“Dalam hidup belum adil rasanya kalau kita belum menangis ataupun tertawa. Seringkali kita beranggapan bahwa hidup akan terasa sulit tanpa pernah mau menengok ke bawah.”

 

Mentari merupakan seorang wanita manis dari sebuah kota kecil yang ingin mengubah nasib keluarganya. Setahun yang lalu setelah tamat SMA keinginan terbesarnya adalah bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang perkuliahan. Walaupun di sisi lain, dia sadar akan kondisi ekonomi keluarganya yang hidup sederhana. Tentu saja hal itu menjadi dilema besar dalam hidupnya, di satu sisi pendidikan sangat penting baginya, namun disisi lain dia tidak mau menjadi beban besar bagi keluarganya.

Sejak duduk di bangku SD, Mentari adalah anak yang sangat pintar. Dia selalu mendapatkan ranking satu di setiap semester sampai dia tamat SMA pun dengan predikat terbaik. Hal inilah yang membuat orang tua Mentari sangat bangga kepadanya. Namun, mungkin nasib baik itu kini sedikit harus beralih. Sebab, keinginannya untuk melanjutkan kuliah dengan beasiswa pun berakhir kandas, hingga akhirnya Mentari harus kuliah dengan biaya dari kedua orang tuanya.

Di tahun pertama kuliah, Mentari mendapatkan tagihan uang kuliah yang begitu besar. Tidak ada pilihan lain saat itu, orang tua Mentari harus menjual harta benda apapun yang dimilikinya untuk membayar biaya kuliah anak kesayangannya tersebut. Mulai dari sepeda motor bahkan beberapa petak tanah milik keluarganya pun harus ikut terjual, itupun belum cukup untuk membayarnya. Kadang mereka juga harus berhutang untuk membayar uang kuliah Mentari. Walaupun berat tapi tidak ada pilihan, kegigihan Mentari membuat kedua orang tuanya yakin, kalau suatu saat anaknya tersebut akan menjadi kebanggaan terbesar bagi mereka.

Hidup di kota orang dan jauh dari orang tua, juga bukan hal yang mudah bagi Mentari. Ini adalah pertama kalinya dia jauh dari orang tuanya untuk waktu yang lama. Rindu yang datang bertubi-tubi tidak mampu merobohkan semangat Mentari demi mewujudkan impiannya. Hari berganti bulan, bulan pun berganti menjadi tahun, perlahan namun pasti Mentari berhasil melewati semuanya meskipun dengan tangis dan tawa. Impiannya hanya satu dia harus menjadi orang suskses, tanpa ada kata mundur. Semua yang telah dikorbankan orang tuanya tidak untuk disia-siakan begitu saja. “Jadi mungkin sedikit menangis tidak apa apa kan?,” prinsip Mentari.

Tahun kedua kuliah, cobaan materi kembali menyapanya, di saat dia harus membayar uang kuliah. Saat itu orang tuanya belum memiliki cukup uang untuk membayarnya dan harta benda untuk dijual pun sudah tiada. Hingga sempat terlintas di fikiran Mentari untuk mengambil cuti kuliah, karena dalam benaknya ia tidak bisa menjadi anak egois dengan membuat orang tuanya jatuh miskin demi memenuhi keinginannya untuk kuliah.

“Nak sudah tekad ayah untuk membuatmu menjadi sarjana, jadi sudah tugas ayah untuk bekerja lebih keras lagi demi impian kita ini,” ujar sang ayah. Ucapan ayahnya tersebut membuat pikiran pesimis yang sempat terlintas terhenti seketika. Seperti menusuk ke dalam hati tanpa celah. Mentari hanya bisa menangis dan berdoa supaya Allah melancarkan rezeki kedua orang tuanya.

 

Mentari sendiri bukan anak yang suka neko-neko, sekuat tekad dia berusaha menahan diri untuk tidak terbawa arus kehidupan hedon di kampusnya. Sebab, ia selalu ingat hasil keringat ayahnya bukan untuk kesenangan semata tapi untuk masa depannya.

Tiga tahun berlalu, gelar sarjana sudah tampak di depan mata setelah perjuangan pelik yang selama ini dia lalui. Hal ini membuat orang tua Mentari sedikit bisa bernapas lega dari tuntutan materi yang harus dipenuhi selama ini.

Di sisa semester, akhirnya Mentari meluangkan waktunya untuk mengambil kerja paruh waktu, supaya dia tidak perlu lagi meminta uang saku ke ayahnya. Kini waktunya dihabiskan untuk kerja dan menyusun proposal skripsi. Tidak kenal lelah apapun itu akan dia lakukan. Karena pengorbanan orang tuanya adalah tuntutan terbesar dalam hidupnya untuk tidak sedikit pun membuang waktu hanya untuk bermalas-malasan.

Akhirnya waktu yang ditunggu pun tiba, hari ini adalah hari wisuda Mentari. Senyum bahagia tentu saja terlukis di wajah ayah dan ibunya. Karena dengan kerja kerasnya dia berhasil mengantarkan anaknya menjadi sarjana dengan gelar SH. Mereka pun berpelukan penuh haru dan tak lupa untuk bersyukur.

Tapi perjuangan tidak berhenti hanya dengan mendapatkan gelar sarjana. Jalan masih panjang, karena gelar sarjana merupakan langkah pertama untuk melanjutkan kerja keras serta kehidupan  penuh persaingan yang sebenarnya.

Setelah lulus, Mentari melanjutkan kerja dengan magang di salah satu kantor advokat. Dia berkesempatan untuk kerja sekaligus mempelajari dunia hukum dengan lebih luas. Kesempatan emas ini tentu dimanfaatkan Mentari dengan baik, untuk belajar dan terus belajar.

Dalam hidup pasti ada kesempatan, tergantung bagaimana kita mampu mengambil kesempatan itu atau tidak, dan satu hal yang harus selalu dipegang tidak ada kesuksesan yang diperoleh dengan instan. Semua butuh pengorbanan dan usaha. Dan yang paling penting dari itu semua adalah doa dan dukungan dari orang tua, karena usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil.

 

By                          :   Latifah Afnul

Sumber Gambar :   www.kompasiana.com

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *