Wabah Coronavirus Disease (Covid-19) telah berdampak luar biasa bagi kehidupan. Selain telah menginveksi ribuan orang dan menjatuhkan banyak korban, wabah ini telah berdampak signifikan, terutama bagi ekonomi masyarakat. Bagi masyarakat yang memiliki cukup tabungan, mungkin masih bisa cukup tenang untuk tetap di rumah selama beberapa bulan. Namun, bagaimana dengan yang lain?

Banyak perusahaan merugi karena anjloknya pendapatan, sehingga tak sedikit karyawan akhirnya harus di-PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Belum lagi, rakyat kecil yang menggantungkan hidupnya dari pendapatan harian. Seperti para pedagang keliling, tukang ojek, sopir angkot, dan lainnya. Semua dihadapkan pada situasi sulit saat ini. Selain harus menjaga diri dari penularan virus, semua juga harus mengencangkan ikat pinggang untuk menghadapi lesunya ekonomi di tengah pandemi ini.

Kondisi tersebut masih ditambah ketidakpastian akan sampai kapan kondisi ini akan berakhir. Media setiap hari terus mengabarkan bertambahnya jumlah kasus positif Covid-19. Meskipun ada perkembangan karena jumlah pasien yang sembuh kini sudah melampaui jumlah pasien Covid-19 yang meninggal, namun kita tetap masih belum tahu kapan wabah ini akan berakhir. Inilah yang menimbulkan kecemasan di masyarakat. Kita berada di kondisi yang sulit dan kita belum tahu kapan akan berakhir.

 

Jangan cemas dan egois

Saat orang geraknya terbatas karena menjaga diri dari wabah, ditambah kondisi sulit secara ekonomi, dan masih dicekam ketidakpastian, orang akan bisa dikuasai kecemasan dan ketakutan, sehingga berisiko besar untuk bertindak egois. Kecemasan dan kepanikan, baik terhadap ancaman kesehatan maupun ekonomi, bisa dengan mudah mendorong orang melakukan tindakan egoisme, bahkan kejahatan atau kriminalitas yang bersifat destruktif.

Orang yang cemas, takut, dan bahkan lapar, serta dicekam ketidakpastian bisa melakukan apa saja.  Hal tersebut bisa kita lihat dari tindakan-tindakan mulai dari membeli barang berlebihan karena panik (panic buying), menimbun barang dan menjualnya dengan harga yang kelewat tinggi, sampai level yang ekstrem, misalnya melakukan aksi kejahatan seperti pencurian, perampokan, hingga penjarahan. Semua kemungkinan buruk akibat kecemasan dan keegoisan itu harus sama-sama kita cegah.

 

Ramadan bulan berbagi

Hal yang sangat dibutuhkan di tengah situasi wabah ini adalah ketahanan sosial yang harus dibangun dengan menguatkan solidaritas atau kepedulian. Empati dan tolong-menolong adalah kunci bagi masyarakat agar kuat menghadapi pandemi ini. Kecemasan dan ketakutan di tengah ketidakpastian yang kerap mendorong orang bertindak egois, bahkan anarkis dan melakukan kekerasan di tengah wabah. Hal ini hanya bisa dicegah jika di tengah masyarakat terbangun ketahanan sosial kuat yang dibentuk dari rasa saling peduli atau solidaritas tinggi antar sesama.

Secara kultural, masyarakat Nusantara sudah memiliki akar solidaritas yang kuat. Tradisi gotong-royong membantu yang sedang membutuhkan sudah menjadi bagian dari budaya bangsa kita sejak dahulu kala. Dalam arti, bangsa Indonesia memiliki kepekaan sosial dan ikatan emosi yang kuat dengan sesama. Ketika ada yang dalam kesulitan, yang lain pun ikut merasa dan terdorong saling membantu meringankan beban sesama. Spirit inilah yang mesti terus dikuatkan agar menjadi kekuatan kita dalam menghadapi pandemi ini.

Terlebih, kini kita memasuki bulan Ramadan. Selain meningkatkan ketakwaan kepada Allah lewat puasa dan ibadah lainnya, bulan Ramadan juga menjadi momentum bagi kita untuk mengasah kepedulian kepada sesama.  Ramadan begitu lekat dengan spirit berbagi. Salah satu nama yang dekat dengan bulan Ramadan adalah syahrul Jud atau bulan memberi. Bulan Ramadan juga dikenal sebagai syahrul Muwassah, bulan bermurah tangan dan bulan memberikan pertolongan kepada yang membutuhkan. Pada bulan Ramadan, Allah memberi kesempatan kepada kaum muslimin untuk meningkatkan solidaritas sosial, memberikan bantuan kepada yang membutuhkan, dengan dilandasi ketakwaan, dan diwujudkan dengan nilai kemanusiaan tanpa pamrih (Khofifah, 2017).

Jika secara kultural masyarakat Indonesia sudah memiliki watak atau karakter gotong-royong, spirit puasa—sebagai “bulan memberi” dan “berbagi”—mesti semakin menguatkan karakter tersebut. Semangat gotong royong kebangsaan yang dikuatkan dengan spirit bulan berbagi ini bisa menghasilkan gerakan solidaritas sosial yang besar di tengah masyarakat. Gerakan solidaritas dan kepedulian tersebut bisa dilakukan melalui berbagai cara. Mulai dari memberikan donasi kepada pasien Covid-19, berbagi kepada orang-orang yang mengalami kesulitan ekonomi karena terdampak wabah, hingga memberi bantuan kepada para tenaga medis dan orang-orang yang berada di garda terdepan dalam penanganan wabah ini.

Bentuk solidaritas di tengah wabah ini juga bisa kita tunjukkan dengan kepatuhan untuk tetap di rumah dan menghindari kerumunan, sehingga bisa memutus rantai penularan virus. Selain melindungi diri, semua itu merupakan wujud kepedulian kita untuk melindungi sesama. Jika di tengah masyarakat ada solidaritas sosial yang tinggi, akan terbangun ketahanan sosial yang kuat dalam menghadapi pandemi, sehingga tak ada kecemasan, egoisme, hingga tindakan kriminal atau kekerasan. Melalui semangat gotong-royong dan tolong-menolong yang dilandasi spirit berbagi di bulan suci, akan tumbuh harapan dan optimisme di masyarakat, sehingga pandemi ini bisa sama-sama kita lalui.

 

Penulis                 : Al-Mahfud/Penulis merupakan lulusan dari Fakultas Tarbiyah IAIN Kudus. berbagai tulisannya telah tercetak di media massa, cetak maupun daring

Editor                   : Mu’arifatur Rahmah

 

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *