Pilardemokrasi.com, Kampus Terpadu – Jumat (1/6) lalu, menjadi hari yang bersejarah bagi Universitas Islam Indonesia (UII). Hari itu bertepatan dengan 16 Ramadhan, bertempat di Auditorium Kahar Mudzakir UII, Fathul Wahid resmi dilantik sebagai Rektor UII periode 2018-2022.

Pada hari itu, turut dilantik Imam Djati Widodo sebagai Wakil Rektor I Bidang Pengembangan Akademik dan Riset, Zaenal Arifin sebagai Wakil rektor II Bidang Sumber Daya dan Pengembangan Karir, Rohidin sebagai Wakil rektor III Bidang Kemahasiswaan, Keagamaan, dan Alumni, serta Wiryono Raharjo sebagai Wakil Rektor IV Bidang Networking dan Kewirausahaan.

Fathul Wahid menyatakan bahwa ia mendapat amanah di era distrubsi. Era di mana kehadiran dan perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat menghadirkan banyak perubanahn signifikan dalam dunia pendidikan. Beliau mengajak kita melihat distrubsi sebagai sunnatullah, yaitu sesuatu yang hadir dan tidak dapat dihindari.

“Pilihannya hanya dua. Apakah kita memandang sebagai musibah atau berkah. Kami memilih yang kedua. Era distrubsi memantik kesadaran besar kita untuk membangun dan melakukan sesuatu yang tidak biasa, kita tidak lagi diberi peluang pada zona nyaman,” ucapnya.

Dalam menciptakan action plan-nya, ia mengaku terinspirasi oleh Surat Ibrahim ayat 25. Ada tiga ruang besar yang akan direncanakan untuk 4 tahun mendatang. Pertama, UII harus menghujamkan akarnya. Akar di sini adalah nilai-nilai Islam yang ditanamkan oleh para pendiri UII yang harus dikembangkan dan dieksternalkan menjadi aksi kolektif.

Dari aksi kolektif inilah nantinya akan terlaksana ruang besar yang kedua, yaitu menjulangkan cabangnya. Tujuan utamanya adalah untuk kemanfaatan umat dan bangsa. Fathul Wahid menambahkan bahwa kehadiran UII harus memperlihatkan membawa perubahan dan memberi dampak.

Menurutnya, untuk menjadikan UII unggul memerlukan tiga kedislipinan tinggi, disiplined people, disiplined thought, dan disiplined action. “Teknologi informasi dibutuhkan untuk mendorong aksi ini. Semuanya akan kita lakukan tentu tidak lepas dari anak tangga yang telah dibangun oleh para pendiri UII dan penerusnya.”

“Tadi ada serah terima Rektor yang tidak genap karena Wakil Rektor lama berjumlah tiga dan Wakil Rektor baru berjumlah empat. Sehingga Wakil Rektor IV tidak menerima serah terima itu.” Kata Luthfi Hasan selaku Ketua Umum Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII.

Pemilihan rektor tersebut dilaksanakan berdasarkan Statuta tahun 2017 yang telah disahkan oleh Yayasan Badan Wakaf. Dalam statuta tersebut banyak sekali perubahan. Di antaranya adalah penambahan seorang Wakil Rektor, yaitu Wakil Rektor Bidang Networking dan Kewirausahaan serta penambahan seorang Wakil Dekan di Fakultas, penghapusan struktur pasca sarjana, pendirian struktur jurusan, dan perubahan anggota senat Universitas. Perubahan statuta tersebut bertujuan untuk meningkatkan kinerja akademik dan menghasilkan lulusan yang makin berkualitas sehingga dapat menguatkan eksistensi UII.

Di akhir sambutannya, Luthfi Hasan berpesan untuk menguatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Karena, menurutnya, dengan ketakwaan akan selalu ada jalan dan peluang dari semua permasalahan yang ada.

“Kuatkanlah rasa memiliki institusi, dengan sikap ini akan tercapai kinerja yang maksimal. Kuat dan lemahnya suatu institusi sangat tergantung kepada orang nomer satu di institusi tersebut. Rektor bukanlah distribusi distributor pekerjaan, namun jadilah strong leader yang akan mampu mengarahakan dan memutuskan semua masalah,” ucapnya. (Herlina Nur A.)

Reportase bersama: Siti Marhamah

Foto oleh: Reza Maraghi

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *