Megahnya gedung UII di bawah indahnya lukisan Merapi, menyimpan sejuta kenangan yang sukar untuk  dilupakan. Semua itu berawal dari cita-cita para petinggi bangsa seperti Moh. Hatta, KHA. Muzakkir, Moh. Roem, Moh. Natsir, KH. Wahid Hasyim, serta rekan-rekan lainnya  untuk mendirikan pendidikan tinggi di Indonesia. Gagasan tersebut timbul lantaran pendidikan tinggi yang ada pada kala itu hanyalah milik Negara Belanda semata. Meski suasana masih mencekam akibat ulah para penjajah, UII akhirnya resmi didirikan tepat empat puluh hari sebelum proklamasi kemerdekaan dibacakan dengan bernamakan Sekolah Tinggi Indonesia (STI). Berlokasi di Kantor Masjumi, Jakarta, STI diresmikan pada tanggal 27 Rajab 1364 H atau bertepatan dengan 8 Juli 1945.

Namun, pada tanggal 4 Januari 1946, ibu kota Indonesia dipindah menuju Kota Yogyakarta oleh Presiden Sukarno. Hal ini  dikarenakan Jakarta berada distatus darurat dengan kembalinya Belanda beserta para sekutunya ke tanah air Indonesia. Sultan Hamengkubuwono IX pun berinisiatif untuk menawarkan Kota Yogyakarta sebagai calon ibu kota Indonesia baru. Sehingga pada tanggal 2 Januari 1946, ia segera mengirimkan kurir ke Jakarta agar dapat menyampaikan maksudnya kepada Presiden Sukarno. Tawaran tersebut akhirnya diterima oleh Presiden Sukarno dan pada tanggal 4 Januari, ibu kota Indonesia resmi dipindah menuju kota Yogyakarta. Dipilihnya Yogyakarta sebagai ibu kota baru karena dinilai memiliki berbagai kesiapan seperti di bidang ekonomi, politik serta keamanan.

Perpindahan ibu kota menuju Yogyakarta, membuat STI akhirnya juga ikut berpindah. Dalam buku berjudul “Sejarah dan Dinamika UII” terbitan Badan Wakaf UII menyebutkan alasan STI turut berpindah ke Yogyakarta dikarenakan suasana perang di Jakarta yang membuat ketidaknyamanan perkuliahan. Selain itu, perpindahan juga terjadi akibat peran para dosen dan pengurus STI yang memiliki kedudukan sebagai pejabat pemerintah sehingga turut mengikuti kepindahan ibu kota.

Berlokasi di Dalem Pengulon, Yogyakarta,  presiden Sukarno kembali meresmikan STI pada tanggal 10 April 1946 atau 08 Jumadil Awwal 1365 H. Saat itu tempat perkuliahan berlangsung di masing-masing rumah pendiri STI. Sehingga para mahasiswalah yang berguru langsung menuju kediaman dosen. Akibat peran dan perjuangan yang semakin besar, panitia perbaikan STI menetapkan perubahan Sekolah Tinggi Islam menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) pada tanggal 14 Desember 1947 dan diresmikan pada tanggal 5 Juni 1948. Fakultas Agama, Fakultas Hukum, Fakultas Pendidikan, serta Fakultas Ekonomilah yang menjadi fakultas rintisan pertama UII.

Saat diwawancarai, Muqodim selaku ketua Bidang Usaha Yayasan Badan Wakaf (YBW) UII mengaku bahwa gedung pertama yang digunakan UII berada di Jalan Cik di Tiro, Yogyakarta. Selain itu, UII juga menggunakan berbagai tempat perkuliahan lainnya seperti di Masjid Syuhada, Taman Siswa serta Jalan Cik di Tiro yang sekarang menjadi MAN 1.

“Ketika itu ya kadang-kadang kuliah di sini jam 07 (pagi) nanti jam 01 (siang) pindah ke Syuhada atau pindah ke Taman Siswo,” tutur Muqodim.

Meski belum memiliki dosen tetap, keberadaan UII terus berkembang hingga memiliki 22 fakultas cabang di berbagai daerah. Seperti di daerah Solo, Klaten, Gorontalo, Purwokerto, dan sebagainya. Namun, adanya peraturan pemerintah yang menyatakan bahwa kelas paralel atau cabang di luar kota tidak memiliki status sama seperti induknya, sehingga apabila kelas cabang mengharapkan status yang sama dengan induknya, maka ia harus memiliki status tersendiri. Kondisi ini dirasa memberatkan UII karena belum memenuhi syarat yang ditetapkan. Berbagai macam cara pun telah dilakukan seperti penyempurnaan pengelolaan organisasi. Kejadian inilah yang selanjutnya dikenal dengan masa transisi. Sayangnya, upaya yang dilakukan belum mampu mencapai syarat maksimal, sehingga memaksa UII untuk menutup kampus-kampus cabang.

Akan tetapi, adanya penutupan kampus-kampus cabang tidak membuat mereka mati secara fisik. Justru kampus-kampus cabang tersebut melebur diri dengan berbagai fakultas sejenis yang ada di daerah mereka bahkan ada pula yang membentuk perguruan tinggi secara independen. Seperti halnya UII cabang Solo yang menjadi cikal bakal berdirinya Universitas Sebelas Maret (UNS).

Tingginya marwah UII juga tak lepas dari para pendiri dan tokoh yang ada. Seperti tokoh GBPH. Prabuningrat yang menjadi rektor sekaligus anak dari Sultan Hamengkubuwono VIII. Pada tahun 1970 an, Indonesia sedang marak terjadi berbagai macam demonstrasi. Sehingga apabila terdapat para aparat militer yang ingin mengusir mahasiswa dari kampus, mereka akan enggan untuk melakukannya. Sebab, dengan tegas Prabuningrat mengatakan bahwa UII mempunyai otoritas atau otonomi sendiri.

Setelah kepemimpinan GBPH. Prabuningrat berakhir, Ace Partadiredja pun hadir untuk menjadi rektor selanjutnya. Pada masa kepemimpinannyalah ia mulai merintis pendirian gedung terpadu serta mengembangkan kampus UII di satu tempat.

Ace Partadiredja pun mulai mencari tanah yang luas serta layak untuk dijadikan tempat perkuliahan. Hingga akhirnya ia menemukan tanah di daerah Kalasan, Yogyakarta. Akan tetapi setelah diketahui bahwa daerah itu terbilang subur, ia pun enggan untuk memanfaatkan tanah tersebut. Sebab, mencari tanah yang luas ternyata tak semudah membalik tangan. Harus diperlukan berbagai pertimbangan untuk mendapatkan tanah yang luas.

Daerah utara Yogyakarta pun menjadi tujuan pencarian tanah selanjutnya. Bertempat di Jalan Kaliurang, daerah tersebut awalnya sangatlah gersang, tanahnya tidak subur bahkan tidak memiliki irigasi air. Tanah tersebutlah yang akhirnya dibeli oleh Ace pada kisaran tahun 1983. Meski tanahnya tidak produktif, daerah tersebut sengaja dipilih oleh Ace dengan berbagai pertimbangan. Seperti nilai jualnya yang lebih murah dari harga tanah di Kalasan serta daerahnya yang terbilang aman dari  ancaman Merapi.

“Kalau pertimbangannya saat itu pertama adalah itu cari tanah yang luas yang bisa dijadikan kampus, yang tidak produktif. Itu aja,” ucap Muqodim. “Tapi masih aman dari Merapi,” sambung Sularno selaku Ketua Pemberdayaan Yayasan Badan Wakaf UII.

Selain membeli tanah di utara Yogyakarta, Ace juga membeli tanah di daerah Condong Catur pada kisaran tahun 1984-1985. Menurut Muqodim, tanah tersebut dibeli karena melonjaknya jumlah mahasiswa UII pada saat itu. Kampus Fakultas Ekonomi di Condong Catur pun akhirnya dibangun pada tahun 1986. Meski pembangunannya belum final, namun pada tahun 1987 kampus tersebut telah dikenakan oleh para mahasiswa. Kampus tersebutlah yang menjadi Kampus Antara, yakni untuk menjembatani antara UII Condong Catur dan utara Yogyakarta. Sebaliknya, dari data yang dipaparkan dalam situs www.uii.ac.id menyebutkan bahwa pembangunan Gedung Antara baru dilaksanakan pada tahun 1988.

Adapun tanah UII di utara Yogyakarta baru dibangun pada sekitar tahun 1988. Awalnya pembangunan dimulai dengan mendirikan jembatan di sekitar bakal Masjid. Baru pada masa kepemimpinan Zanjawi yakni sekitar tahun 1992, gedung perkuliahan pun mulai dibangun.  Untuk posisi gedung pertama tersebut terletak di belakang bakal Masjid. Gedung yang digunakan untuk Fakultas Teknologi Sipil dan Perencanaan (FTSP) tersebut diresmikan langsung oleh Presiden Suharto pada tahun 1993 dan kini telah diperuntukkan bagi Fakultas Kedokteran (FK) serta Fakultas Psikologi dan Sosial Budaya (FPSB).

Belum usai pendirian gedung perkuliahan, UII telah aktif melakukan penggalangan dana demi terwujudnya pembangunan Masjid sebagai pusat pendidikan dan kerohanian kampus. Melalui takdir Allahlah, masjid yang bertitel Ulil Albab tersebut akhirnya resmi didirikan pada tahun 2001.

Kini, UII kembali melanjutkan inisatif Ace untuk memadukan kampus di satu tempat melalui pencanangan pemindahan Fakultas Ekonomi dan Hukum. Pembangunan gedung Fakultas Hukum pun telah dimulai pada tanggal 26 Januari 2018 lalu.

“Sebaiknya, idealnya seperti itu, karena banyak kelebihan kalau dilihat dari itu. Biaya ngirit, koordinasi gampang. Rencana nanti semua kesini kan, termasuk Fakultas Ekonomi dan Hukum. Bahkan yang hukumkan sudah dibikinkan. Ekonomi yang belum dibikinkan. Tapi sudah ada rancangan tanah yang digunakan Ekonomi sudah disisakan,” ujar Sularno.

Sebagai perguruan tinggi Islam pertama pada masa berdirinya, UII memiliki visi besar untuk menjadi rahmatan lil alamin. Demi mewujudkan visi tersebut, UII tidak hanya berkomitmen dalam penyempurnaan pendidikan, tapi juga pada bidang penelitian, pengabdian masyarakat serta dakwah yang setingkat dengan universitas berkualitas di negara maju.

 

 

Sumber Tulisan    : Majalah Pilar Demokrasi Edisi April 2020

Foto Oleh               : Reza Maraghi

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *