Derita yang Kami Rasa

 

Jika manusia dapat bercermin pada asalnya,

Pasti kesyukuran akan turut menyertai dalam setiap langkah,

Sayangnya manusia itu lupa kejadian yang telah berlalu,

 

Padahal mata akan jadi saksi untuk mata,

Telinga juga mendengar apa yang keluar dari mulut,

Kaki selalu mengajak berjalan kemana arah pergi sesuai tujuan,

 

Manusia dimakan oleh keserakahan!

Menginginkan hidup enak dan mati enak!

 

Inilah hidup para penjelajah dunia,

Tak pikir derita,

Serta menyimpan perih mendalam,

Jendela cakrawala luas, tapi terasa sempit dan pengap bagi para penjelajah dunia,

Kesederhanaan bahasa prosa

Terlihat dari raut wajah peminta-minta yang menengadahkan tangan,

Kami ditindas oleh zaman peradaman sehingga suka dan duka seolah sama saja,

 

Ayah Bertani

 

Tani kaki, lutut, serta bahu

Sepatu kulit warna putih,

Menyunggi ginjar dari bukit tinggi melewati turunan lembah,

Hari fajar belum juga sampai, tapi ayah sudah terbangun oleh suara-suara ayam berkokok,

Embun pagi merebak mengeluarkan udara berasap dari lubang mulut,

 

Pagi sudah menyingsing, menyeruput air hangat sebagai ganjal sarapan pagi.

Matahari sudah dipenggalah siang separuh hari mulai berjalan,

Burung-burung memanggil dari pematang,

Sebagai teman obrolan di kala kesepian memasuki relung dalam bayangan kami,

Maafkan ayah, tak bisa berada di dekatmu

Membantu segala hal,

Memijit tangan dan kaki yang pegal-pegal,

 Sini ayah kita berjumpa lagi di sini ayah

Aku rindu bersama ayah,

 

Demi Masa

 

Masa yang semakin singkat,

Memakan keadaan dan waktu begitu saja terbuang,

Isikan masa dengan apa?

 

Hari ini masa untukmu,

Esok dan masa lalu juga masa,

Masa depan milik Illahi,

Pasrahkan masa dengan segala kehendak,

Jalankan masa dengan sukarela,

Perjuangkan dengan letih serta lelah tak ada batas,

Hidupkan masa dengan gairah,

Tenangkan jiwa untuk menghadapi problema,

 

Massa berputar sesuai porosnya, akan berhenti pada titik di mana massa

Kau kumpulkan amal untuk persiapan.

 

Senada

 

Isi dunia berjalan seirama,

Siang menggiring sore menjadi malam,

Berselimut kelelapan pejaman mata manusia-manusia bernyawa,

Tak terasa hitungan detik,

Semua bergerak senada alunan,

Seolah Tuhan memutar bentangan bumi di atas paparan muka meja, dan tiba-tiba bisa saja berhenti,

Terkejut akan terlihat dari raut muka penuh dosa dan kesalahan!

 

Bintang berpasangan bulan,

Jantan dan betina,

Tuhan mencipta dua jenis manusia berbeda yang menjadi satu pasangan sampai akhir hayat,

Laki dengan perempuan,

 

Kini coba rasakan dengan seksama,

Berulang rasakan dan masukan dalam-dalam,

Fatamorgana ini berjalan senada dan seirama,

 

Puisi oleh Yesi Wening Sari

Mahasiswi jurusan Pendidikan Agama Islam UII angkatan 2016 yang gemar membaca, menulis, serta menciptakan  puisi. “Senang dan tenang dalam menghadapi sesuatu, suatu rintangan yang teratasi adalah terang menuju kesuksesan,” begitulah kata motivasi dari perempuan yang dapat disapa lewat surel yesiweningsari@gmail.com itu.

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *