Sistem pendidikan di Negara Agraris ini layaknya melakukan transaksi jual beli dalam suatu perniagaan. Dimana, ketika seseorang telah membayar lunas barang belanjaannya, maka ia akan mendapatkan haknya.

Padahal, pendidikan adalah satu-satunya senjata yang mampu merubah peradaban dunia, dan sudah seharusnya pemerintah negara menangani serta melayani sepenuhnya para anak bangsa yang ingin bersekolah hingga ke perguruan tinggi.

Sebab dalam hal ini, pemerintah negara telah terikat oleh janji pada salah satu Mukadimah UUD 1945 yang berbunyi, “Mencerdaskan kehidupan bangsa”. Namun kenyataanya, masih banyak anak bangsa yang bodoh, buta huruf dan menjadi pengangguran. Itu semua berawal dari ketidakmampuan mereka untuk melanjutkan ke sekolah yang diimpikan atau putus di tengah perjalanan saat menempuh pendidikan.

Saya sendiri adalah Mahasiswa Universitas Islam Indonesia Fakultas Ilmu Agama Islam Angkatan 2019. Namun, takdir memaksa saya untuk putus kuliah sejak semester awal, karena diri ini merupakan orang yang tidak mampu secara ekonomi. Pihak kampus juga telah memaksa saya supaya membayar uang tanggungan biaya kuliah setiap bulannya.

Akan tetapi apa daya, uang orang tua saya tidak lagi mampu membiayai perkuliahan. Sebab, bapak saya sedang mengalami penyakit jantung kronis, sehingga uang penghasilan kerja orang tua digunakan untuk biaya pengobatan bapak. Pada akhirnya, saya tidak bisa melanjutkan kuliah lagi di UII. Sekarang, saya bekerja di salah satu toko elektronik Daerah Kota Yogyakarta.

Di Indonesia, sangat banyak sekolah yang tidak layak pakai sebagai tempat belajar atau proses belajar mengajar, karena tidak adanya bantuan dari pemerintah setempat. Pemerintahan di Indonesia juga kurang memperhatikan sekolah-sekolah di pelosok negeri yang kita cintai ini.

Keadaan sekolah ini sangat memprihatinkan, seperti halnya atap yang bocor saat hujan, atau bahkan banjir. Padahal murid-murid di dalamnya adalah mereka yang mempunyai semangat belajar yang tinggi. Sayangnya, karena masalah ekonomi membuat pendidikan mereka menjadi terhambat, apalagi ditambah dengan keadaan sekolah yang tidak layak dan sangat mengganggu. Pemerintah kita tidak menyadari keadaan pendidikan di Indonesia yang sangat memprihatinkan ini, sedangkan siaran televisi sangat sering menyiarkan berita tentang pendidikan di Indonesia yang sangat memperihatinkan ini.

 

Sebagai manusia, kita pastilah memiliki sebuah cita-cita. Berangkat dari sekolahlah, kita akan memulai untuk belajar dan mendapat ilmu serta selembar ijazah, surat yang sangat dibutuhkan sebagai bekal masa depan kita, khususnya dalam berkarir. Tetapi, lagi-lagi hanya karena uang, orang yang tidak menempuh pendidikan pun bisa mendapat ijazah dengan “membeli” bahkan beserta nilai yang sempurna. Terlebih uang-uang tersebut juga mampu memberikan jabatan tinggi dengan upah gaji yang memuaskan pula.

Kasus demikian dirasa sangat menimpa masyarakat kalangan bawah, yang hanya bermodalkan niat dan pendirian kokoh untuk mencapai pendidikan tinggi. Mereka telah berusaha sekuat tenaga meski masa depannya belum terjamin. Harapannya agar mereka kelak mendapatkan kedudukan yang layak sesuai usaha dan keahlian yang mereka punyai.

Dari fenomena tersebut sangat tampak bahwa pemerintah belum dapat berlaku adil bagi kalangan kelas bawah untuk dapat meraih mimpi mereka.

Bahkan Sejak SD, guru seringkali mengatakan, ” pendidikan itu tanpa batas”, artinya sampai kapan pun harus tetap sekolah. Tapi rasanya doktrin itu tidak akan ada hasilnya bila tidak ada wadah yang menaungi.

Saya begitu setuju kalimat pendidikan tanpa batas itu, tapi alangkah baiknya doktrin yang demikian dapat dibarengi dengan kesiapan pihak negara maupun sekolah agar dapat mewadahi para anak bangsa yang ingin bersekolah sepenuhnya.

Sampai saat ini apakah negara selama ini telah menjamin sepenuhnya pendidikan untuk kita? Jawabannya tidak. Kita masih membayar mahal untuk bisa melanjutkan sekolah yang diimpikan. Hanya sebagian dari mereka yang berduitsajalah yang dapat melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Masih banyak dari teman-temanku di Desa yang putus sekolah karena faktor ekonomi sehingga kekurangan biaya.

Situasi seperti ini, yang membuat hati saya tergerak untuk menulis mengenai permasalahan pendidikan kita.
Mereka para penguasa negeri, bahkan sang guru Oemar Bakhri telah menghalalkan kepincangan nasib dan doktrin pendidikan tanpa batas bukanlah untuk rakyat. Pendidikan tanpa batas ternyata hanya berlaku bagi mereka yang berduit saja.

Bagaimana cara memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia? Diharapkan kepada pemerintah, khususnya Dinas Pendidikan terkait untuk bisa lebih membuka matanya. Sebab, masih sangat banyak di luar sana anak-anak Indonesia yang membutuhkan uluran tangan dan hati nurani kita, demi mewujudkan keinginan mereka untuk merasakan pendidikan yang layak, agar mereka dapat melangkah mencapai impian dan cita-cita yang mereka miliki serta mampu memajukan generasi kita kedepannya.

Bayangkan, bagaimana ke depannya keadaan negara kita tanpa adanya pelajar-pelajar yang terdidik, yang mempunyai skill yang baik, yang bisa membawa perubahan di Indonesia? Bisakah pemerintah dan kita sebagai warga Negara Indonesia membantu mengurangi jumlah anak-anak jalanan yang kurang pendidikan? Indonesia membutuhkan para pahlawan tanpa tanda jasa, para relawan-relawan yang memiliki hati nurani. Indonesia membutuhkan “PERUBAHAN!”

Berilah kesempatan kepada masyarakat kecil. Buatlah mereka merasa “MERDEKA” tanpa adanya penindasan dari masyarakat kalangan atas. Berilah kesempatan pendidikan kepada anak-anak Indonesia yang kurang mampu, karena pendidikan juga mengajari kita untuk saling membantu. Pendidikan pun mengajari kita perihal kebaikan-kebaikan, keagamaan, pahala dan dosa, serta semua aspek lainnya dalam kehidupan kita. Bahkan hal yang terkecil pun telah diajarkan dari satu kata penuh makna dan penting dalam kehidupan kita, “PENDIDIKAN”.

Harapan kedepannya, semoga pemerintah maupun pihak sekolah segera membenahi sistem pendidikan di Indonesia agar tidak terlalu memberatkan bagi para anak bangsa yang ingin terus meraih cita-cita untuk menyongsong masa depan yang gemilang.

 

Penulis : Gading Pamungkas
Editor : Muarifatur Rahmah
Foto Oleh : Gading Pamungkas

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *