“Dung… Dung… Dung…”

Suara gong baru saja terdengar di sekitar lapangan Fakultas Psikologi dan Sosial Budaya  (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) pada hari Kamis, 15 Agustus 2019. Gong yang sengaja dipukul oleh Rektorat UII, Fathul Wahid merupakan simbolis dibukanya kegiatan Pesona Ta’aruf (Pesta) pada tahun 2019 di UII.

Pesta pada tahun ini berlangsung selama 3 hari, yakni pada tanggal 14, 15, dan 16 Agustus 2019. Adapun tema yang diusung tahun ini adalah ” Retour Ala Nature” yang berarti kembali ke alam. Namun, menurut Muhammad Helmi sebagai anggota Komisi A mengatakan yang dimaksud kembali ke alam adalah merefleksikan kembali peran fungsi mahasiswa yang sesungguhnya yaitu Moral Force, Iron Stock,  Agent of Change, dan Social Control.

Beberapa sambutan saat rangkaian pembukaan Pesta juga diisi oleh ketua Steering Committee (SC), ketua Organizing Comittee (OC), ketua LEM, ketua DPM, dan Rektor UII sekaligus pembukaan Pesta secara simbolis. Adapun inti pesan yang disampaikan ialah mengenai peran fungsi mahasiswa dan anjuran agar tidak menjadi mahasiswa yang apatis melainkan menjadi mahasiwa yang memiliki kepekaan sosial tinggi dan rahmatan lil aalamiin.

Fauzia Bayu Riskiadi selaku ketua Organizing Comittee (OC) menyampaikan salah satu filosofi dari daerahnya berasal, yaitu Bugis Makassar, “Ada filosofi dari tempat saya, Bugis Makassar, yang berbunyi kualleangi tallanga notowalia yang artinya lebih kupilih tenggelam di lautan, daripada harus kembali lagi ke tepian. Artinya kawan-kawan ini anak rantau, saya juga. Anak rantau bebannya sangat besar, moral yang harus ditanggung anak rantau juga besar. Jadi kawan-kawan harus mengambil apa yang perlu diambil, banyak hal-hal di luar akademik yang bisa kawan-kawan ambil dari kampus kita ini.” Ujarnya.

Berbicara tentang anak rantau, terdapat beberapa kegiatan baru di pesta tahun ini. Salah satunya ialah ‘angkringan’ yang merupakan ciri khas dari Jogja. Adanya kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan mahasiswa/i baru khususnya dari perantauan tentang ciri khas yang ada di Jogja. Sebanyak kurang lebih 45 gerobak dibawa langsung oleh pedagang angkringan dan dijajakan sekitar boulvard UII.

Berteman sinar rembulan, maba-miba (mahasiswa-mahasiswi baru – Red) ini duduk bergerombolan bersama jamaahnya sambil menyantap hidangan khas angkringan, seperti nasi kucing, sate telur, sate usus serta gorengan.

Selain itu yang membedakan pesta tahun sekarang dengan tahun kemarin adalah kegiatan koreografi yang diganti menjadi video mapping. ARY Cicut Pratama selaku Koordinator Acara Pesta 2019 menyatakan bahwa adanya video mapping mencerminkan revolusi industri 4.0, yang mana tidak ada penggunaan manusia lagi dalam kehidupan sehari-hari. Panitia juga bekerja sama dengan Moza sebagai tender dalam proses pembuatan serta penampilan video mapping.

Kegiatan yang berbeda juga tampak saat diadakannya Social Project (Sospro). Biasanya, kegiatan sospro pada tahun sebelumnya dilakukan dengan dua hal, yakni bersih-bersih dan bagi-bagi sembako. Akan tetapi pada tahun ini, kegiatan pembagian sembako ditiadakan dan diganti dengan kegiatan penanaman tanaman hijau.  Tanaman hijau yang telah dibawa oleh maba-miba tersebut kemudian dipindahkan ke dalam botol bekas serta dihias semenarik mungkin.

“Menurut kami, dengan mahasiswa/i baru bersih-bersih di desa sekitar Universitas Islam Indonesia dirasa lebih mencerminkan aksi nyata dari mahasiswa ketimbang bagi-bagi sembako.” Tegas Muhammad Hilmi saat diminta keterangan tentang kegiatan Social Project yang tidak lagi membagikan sembako kepada masyarakat lingkungan universitas.

Hal yang menarik lainnya ialah adanya Aquila dan Aquialina sebagai maskot pesta 2019. Maskot ini selalu siap menyambut kedatangan mahasiswa/i baru UII. Bahkan beberapa penampilan lainnya juga turut menyemarakkan, seperti penampilan Marcing Band Universitas Islam Indonesia di hari pertama dan kesenian angklung dari grup kesenian angklung Malioboro di hari kedua, serta penampilan dari Bondan Prakoso pada malam inagurasi.

 

Penulis                          : Naila Rif’ah

Editor                            : Mu’arifatur Rahmah

Reportase Bersama    : Husain Raihan, Abdul Khaliq Napitupulu

Foto Oleh                      : Reza Maraghi

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *