Sifat                             : Terbuka

Hari / Tanggal           : Rabu / 11 Desember 2019

Tempat                        : Depan Auditorium Profesor  KHA. Kahar Muzakir Universitas Islam Indonesia (UII)

Acara                            : Diskusi Ancaman Ideologi Islam Transnasional Bagi Pancasila

Moderator                   : Irfan Aditya

Pemateri                      : Yanju Sahara dan Muhammad Sayudi

Notulis                         : Gading Pamungkas

Peserta                         : Mahasiswa UII Lintas Fakultas

Susunan Acara           : 1. Pembukaan

2. Menyanyikan Lagu Indonesia Raya

3. Pemaparan Pemateri 1

4.  Pemaparan Pemateri 2

5. Sesi Tanya Jawab

6. Doa

7. Penutup

 

Hasil Acara                  :

 

Menurut paham radikalisme, tumbuhnya ormas-ormas Islam Transnasional  akan mengancam kebhinekaan Indonesia. Ancaman ini datang tidak secara fisik melainkan ideologi. Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara kita akan digerus oleh ideologi-ideologi bernuansa syariah. Negara akan menjadi negara Islam, perdanya akan dirubah menjadi perda syariah, dan membentuk masyarakat seperti zaman salafus shalih.

Mereka menggunakan narasi-narasi kebencian untuk memperkuat politik identitas sectarian, seperti:

Pertama, narasi militansi yang mengajak orang untuk membenci orang lain yang berbeda agama, ras, atau bahkan sekadar berbeda pendapat.

Kedua, narasi terzalimi untuk meyakinkan orang bahwa eksistensi mereka sedang terancam pemerintah dan kelompok tertentu. Adapun yang diharapkan dari narasi ini adalah kebencian dan perlawanan terhadap pemerintah atau kelompok yang mereka anggap musuh.

Ketiga, narasi intoleran yang dibuat dengan menggunakan kebohongan tentang kelompok lain yang bersifat merendahkan, menghina dan memusuhi. Narasi ini disertai ajakan untuk membalas dan melawan.

Keempat, narasi konspiratif yang berisi tuduhan bahwa pemerintah bekerja sama dengan asing untuk menindas Islam, sehingga harus dilawan dengan aksi kekerasan, termasuk tindakan teror.

Dari kasus-kasus yang bermunculan, terdapat beberapa hal yang harus diingat yaitu ketika kerusuhan sudah terjadi dan meluas skalanya, baik muslim maupun non-muslim sama-sama bisa menjadi korban. Maka dari itu, negara yang sudah damai, harmonis, penuh toleran, akan menjadi medan perang, seperti halnya negara Suriah. Islam tidak bertentangan dengan Pancasila, karena dua hal ini memilki kesamaan nilai yang terkandung di dalamnya.

Lantas, adakah cara paling efektif untuk mengatasi situasi tidak menguntungkan ini? Solusi mana yang menjamin bahwa setiap individu berada dalam bingkai negara kesatuan Indonesia, sehingga masyarakat dapat menyadari betapa mahalnya modal perdamaian, toleransi, dan saling menghargai antara satu kelompok, bangsa, agama serta asal-usul. Sebab, mahalnya sesuatu bukan hanya diukur dari konsekuensi degradasi nilai kemanusiaan, bahkan moral dan akhlak selalu menjadi pertaruhan ketika terjadi konflik.

Mungkin, beberapa orang dapat menganggap jika wilayah konflik itu berada di bawah kekuasaan pemerintah yang dzalim. Namun adakah pemerintah kita yang memenuhi kualifikasi dzalim, sebagaimana banyak wilayah dunia yang mengalami konflik? Jika demikian kesimpulan yang diambil, sungguh aniaya cara pandang seperti itu. Alasannya karena sangat jelas pemerintah kita sangat menjunjung harkat dan martabat manusia yang menghuni negara ini. Bahkan di masa lalu, rakyat hanya menjadi komoditas politik yang tidak diberdayakan secara optimal, kini situasinya sangat berbeda.

Lalu alasan apa lagi yang bisa dijadikan pembenaran untuk melawan kebijakan pemerintah? Cara efektif untuk meredam paham radikalis yang selalu dijadikan senjata untuk melawan pemerintah diantaranya masing-masing individu harus kembali kepada ajaran agama secara mendasar, yaitu dengan mengutamakan perdamaian dan saling menghargai sesama. Sangat disesalkan jika mereka yang telah mempraktekkan cara demikian, justru dipersekusi sedemikian rupa. Oleh siapa lagi kalau bukan kaum penyuka radikalisme.

Ternyata para radikalis itu memang tidak senang ketika muncul paham yang menebarkan cinta dan kasih sayang. Faktanya, hanya melalui menebarkan cinta itulah Rasulullah SAW berhasil mengubah peradaban tanah Arab dari kaum jahiliyah menjadi paling unggul di seluruh penjuru bumi. Maka seharusnya kita tidak membedakan paham mana yang menebarkan cinta dan kasih sayang kepada sesama. Lihatlah sisi positif dari masing-masing kelompok, karena bisa jadi mereka sangat akrab dengan setiap individu, namun justru mengedepankan kebencian antar sesama manusia.

Mungkin sifat manusia di negeri ini sangat berbeda dengan di belahan dunia lain. Jika di Eropa dan Amerika mereka sangat terbuka dengan semua paham yang menebarkan toleransi dan saling memahami, lain halnya dengan para pemuka di negeri ini. Justru hal yang dipikirkan oleh manusia negeri ini adalah cara mempertahankan paham yang diwariskan, tak peduli paham itu telah mengalami pembiasan seiring berjalannya waktu. Kenalilah filosofi sebuah permainan ketika seseorang membisikkan pesan kepada orang kedua, niscaya terjadi sedikit kesalahan yang semakin membesar ketika pesan itu disampaikan secara berantai. Apalagi pada generasi terakhir yang mendengarnya. Bisa jadi paham yang awalnya diartikan secara benar dapat dimaknai jauh dari yang seharusnya, apalagi jika tidak dilakukan reaktualisasi.

Maka seharusnya kita jangan sok apriori kepada siapa pun yang menyampaikan paham dengan baik, penuh damai, sepanjang tidak bertentangan dengan adab dan kebudayaan luhur yang kita miliki. Jangan tunggu sampai situasinya tidak terkendali, ketika kaum radikalis meremuk redamkan negeri ini, karena mereka sangat berkepentingan untuk menanamkan pertentangan antar satu kelompok agama dengan kelompok agama lain, atau antar etnis dengan etnis lain.

Jika paham yang menawarkan perdamaian itu terasa asing di benak kita, maka yang harus ditata terlebih dahulu adalah cara pandang masing-masing. Sepanjang kita tidak mengubah orientasi teologi, tidak mengubah arah kiblat atau ajaran fundamental apapun, seharusnya kita mengubah sikap kita agar lebih toleran. Jangan asal hantam kepada setiap paham yang berbeda, sementara kita tidak bisa menjamin, bahwa paham yang kita anut adalah yang terbaik dan paling sesuai.

Kata kuncinya tentu saja adalah kesadaran, bahwa manusia tidak ada yang sempurna. Maka menerima secara terbuka paham yang mengusung harkat mulia setiap individu, harus diletakkan secara proporsional. Memberi label buruk kepada kaum lain, harus ditata ulang karena dapat menimbulkan rasa permusuhan. Boleh jadi perlakuan keliru itulah yang menjadi cikal bakal para radikalis tumbuh dan berkembang. Artinya semua kelompok masyarakat memiliki andil terhadap perkembangan radikalisme, karena mereka sangat suka memberi label tendensius kepada kelompok yang tidak sama dengannya.

Pahami bahwa selalu ada misi politik yang melatarbelakangi perlakuan buruk seseorang atau kelompok tertentu kepada kaum yang tidak sama. Jika masing-masing telah membentengi diri dengan pemahaman seperti itu, rasanya tidak mudah mereka memprovokasi massa untuk menjalankan agenda politik mereka, lebih-lebih jika yang menjadi target adalah pemerintah.

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *