Belakangan, sosialisme berubah menjadi ketakutan massal. Babak baru tersebut dimulai pada akhir tahun 2019. Dunia disibukkan dengan kekwatiran yang menjurus kepada kematian. Peristiwa itu perlahan memutus ekosistem yang sudah terbentuk cukup lama antar umat manusia. Komunikasi tatap muka ambruk, diperparah lagi dengan runtuhnya peristiwa tegur sapa menjadikan beberapa bulan terakhir, dunia dihadapkan dengan situasi the other country.

Sesuatu yang lain dimulai ketika virus covid-19 mulai menyebar pertama di Wuhan, China. Mobilisasi manusia yang cepat menjadikan persebaran virus baru ini menjadi dominasi pembunuh tercepat di tahun ini. Perpindahan penduduk dari satu tempat ke tempat lain memunculkan persepektif baru bahwanya modernisasi tak selalu membawa kabar baik.

Laporan kematian tiap warga negara mewarnai bumi selama beberapa bulan ini. Persebaran manusia yang cepat serta kurangnya kesadaran masyarakat menjadikan virus berukuran nano ini menyebar begitu cepat. Tak terkecuali di Indonesia juga terkena dampaknya.

Tak dapat dipungkiri, banyaknya daerah-daerah wisata yang tersebar di seluruh penjuru negeri menjadikan Indonesia sebagai salah satu tujuan destinasi para wisatawan asing dari seluruh dunia. Hal itu bukan satu-satunya pembawa virus dari negeri luar. Banyaknya tenaga kerja asal Indonesia yang memutuskan untuk pulang juga memperkeruh keadaan. Apalagi TKI ilegal yang luput dari pemeriksaan petugas. Pencampurbauran inilah yang saya kira menjadi sumbangsih terbesar kenapa virus yang mematikan ini bisa memasuki teritori Indonesia.

Setelah laporan kasus pertama positif corona pada tanggal 2 Maret 2020, kini jumlah yang terpapar terus saja merangkak naik. Penambahan itu menyebabkan kurang lebih terdapat 11. 192-an positif corona dengan rincian ada 300-an kasus baru setiap harinya, serta pasien yang sembuh sudah mencapai 1000-an orang. Dari peningkatan yang signifikan itu, lambankah peran pemerintah dalam menyikapi pandemi ini?

Sampai tulisan ini saya catat, peran pemerintah hemat saya sudah optimal. Pemerintah yang bekerja sama dengan Kementrian Kesehatan sebagai garda terdepan penanggulangan covid-19 sudah berupaya keras supaya persebaran virus ini dapat dihentikan. Akan tetapi, kenapa masih ada korban positif corona tiap harinya? Di manakah letak kesalahannya?

Program pemerintah yang dimulai dari wajib pakai masker, pembatasan sosial bersekala besar, social distancing, serta karantina wilayah yang menugaskan beberapa elemen aparatur negara mulai dari jajaran dokter, perawat, TNI, POLRI serta satpol PP sudah saling bahu membahu untuk menekan daripada laju virus corona. Problematika terbesarnya terletak pada dangkalnya kesadaran masyarakat yang masih menganut pada sistem keyakinan yang keliru. Kesalahan pemikiran inilah yang justru membahayakan orang lain. Percuma pemerintah mengeluarkan maklumat jika tidak dipatuhi oleh masyarakat umum. Khususnya masyarakat yang pola pikirnya masih konvensional.

 

Upaya apa yang bisa dilakukan?

Menjamurnya gedung-gedung pendidikan: sekolah dan universitas seyogyanya menjadikan manusia semakin terpelajar. Apabila sudah terpelajar maka secara logika, pikirannya akan tercerahkan. Nah, dari hal itu saya beranggapan, meratanya pendidikan baik di tingkat kota maupun wilayah-wilayah terpencil akan semakin meningkatkan sumber daya manusia dan tingkat kesadaran yang iluminasi pada setiap inang.

Pemerintah juga sudah menjalankan program wajib belajar dua belas tahun, dan tidak sedikit yang melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas. Dari hal ini saya berasumsi, banyaknya pemuda-pemuda yang telah tersentuh oleh pendidikan akan menambah beban peran yang harus ditunaikan. Peran pemuda sebagai agen perubahan (agent of change), dan pengontrol (social control) diharapkan menjadi garda terdepan dalam berinovasi untuk membantu menekan laju pandemi ini.

Inovasi yang pertama saya kira perlu adanya Tim Gerak Cepat (TGC), baik tingkat kota/kabupaten, kecamatan, desa, sampai pada tingkat RT. Mengapa hal itu perlu? Tanpa dipungkiri banyak perantau yang mulai berdatangan ke kampung halaman masing-masing. Perilaku tersebut berpotensi membawa virus dari wilayah yang terpapar ke wilayah perdesaan. Perlu dibentuk tim semacam Pemuda Tanggap Corona (PTC) yang ditugaskan untuk mengawasi para perantau yang datang pada setiap RT.

Selanjutnya perlu adanya kerjasama universal. Negara ini punya banyak sekali mahasiswa- mahasiswa yang perlu kiranya ikut diperankan dalam menghadapi corona, mengingat pandemi ini bukan hanya menyerang suatu wilayah saja. Misalnya saja mahasiswa jurusan bahasa dan sastra, mahasiswa IT, perawat serta mahasiswa kedokteran. Apa peran mereka?

Mahasiswa bahasa dan sastra yang berkompeten di bidang beretorika diharapkan mampu memberikan stimulus terhadap masyarakat umum, khususnya di daerah-daerah pedalaman dengan memberikan penjelasan perihal virus corona ini. Seperti halnya tata cara cuci tangan yang benar, cara mengenakan masker juga bagaimana cara menjaga jarak minimal satu meter dengan orang lain.

Kedua mahasiswa IT. Mereka bisa membuat animasi-animasi yang sifatnya persuasif untuk menarik minat daripada masyarakat itu sendiri, misalnya animasi tentang pentingnya mencuci tangan dan untuk selalu jaga jarak. Terakhir, bagi mahasiswa perawat dan kedokteran diharapkan mampu membantu dokter-dokter yang sudah senior untuk memberantas pandemi ini.

Dalam menangani wabah penyakit di dunia, Anthony De Mello mengingatkan bahwa jumlah korban bisa menjadi lima kali lipat, kalau terjadi ketakutan disaat terjadi wabah. Seribu orang jadi korban karena sakit, sedangkan empat ribu orang menjadi korban karena panik. Kuncinya, jalin komunikasi yang baik dan tetap tenang mengikuti arahan dari pemerintah.

 

Penulis : Fahrus Refendi / Penulis merupakan mahasiswa Universitas Madura prodi Bahasa & Sastra Indonesia

Editor : Mu’arifatur Rahmah

Ilustrasi Gambar : Ula Ulhusna

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *