menjadi hal wajib setiap tamu yang datang berkunjung ke sana: memberikan kartu tanda pengenal dan diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan dasar terkait riwayat diri serta pemahaman dasar terkait medan yang akan dilalui saat mendaki nanti.

“Anda dari Asia?” tegur Angelina. Dahi Angelina sedikit mengkerut

“Benar!”

“Kau tampaknya seorang yang pendiam!”

“Tidak juga!”

Beberapa lama, kedua perempuan itu terlibat dalam perbincangan hangat. Angelina awalnya mengira wanita yang dihadapinya itu songong dan pendiam. Ternyata belakangan muncul siluet, bahwa apa yang kita lihat tidak menjamin watak dari orang yang dihadapi. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan oleh Angelina kepada perempuan bermata sipit yang mempunyai tubuh sintal serta selalu membawa sesuatu di tangannya itu. Lebih tepatnya mirip botol berwarna hijau. “Aku menyayangi ibu dan Ayahku!” tukasnya. Sekonyong-konyong mukanya yang seranum mawar seketika redup. Sementara, Angelina tidak mengerti maksud dari perkataan perempuan di depannya.

Ia mulai bercerita perihal ibunya. Ia berujar, sewaktu kecil perempuan yang belakangan diketahui bernama Soraya itu hidup di sebuah rumah kecil yang halamannya sangat rindang sekali, tiap pagi banyak aneka burung warna-warni bertengger di depan rumahnya. “Rumahku banyak pohonnya, Ayah yang selalu menanamnya,” tukasnya. Tiap pagi dan sore kami bertiga selalu menyempatkan diri berkumpul di halaman rumah. Main ayunan sampai pada tebak-tebakan suara kicau burung apa yang sedang meracau. Ibu selalu memasak makanan kesukaan ayah dan aku. Ayah suka teng-teng kacang sementara aku suka roti selai kacang. Tikar dihamparkan, dan pesta sederhana itupun dimulai. Jadi, kami berpesta hampir setiap hari kecuali jika hujan menerpa.

Suatu kali, dan itu menjadi hal paling diingat oleh Soraya sepanjang hidupnya ketika ibunya tergeletak diantara pohon-pohon rindang. Selekas mungkin ayahnya yang masih berada di dalam rumah berlari terbirit-birit setalah Soraya berteriak memanggil nama ibunya. Dipapahlah tubuh ibu, mata yang selalu memberi ketenangan itu mulai sayu, serta ada air mata yang mulai menetes dari pelupuk matanya. Ayah berteriak sejadi-jadinya sementara Soraya tercengang dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.

Saat kejadian, ibu yang mengenakan baju putih bergambarkan pohon kamboja yang baru mekar perlahan dari dadanya mulai mengeluarkan darah. Bajunya basah oleh kucuran berwarna merah pekat, perlahan ayah membuka kancing baju ibu, terlihat dada sebelah kiri ibu telah tertembus timah panas yang tembus sampai punggung. Ibu tergelatak, mukanya pucat dan tak ada gerakan sama sekali.

Dipeluklah tubuh ibu dengan erat, sementara aku mulai meneteskan air mata. Kematian ibu merupakan bentuk kematian pertama yang aku saksikan sekaligus kematian yang tragis, melihat bagaimana kerja malaikat maut memisahkan nyawa dari yang punya inang. Tak berselang lama, muncul tiga orang berpakaian jaket hitam, ketiganya semakin mendekat pada kami yang sesenggukan. Aku melihat itu, sementara ayah masih meratapi jenazah ibu yang lunglai tak bergerak.

Ketiga orang berjaket hitam itu semakin mendekat setelah melompati pagar rumah yang terbuat dari bambu, “Rasakan… ini akibatnya kau tak mengindahkan kami hakim sialan!” tubuh ayah yang memeluk ibu tersungkur beberapa kali setelah di ditendang oleh ketiga orang itu. Tendangan, pukulan mendarat telak di muka dan di perut ayah. Ayah mengerang kesakitan, akan tetapi erangan itu tetap saja tidak diindahkan oleh ketiga orang berjaket hitam itu. tubuh ayah yang sudah renta hanya mampu mengelak beberapa kali dari pukulan dan tendangan mereka. Kusaksikan lumuran darah mulai menggenangi mukanya. Aku melihatnya dengan jelas. “Pergi… Soraya! Lari, Nak!” suara teriakan itu yang selalu kuingat sepanjang waktu. Aku berlari sekencang mungkin menuju ayah yang diinjak dadanya oleh salah satu pria berjaket itu, berharap siksaan itu segera berakhir. Namun, sebelum aku sampai pada tubuh ayah, pas di depan mata kepalaku sendiri tubuhnya diberangus oleh suara tembakan yang memecah kepalanya lagi dan lagi. Orang yang memegang senjata itu membabi buta tubuh ayah dengan pistol di tangannya.

“Itulah peristiwa kematian pertama yang pernah kusaksikan dalam hidupku, Angelina!” ucap Soraya pada lawan bicaranya itu. Angelina menatap sedih Soraya seraya mengucapkan permintaan maafnya karena sudah mengingatkan ia kembali pada kenangan pahit ditinggal kedua orangtuanya dengan kematian yang tragis.

***

“Mari kuantarkan kau ke penginapan.” Berjalanlah mereka berdua menyusuri jalanan yang tertutup salju.  Udara sangat dingin sekali malam itu. Penginapan yang dinding-dindingnya terbuat dari kayu lumayan mampu mengurangi rasa dingin yang menerpa kulitnya.

Sambil menunggu cuaca di atas gunung membaik, Soraya banyak menghabiskan waktunya bercengkrama dengan masyarakat sekitar, seiring berjalannya waktu Soraya mulai disukai anak-anak penduduk setempat. Soraya yang tamatan universitas mampu menarik minat anak-anak untuk sayang kepadanya. Tiap pagi dan sore anak-anak selalu berkumpul di biliknya: Soraya mengajarkan mereka bernyanyi dan membaca.

Namun, suatu kali saat Angelina mengunjungi penginapannya, Soraya ditemukan menggigil. Sontak Angelina membawanya ke klinik terdekat. Klinik itu hanya mampu menampung beberapa orang saja dengan tenaga medis yang tidak sebanding dengan masyarakat yang menetap di sana. Setelah satu hari di rawat di sana, tubuh Soraya tidak menunjukkan tanda-tanda membaik, malah ia semakin parah: batuk, demamnya semakin parah serta sesekali batuknya mengeluarkan darah.

Kemalangan itu berlanjut saat semakin banyaknya jumlah orang yang sakit dengan keluhan yang sama. Hal itu tentunya membuat repot tenaga medis yang bertugas di tempat itu. Alat medis yang pas-pasan serta jumlah obat yang terbatas semakin menambah kesulitan para tenaga medis. Korban satu demi satu mulai berjatuhan, dalam sehari jumlah korban yang masuk ke klinik yang hanya seadanya tersebut semakin meningkat, mulai dari anak-anak, remaja, sampai orang tua.

Tentunya, hal itu semakin membuat panik warga sekitar dan para pemuka agama. Semua bertanya-tanya pada dokter dan anggota medis yang bertugas, “Kami akan mengambil sample darah untuk dites di kota,” jawab dokter yang sudah sepuluh tahun mengabdi di sana. Kesulitan akomodasi memang menjadi masalah selama ini di desa yang terletak di pegunungan yang tertutup salju abadi tersebut. Perjalanan yang harus ditempuh dengan berjalan kaki semakin membuat penderitaan penduduk semakin kentara. “Setidaknya butuh satu minggu lagi untuk bisa mengetahui hasil tes!” lanjutnya.

Selama menunggu hasil tes, penduduk yang bermukim di gunung itu satu persatu mulai tumbang. Dokter dan para perawat yang bertugas mulai kewalahan dengan banyaknya pasien yang terjangkit penyakit, “Jangan-jangan mereka ini terserang virus korona yang menyerang sebagian negara Asia, Dok!” sontak perkataan perawat tersebut mengagetkannya.

Benar saja, apa yang dikawatirkan selama ini benar-benar terjadi setelah hasil tes membuktikan pasien yang dirawat intensif,  semuanya positif virus korona. Hal yang tidak disangka-sangka sebelumnya akan terjadi menimpa suku yang mendiami pegunungan dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan itu. Sesegera mungkin dokter dan perawat mengadakan sosialisasi protokol kesehatan. Meskipun dirasa sudah sangat terlambat sekali.

Suku Tibet dan Mongolia yang mendiami dataran tinggi pegunungan Himalaya satu-persatu mulai tumbang. Klinik sederhana itu sudah tidak mampu lagi menampung banyaknya korban yang terjangkit. Akibatnya, pasien yang tertular banyak dirawat di rumah-rumah penduduk yang awalnya difungsikan sebagai tempat penginapan. Sulitnya medan yang harus ditempuh menjadi hal yang membuat masif korban meninggal dunia. Dalam satu hari ada lima puluh sampai tujuh puluh orang yang meninggal.

Kejadian itu membuat ketua suku dan Lama risau dengan banyaknya korban yang meninggal dunia, ditambah lagi dengan semakin membludaknya pasien baru yang terjangkit.

“Panggil Rogyapas ke mari!” perintah ketua suku pada wakilnya.

Rogyapas yang ditemui di gubuk tuanya rupa-rupanya sudah tau perihal banyaknya orang yang mati karena wabah yang menyerang desanya itu. Ia dan kedua anak buahnya sibuk mengasah kapak yang akan mengantarkan para tubuh yang malang itu menuju keabadian sejati. Kesejatian yang nirkala.

Pagi itu, puncak gunung sudah dipenuhi puluhan peti-peti mati, para perawat, relawan serta dokter sibuk mengeluarkan mayat dari dalam peti. Mayat-mayat tersebut sudah terbungkus plastik dengan rapi. Sudah ratusan hingga puluhan tahun prosesi pemakaman jenazah dipimpin oleh tiga sosok penting: ketua suku, lama, dan Rogyapas.

Dengan memakai pakaian yang sesuai dengan protokol kesehatan, Rogyapas kini siap menjalankan tugasnya. Dikeluarkanlah kapak bermata runcingnya dari dalam tas berwarna abu-abu. Di depannya sudah tergeletak mayat yang siap ia cacah kecil-kecil. “Letakkan jenazah-jenazah malang ini di atas altar!” perintah Rogyapas pada anak buahnya.

Satu-persatu jenazah  ia cacah menjadi bagian-bagian kecil: tulang betis, paha, tangan, serta tulang rusuk ia kumpulkan dalam satu wadah besar, organ dalamnya ia tempatkan pada karung yang terbuat dari bahan plastik, sementara kepalanya ia pasrahkan pada kedua anak buahnya untuk dipotong secara dadu. Doa-doa dirapalkan disertai dengan tangisan yang mewarnai prosesi sakral itu.

Kemudian setelah Rogyapas selesai menjalankan tugasnya kini giliran Laka yang juga akan menunaikan tugasnya. Jenazah-jenazah tadi yang sudah terpotong kecil-kecil kini berada dihadapannya. Laka mengeluarkan secarik kertas, dirapalkanlah doa-doa dengan suara nyaringnya, lama… dan suasana hening sejenak. Denting yang mirip suara lonceng gereja ditabuh… tak berselang lama, kawanan burung sudah memenuhi tempat sakral itu.

“Cepatlah… jangan ditunda lagi!” teriak Laka dengan suara paraunya.

Dengan cepat kawanan burung itu menyerbu potongan-potongan jenazah yang sudah didoakan sebelumnya. Dari belakang rombongan, Soraya meminta izin kepada Laka untuk melemparkan sisa pembakaran ayah dan ibunya, Laka memberikan izin dan segera saja Soraya melemparkan botol yang sudah sejak lama ia bawa ke mana-mana pada kerumunan burung-burung tersebut.

 

 

Penulis                   : Fahrus Refendi/ Penulis adalah mahasiswa Universitas Madura prodi Bahasa & Sastra Indonesia

Editor                     : Naila Rif’ah

Sumber Gambar   : nationalgeographic.grid.id

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *