Bicara terkait agama selalu menarik, meskipun menjadi topik sensitif bagi sebagian orang. Isu yang mengitarinya selalu seksi dan menggoda banyak orang dari berbagai latar belakang profesi. Dalam tulisan ini yang saya maksud adalah agama Islam, namun saya tidak akan membahas Islam sebagai way of life bagi manusia, karena sudah banyak tulisan yang membahas tentang itu. Saya akan lebih fokus pada tempat turun, awal penyebaran dan tempat berkembangnya Islam yang pada abad ini dapat kita petakan menjadi tiga negara, yaitu Arab Saudi, Iran, dan Suriah.

Bicara terkait Islam selalu identik dengan bangsa Arab, dilihat dari perspektif teoretis maupun empiris dan disiplin ilmu sejarah, antropologi sosial, kajian teologi, serta studi keislaman. Hal tersebut menjadi wajar, meskipun keduanya identik bukan berarti tidak dapat dibedakan. Islam yang saya fahami adalah Islam sebagai iman, cara beribadah, dan kerangka etis bagi kehidupan manusia. Bangsa Arab adalah bangsa yang diberi takdir spesial karena menjadi tempat diturunkannya Islam, tentunya Islam yang dipahami orang-orang di negeri tersebut lebih dari sekadar Islam yang saya pahami dengan sempit.

Dalam benak saya muncul pertanyaan, bangsa Arab dan tanah Arab sebagai rahim dan tempat penyebaran agama Islam, apakah masih merepresentasikan iman, cara beribadah dan kerangka etis dalam kehidupan umat Islam?

Dalam artikel saya yang lain, saya pernah menulis dengan tema menguatnya politik sektarian dan melemahnya persaudaraan umat Islam. Dalam tulisan ini, saya akan menjabarkan negara yang mempresentasikan politik sektarian, seperti yang sudah saya singgung di paragraf awal yaitu Arab Saudi, Iran, dan Suriah. Arab Saudi dengan penduduk mayoritas Sunni menjadi negara yang meluaskan hegemoninya atas negara Arab lain. Iran dengan mayoritas penduduk syi’ah menjadi rival bagi Saudi dalam perebutan hegemoni politik. Suriah dengan penduduk Sunni di satu sisi dan penduduk Syi’ah di sisi yang lain, menjadi medan pertempuran antara Saudi dan Iran dalam perluasan hegemoninya.

Negara Suriah dengan ibu kota Damaskus dalam catatan sejarah pernah menjadi pusat kekuatan politik, ekonomi, militer, dan pengetahuan ketika Dinasti Umawi berkuasa di sana, namun sejarah juga menulis dengan tinta merah mengenai sikap para khalifah Umayyah yang menganaktirikan golongan Syi’ah. Mengikuti perkembangan berita di internet dan buletin timur tengah membuat hati saya teriris, Suriah yang indah dengan banyaknya warisan sejarah hilang tak ada abunya, meminjam bahasa Buya Syafii, Suriah merupakan kepingan neraka di surga.

Nasib rakyat di beberapa negara Arab menjadi terlupakan karena pemerintah disibukkan oleh konflik internal. Suriah misalnya, menjadi negara krisis yang seolah-olah diciptakan oleh para aktornya baik lokal, regional, maupun global. Pada tingkat lokal, ada rezim Assad, komunitas yang menghendaki Negara Islam (ISIS), dan kelompok Islamis yang ikut berebut pengaruh di negara tersebut, namun tanpa disadari, mereka justru memperkeruh negara yang sudah keruh tersebut. Mengikuti pendapat Basam Tibi, seorang guru besar Hubungan Internasional di Gottingen Jerman, beliau berpendapat kelompok Islamis adalah seseorang yang ingin berkuasa dengan mempolitisasi Agama Islam dan mejadikan Islam sebagai ideologi geraknya.

Pada tingkatan regional, negara Iran harus dilihat dengan lensa besar dan jernih, di tengah konflik internal, Iran terus memasok senjata kepada rezim Al-Assad dengan tujuan memperkuat pengaruhnya. Iran berebut hegemoni politik dengan Saudi di kawasan kacau itu, negara dengan mayoritas Syi’ah tersebut ingin memperagakan cakarnya dengan menguasai Suriah sejauh mungkin. Perkara rakyat Suriah berjudi dengan maut setiap hari bukan menjadi pertimbanganya.

Suriah seakan menjadi ladang gambut yang terbakar. Suriah menjadi salah satu tempat dengan tragedi kemanusiaan terburuk abad ini. Di sinilah banyak aktor tingkat internasional bermain, Suriah mengalami keretakan diplomasi internasional, dielakkan oleh Amerika, disabotase Rusia, dan dizalimi oleh Iran. Krisis Suriah menjadi sumber keuntungan bagi kelompok jihad global, peluang politik bagi Teheran dan Moskow, dan kutukan bagi rakyat jelata.

Pada kutub lain, Arab Saudi merasa ringan bekerja sama dengan Israel dalam menghadapi Iran. Tinta sejarah belum kering mencatat kekejian negara Israel yang menjajah Palestina. Organisasi Kerjasama Islam (OKI) / Organisation of Islamic Cooperation yang didirikan di Maroko, 25 September 1969 dengan pusat administrasi di Arab Saudi, rasanya tidak serius memperjuangkan hajat hidup rakyat Palestina, bahkan dengan telanjang kita saksikan kerajaan Ibn Saud tersebut menjalin kerjasama dengan Israel. Pergesekan Saudi dan Iran lebih didasarkan politik sektarian, teologi Sunni-Syi’ah sama-sama dieksploitasi semata-mata untuk tujuan duniawi.

Bangunan solidaritas negara Islam sudah lama runtuh. Rezim Al-Assad yang Arab lebih merasa nyaman berdampingan dengan Iran demi kelangsungan kekuasaanya. Pergolakan rakyat yang semula damai menjadi konflik dan berhujung perang saudara. Kota-kota di seluruh negeri telah hampir rata dengan tanah. Peran Saudi yang mendukung oposisi Suriah bagaikan lempar batu sembunyi tangan, hanya memanfaatkan untuk kepentingan kekuasaan.

Akhir tulisan, saya akan memperjelas definisi negara menjadi Tuhan baru bangsa Arab ialah, kepentingan nasional negara-negara Arab muslim tidak ada lagi kaitannya dengan prinsip-prinsip moral Islam. Para elite yang terlibat dalam konflik berdarah di atas memahami dan berbicara menggunakan Bahasa Arab, Bahasa Al-Qur’an, namun nurani mereka seakan tersumbat akan petunjuk dan didominasi kepentingan kekuasaan. Islam sebagai agama perdamaian telah berhenti menjadi rujukan dalam penyelesaian konflik, terbuang, terasing entah kemana. Tugas saya, anda, dan kita semua adalah mengembalikan moral Islam dari keterasinganya pada rel kehidupan berpolitik, bernegara, dan beragama.

 

 

Penulis                   : Nur Khafi Udin / Mahasiswa Program Studi Ahwal Syakhsiyah FIAI UII angkatan 2018

Editor                     : Mu’arifatur Rahmah

Sumber Gambar  : daftarnegaraterkaya.web.id

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *