Identitas Buku

Judul: Menjerat Gus Dur
Penulis: Virdika Rizky Utama
Penerbit: NUMEDIA Digital Indonesia
Cetakan: Pertama, Desember 2019
Tebal Buku: xxi + 376 halaman
ISBN: 978-602-52420-6-9

 

“Tidak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian.”

—KH. Abdurrahman Wahid

 

Jelang penghujung tahun 2019 silam, publik serasa dikejutkan oleh pengungkapan fakta sejarah yang bertujuan meluruskan desas-desus selama dua dekade ke belakang. Pengungkapan tersebut adalah suatu upaya, guna menyapu awan hitam yang sempat menghiasi wajah perpolitikan di Indonesia. Dan untuk generasi muda, dianjurkan mengambil pembelajaran darinya agar tak terulang kembali di kemudian hari.

Tabir kontroversial tersebut ialah rangkaian peristiwa pemakzulan Gus Dur yang amat terstruktur, sistematis, dan juga masif oleh parlemen, yang juga melibatkan eks-aktor politik Orde Baru, aparatur keamanan, dan sejumlah organisasi kontradiktif yang bersebrangan dengan Gus Dur. Disebut kontradiktif karena Gus Dur ingin menumpas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN), menegakkan supremasi sipil dan mencabut Dwi Fungsi ABRI, serta mengembalikan hakikat dan esensi demokrasi, yang menurutnya bukan hanya persoalan teknis dan transaksional.

Pasca Soeharto

Semenjak pengunduran diri Soeharto dan digantikan B.J. Habibie, Gus Dur adalah presiden pertama yang dipilih secara demokratis atau oleh rakyat melalui mekanisme Pemilihan Umum (Pemilu). Namun tak disangka, setelah pemilu tersebut Gus Dur yang saat itu mengemban tugas amat berat—menumpas sisa-sisa Orde Baru sekaligus menjalankan amanat Reformasi—justru dimakzulkan. (hlm 358-375)

Sebelum Gus Dur berada di tampuk kekuasaan, ia mendapat dukungan penuh dari aktor politik sekaligus penggagas “Poros Tengah” yang cukup masyhur di ruang publik, Amien Rais. Namun, ketika Gus Dur mengemban amanat, Amien Rais yang mengira akan mampu menyetir Gus Dur—khususnya dalam pembentukan kabinet—berbanding terbalik dengan apa yang ia harapkan. Gus Dur menolak, tak ingin berkompromi dan amat menentang, meskipun diancam akan diturunkan. Bagi Gus Dur, adalah hak prerogatif seorang Presiden guna menentukan siapa saja yang pantas berada di sampingnya. Tentu berdasarkan kapabilitasnya, bukan karena kedekatan.

Seiring berjalannya pemerintahan Gus Dur, kontroversi, polemik, dan penyerangan mulai dilakukan oleh mereka yang kecewa dan sakit hati dengan Gus Dur. Rangkaian peristiwa tersebut bermula pada tanggal 24 April 2000 di saat Gus Dur mengambil suatu keputusan yang memunculkan dinamika dalam koalisinya. Gus Dur memecat Jusuf Kalla, Menteri Perdagangan dan Perindustrian dari Partai Golkar, dan Laksamana Sukardi, Menteri BUMN dari PDIP. Lantaran media massa kerap menyebut kedua nama itu tersangkut kasus korupsi, maka semakin yakinlah Gus Dur dengan keputusan memecat keduanya.

Berujung Kemelut Politik

Bermula dari konflik tersebut, sisa-sisa Orde Baru segera mengonsolidasikan dirinya kembali, menyusun rencana dan misi bersama, memakzulkan Gus Dur. Disusul oleh Amien Rais, salah satu tokoh yang sering disebut dalam buku ini—tokoh yang dahulu mendorong Gus Dur agar maju menjadi Presiden—membelot, ikut berkontribusi dalam proses pemakzulan.

Bersamaan dengan sidang Pansus yang coba mengadili Gus Dur secara politis, pelemahan terhadap pemerintahan Gus Dur juga mulai gencar dilakukan. Amien Rais mengungkapkan penyesalannya karena telah mencalonkan Gus Dur menjadi Presiden.

“Saya minta maaf kepada seluruh bangsa Indonesia atas pilihan yang keliru. Karena kita manusia, jadi bisa keliru. Sekarang jelas bahwa Gus Dur memang tidak bisa bertahan lebih lama lagi demi bangsa dan kelanjutan dari republik, serta keutuhannya di masa mendatang,” kata Amien. Keterangan itu disampaikan pada diskusi yang diselenggarakan oleh KAHMI di Jakarta, 25 Oktober 2000. (hlm 190)

Upaya pemakzulan Gus Dur semakin dapat dipercaya ketika penulis dalam buku tersebut melampirkan sebuah dokumen rahasia. Dokumen berbentuk surat itu memuat laporan terkait rencana-rencana yang sudah dilakukan untuk memakzulkan Gus Dur. Surat yang ditulis oleh Fuad Bawazier untuk Akbar Tanjung disebut sebagai salah satu pelaksanaan rencana Semut Merah (Semer).

Tugas yang diberikan kepada kepada Fuad Bawazier berkaitan dengan penggalangan opini, dukungan masyarakat luas, mahasiswa, media, ormas, pengusaha, cendekiawan, preman, kelompok kanan, dalam rangka penjatuhan kredibilitas Presiden Gus Dur melalui kasus Buloggate dan Bruneigate. Kekuatan dan efek operasi tahap pertama ini—menurut pandangan Fuad—sudah harus ditingkatkan kepada pelaksanaan operasi skenario kedua, yakni memaksa Gus Dur mundur, dan mendorong Megawati Soekarnoputri menjadi Presiden, yang akan bisa dikendalikan dan pada akhirnya akan disingkirkan juga. (hlm 212)

Akibat serangan demi serangan yang digencarkan oleh kekuatan lama bersama pihak oposisinya—yang dahulu mendukungnya—Gus Dur berang bukan kepalang. Perlawanan pun dilakukan. Meskipun sekuat tenaga, kekuatan itu sepenuhnya belum terkonsolidasi. Hal itu jauh lebih baik ketimbang Gus Dur berpangku tangan melihat pergerakan demi pergerakan yang dilakukan oleh orang-orang di dalam parlemen yang ingin memakzulkannya.

Namun, kekuatan lama bersama pihak oposisi lambat laun menguat. Kerusuhan terjadi di beberapa kota. Aksi massa pemakzulan Gus Dur semakin sporadis. Keamanan negara menjadi tidak stabil. Krisis ekonomi kembali terjadi, sidang Istimewa MPR dipercepat, hingga tuduhan korupsi yang ditujukan kepada Gus Dur dengan cara blow up ke media mainstream menjadi rangkaian pertanda, bahwa inilah detik-detik Gus Dur akan segera jatuh.

Gus Dur Dimakzulkan

Benar saja. Tepat pada tanggal 23 Juli 2001. MPR resmi memakzulkan, dan menggantikannya dengan Megawati Soekarnoputri. Lantaran Gus Dur mengeluarkan dekrit yang ingin membubarkan DPR/MPR, mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dengan mempercepat pemilu, dan membekukan Partai Golkar akibat semakin geram dengan tindak-tanduknya—membuat Gus Dur harus berhadapan dengan pisau bermata dua—dan laksana berada di ambang krisis menuju kejatuhannya.

Di sisi lain, mungkin kala itu Gus Dur sangat geram. Sehingga, hal tersebut mengakibatkan dekrit yang ia keluarkan tidak memuat dua syarat utama: menyelamatkan negara dalam keadaan bahaya (absolutely necessary in the interest of the nation), dan tidak memenuhi teori keseimbangan (evenwichtst theorie).

Hingga pada akhirnya, Gus Dur berlapang dada dan melepas jabatan kepresidenannya—meskipun saat itu, seperti mau tidak mau. Karena, Gus Dur tak ingin kekuasaan tersebut disalahgunakan. Bahkan, ia juga sempat menghimbau kepada para pendukungnya agar tidak datang ke Jakarta. Karena, hal yang juga amat tidak ia inginkan, ialah terjadinya perpecahan antar umat beragama dan juga warga negara. Kelam, namun sarat akan pembelajaran.

Penutup

Buku  Menjerat Gus Dur (2019) ini dielaborasi oleh lulusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bernama Virdika Rizky Utama, dan diterbitkan oleh Numedia Digital Indonesia. Selama berkuliah, Virdi aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Didaktika UNJ. Ia juga aktif dalam Solidaritas Pemuda Rawamangun (Spora) dan Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI).

Melalui pemaparan fakta sejarah yang dikonstruksi olehnya, ia seperti mengajak pembacanya untuk balik kanan sejenak serta melihat, bagaimana rangkaian peristiwa kelam tersebut terbentuk, terjadi, dan amat berpengaruh terhadap iklim demokrasi kita dewasa ini.

Namun, kita masih bisa mengambil pembelajarannya secara kolektif. Setelah mundurnya Soeharto sekali pun, tidak ada jaminan bahwa Reformasi dan upaya penegakkan demokrasi seutuhnya bisa berjalan dengan semestinya. Sebagai penutup, ada kalimat menarik dari Gus Dur yang dimuat media tepat empat hari setelah pemakzulannya.

“Apalagi di hadapan orang-orang yang kelihatannya terpelajar, banyak ilmunya, banyak pengetahuannya, tapi hati nuraninya tidak ada,” ucap Gus Dur (dalam “Gus Dur: Saya Tetap Berjuang Menegakkan Demokrasi”, Kompas, 27 Juli 2001).

 

Penulis: Aan Afriangga

Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mpu Tantular. Buku pertamanya berjudul “Pertarungan Melawan Diri Sendiri: Kumpulan Cerita Mini dan Senandika” (2020) terbit di tahun ini.

Penyunting: Husain Raihan

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *