PilarDemokrasi.com – Aliansi buruh, mahasiswa, dan masyarakat umum di Yogyakarta kembali turun ke jalan pada Kamis (8/10) pagi, menolak pengesahan Undang-undang Cipta Kerja. Disahkannya RUU Cipta Kerja menjadi UU pada Senin (5/10) lalu dalam rapat paripurna DPR RI menyulut kobaran api amarah masyarakat. Hal ini disebabkan banyaknya kontroversi dalam UU Cipta Kerja yang dianggap terburu-buru serta isinya merugikan para pekerja.

Aksi ini bukanlah yang pertama sejak UU Cipta Kerja disahkan. Di hari pengesahannya, tepatnya Senin (5/10) malam, telah ada aksi penolakan serupa, berlokasi di pertigaan Gejayan. Masa aksi menuntut sejumlah pasal yang dinilai semakin menyempitkan ruang gerak untuk mendapatkan pekerjaan dengan upah dan jaminan yang layak. Salah satunya Pasal 59 UU Ketenagakerjaan tentang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) yang tidak diakomodir UU Cipta Kerja. Selain itu, masih banyak pasal-pasal yang dianggap tidak pro rakyat dan hanya berpihak pada investor.

Foto Oleh: Abdul Khaliq Napitupulu

Foto Oleh: Afriana Dewi

“Tolak Omnibus Law!” begitu seruan yang mengiringi masa aksi melakukan long march dari bundaran UGM menuju gedung DPRD DIY. Dengan membawa aspirasi dan sejumlah substansi yang krusial terkait pasal-pasal UU Cipta Kerja, rakyat menyatakan UU ini semakin mencekik keadaan mereka yang sudah sulit menjadi semakin rumit. Sehingga, mosi tidak percaya pun digaungkan pada aksi tersebut.

Foto Oleh: Afriana Dewi

Sepanjang jalan, tiada hentinya para orator menyemangati masa aksi yang melakukan long march. Orator juga mengingatkan masa bahwa mereka membawa berjuta harapan masyarakat agar pemerintah membatalkan UU Cipta Kerja yang telah disahkan itu. Pengesahan UU ini nyata membuat rakyat resah memikirkan akan seperti apa keadaan mereka ketika UU ini berlaku.

Foto oleh: Arief Rachman Hidayat

Foto Oleh: Abdul Khaliq Napitupulu

Masa aksi mulai menyampaikan kegelisahannya di depan gedung DPRD DIY. Mereka datang dengan harapan yang amat besar agar pemerintah mendengarkan dan menampung kegelisahan itu. Namun sangat disayangkan aksi yang mulanya berjalan damai itu berujung ricuh. Sejumlah pedagang kaki lima yang berjualan di sekitar lokasi terpaksa segera angkat kaki. Dengan tergesa-gesa, para pedagang berusaha menyelamatkan dagangannya menjauh.

 

Penulis         : Afriana Dewi

Foto Utama : Abdul Khaliq Napitupulu

Editor           : Husain Raihan

 

Reportase bersama :

Arief Rachman, Akhmad Abdussalam, Nadhira Arsya Diva, Annisa Cikal Fitri

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *