Mesin kopi mendesak bunyi. Musik bertempo cepat, penuh hentakan dan teriakan. Sejoli menukar cerita. Satu gerombolan berjumlah tiga orang asyik menukar obrol tentang politik dan sesuatu yang runyam. Lelaki paruh baya dengan jaket tebal menekuri lembaran kertas di mejanya, sesekali tangannya sibuk pada saku jaket bagian kiri.

 

***

 

/1/

“Apa kamu datang karena ingin mengenal wajah kota ini?”

Rastri menggelengkan kepala untuk menjawab tanya Alan.

“Lalu?”

Pandangan Rastri beredar. Dia mengambil jeda untuk memberi jawaban.

“Seharusnya kita berbicara tentang kabar masing-masing dan bercerita tentang masa lalu yang ada, bukan?” terang Rastri.

Alan diam saja. Telunjuk dan jari tengahnya diketukan pada meja, mengikuti ritme musik yang ada. Keras—berhentak namun nadanya teratur selayak detik jam dinding di kafe itu.

“Kau masih suka membaca?”

“Tidak terlalu. Tumpukan tugas kerja lebih mendesak. Kau?”

“Tentu. Membaca bagiku candu.” Penuh semangat Rastri mengatakan itu. Pelayan kafe datang, mengantarkan pesanan. Senyumnya mengembang.

“Sempurna,” gumam Alan.

“Untuk kopi atau pelayannya?” tanya bernada ejek dari Rastri.

Alan tersedak. Americano yang baru saja disesapnya sedikit tumpah. Memang pelayan yang belum ada dua menit berlalu itu teramat sempurna—perempuan dengan rambut sebahu, bibir bergincu merah merekah. Tawa milik mereka berderai. Namun tidak lama.

“Kau masih membaca karya penulis Jepang itu?” tanya Alan.

Rastri hanya tersenyum. Dia masih hafal kalau Alan pasti akan mengejeknya karena hal itu.

“Entah kenapa sampai sekarang aku tidak suka dengan cerita-ceritanya.”

“Kau mungkin tidak tahu tragedi yang ada di cerita itu.”

“Narasinya terlalu berlarut-larut. Bosan dan sama sekali tidak ada ceritanya.”

Rastri hanya mengulang perkataan sebelumnya untuk menjawab keresahan Alan. “Dalam setiap kisahnya ada tragedi yang sempurna. Kau mungkin melewatkan itu,” terang Rastri.

Telepon milik Rastri berdering, namun dia tak mau menghiraukan hal itu.

“Kekasihmu?” pelan dan penuh nada kehati-hatian Alan bertanya. Dia seakan paham kalau perempuan yang ada di hadapannya sedang kacau hati.

“Ini bukan hal penting. Kembali saja pada cerita tadi!”

“Entah. Sudah kukatakan tadi.”

“Kau harus membaca cerita-cerita Yasunari secara pelan. Pahami secara tenang!”

“Itu nasihatmu beberapa tahun lalu dan sampai sekarang masih saja sama.”

Mereka kembali tertawa. Tanpa aba-aba dan tanda, tawa yang keluar hampir bersamaan.

“Aku dengar di kota ini juga ada penulis dengan gaya seperti Yasunari.”

Tatapan Rastri penuh rasa penasaran saat Alan merampungkan kata-kata itu.

“Tapi dia terlalu misterius,” jelas Alan, “Aku pernah membaca ceritanya dan perasaanku sama, aku tak menyukai tulisan itu, meski aku bisa menebak kalau dia ingin menulis tentang sejarah kota ini dan segala tragedinya.”

“Kau menyimpan tulisannya? Boleh kubaca kalau ada.” Nada antusias milik Rastri terdengar.

“Tentu tidak. Tentang yang tragis aku lebih suka puisi-puisi Amal Hamzah.”

Wajah Rastri penuh tanya. Alan senyum kecil.

“Mungkin orang lebih mengenal kakaknya,” ucap Alan lalu dia mengeluarkan ponselnya. Sebentar kemudian diberikan pada Rastri.

“Coba kamu baca saja,” perintah Alan dengan nada halus.

Wah!// Manusia sombong pernah berkata:// “badan kami ini dapat mati // tapi jiwa kami baka selama!”// Aku tiada peduli!// Satu padaku:// hari yang kuhadapi// akan kureguk sepuas-puasnya!

 

/2/

Satu gerombolan—dua lelaki dan satu perempuan sudah sedari tadi mengisi satu meja berbentuk persegi di kafe itu. Mereka adalah kawan karib selama bertahun-tahun dan melakukan hal bersama-sama untuk kepentingan banyak orang.

Semula mereka asyik mengobrol tentang tata kota dan politik di kota S yang menjadi tempat tinggal mereka, namun sekarang mereka sibuk dengan ponsel masing-masing. Hanya satu lelaki—lelaki A, di antara mereka, justru sibuk memilin rokok yang ada di sela jari telunjuk dan jari tengahnya.

Asap keluar lurus. Tak lama dihempas angin.

“Ini sulit dipercaya!” ucap perempuan yang ada dalam gerombolan itu. Lelaki A dan Lelaki B bertukar pandang. Wajah mereka tampak penuh tanya dengan hal yang baru saja diucapkan perempuan itu.

“Tentang apa lagi?” tanya lelaki A.

“Mustahil. Kemarin warga menang di pengadilan tapi kenapa sekarang….” Kata-kata itu belum berlanjut namun perempuan itu lebih memilih menyodorkan ponselnya pada dua lelaki yang ada di meja itu. Perempuan itu terus menggelengkan kepala, tanda tak percaya.

“Kita harus segera ke sana. Ke rumahnya langsung, bukan ke kantor dinasnya. Aku yakin dia pasti sedang bersantai bersama keluarganya.” Lelaki B penuh semangat mengatakan itu.

“Tunggu. Baiknya kita susun rencana. Bukan sembarang orang yang kita hadapi,” saran Lelaki A. Si perempuan mengangguk tanda setuju dengan usul itu.

“Kita bisa lapor ke komandan atau kesatuannya,” tambah si perempuan.

“Terlalu bertele-tele. Kita bukan anjing penjilat!” bentak lelaki B.

“Maksudmu?”

“Aku tidak bisa menjelaskannya. Tidak ada waktu lagi,” jawab lelaki B yang kini kata-katanya terdengar lebih keras dan menggebu dibanding sebelum-sebelumnya.

“Aku tidak setuju. Rencana! Kita butuh itu!” Lelaki A melotot ketika mengatakan itu.

“Setan alas! Politik dan militer selalu saja runyam.”

Si perempuan hanya mengalihkan pandangannya dari lelaki B ke lelaki A. Begitu, tergantung siapa yang bicara.

Musik masih jelas terdengar. Kasar suara gitar menusuk telinga yang mendengar. Diam berkuasa di antara mereka.

“Penghianat. Ya. Aku yakin ada yang berkhianat di sini.” Lelaki B tegas mengatakan itu.

Lelaki A dan si perempuan bertukar pandang. Merasa heran dengan apa yang barusan mereka dengar. Hisapan yang dalam milik lelaki A untuk rokoknya. Sejenak tak hirau dengan apa yang baru saja dikatakan lelaki B.

“Penghianatan itu panglima perang dalam politik.” Lelaki B memainkan cangkir kopinya. Matanya menatap lurus pada benda berwarna putih itu.

“Diamlah!” bentak lelaki A.

 

/3/

Kesedihan tidak dibatasi usia, begitu yang bisa dilihat dari si lelaki paruh baya. Kacamatanya tebal, setebal jaket hitam yang menutupi tubuhnya. Tangan kirinya sibuk pada saku jaket, sementara tangan kananya masih menggenggam kertas sedari tadi.

Tidak ada benda lain yang dikeluarkannya dari saku jaket kecuali tangannya. Gagang cangkir di angkat dengan tangan kiri—dia memang kidal, disesap kopi hitamnya yang pahit, serupa nasibnya hari ini.

Siang tadi, lelaki itu menerima sepucuk surat dari pengadilan agama. Telah resmi perceraian lelaki itu dengan istrinya. Perempuan yang sangat dia cintai dan sayangi dengan sepenuh hati dan jiwanya.

Mula perkenalan mereka ada di toko buku pusat kota S. Bertahun mereka dekat namun belum resmi terikat dalam rumah tangga. Berlembar kata mesra yang lahir dari sejuta harapan lelaki itu terus dikirim pada si perempuan. Lihai hingga berlarut-larut kata mesra dalam surat, dituliskannya juga narasi mendayu-dayu untuk pujaan hati. Sekali-dua kali waktu, lelaki itu juga membuat cerita pendek yang ditujukan untuk dambaan hati.

Sekarang, cinta pada istrinya tak luntur seberkas, masih utuh bagai lingkaran. Justru kecintaannya sebenarnya bertambah ketika lelaki itu memutuskan untuk tidak menulis cerita-cerita yang romantis lagi. Lelaki itu berpikir bahwa segala yang romantis atau juga cinta yang bergelora hanya untuk istrinya semata. Lelaki itu kini lebih memilih menulis segala tragedi yang ada di kota S.

Lelaki itu memang penulis cerita meski lahir dan tumbuh dalam lingkaran militer—dan sekarang ayahnya jadi salah satu anggota dewan. Sejak kecil dia tidak tertarik dengan senapan atau baris-berbaris sama sekali, dia lebih menenggelamkan diri pada bacaan dan guratan penanya. Sudah beratus cerita dia buat, namun dengan nama pena yang tidak seorangpun tahu. Kisah yang ditulisnya merentang panjang di koran daerah maupun sekaliber nasional. Namun dia tidak ingin dikenal banyak orang. Lelaki itu punya kekhawatiran kalau sampai keluarga besarnya tahu tentu akan marah besar karena ayahnya sempat menentang untuk hal tulis-menulis, juga jika masyarakat luas tahu, dia tentu punya tanggung jawab moral dan itu tidak bisa dilakukannya karena dia memang lelaki pemurung dengan beban latar belakang keluarganya. Hanya ada satu orang yang tahu bahwa lelaki itu penulis, yaitu istrinya, lebih tepat mantan istrinya.

Lelaki itu kembali menenggelamkan tangan kirinya ke saku jaket. Air matanya mengalir. Dia berpikir segala yang ditulisnya selama ini hanya kesia-siaan belaka. Dia jelas mendengar tiga orang bertengkar. Ada juga sejoli membicarakan tentang penulis idolanya, sekaligus membicarakan orang yang sebenarnya dirinya. Sedih dan marahnya bercampur aduk mendengar semua itu.

***

Mesin kopi kembali dinyalakan. Pelayan kafe sibuk membenahi tatanan rambut pendeknya. Musik masih menghentak keras, namun ada yang lebih keras yaitu suara pistol.

 

 

Penulis                 : Ruly Riantiarno / Pegiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Salah satu novel terbitannya ialah berjudul Kalah (Rua Aksara, 2020)

Editor                   : Mauliya Redyan Nurjannah

Sumber Gambar : parenting.dream.co.id

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *