Yogyakarta, Pilar Demokrasi – Jalan utama kampus terpadu Universitas Islam Indonesia (UII) atau biasa diistilahkan dengan boulevard merupakan sebuah fasilitas yang dibangun guna mempermudah mobilitas civitas akademik dari dan menuju kampus. 

Sejak tahun lalu, boulevard telah selesai menjalani pemugaran dan pembenahan di sana-sini. Pembangunan ulang dilakukan dengan tujuan memperindah tampilan depan kampus serta untuk membantu kegiatan mahasiswa agar berjalan secara optimal. Fungsi tersebut sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Bidang Pemeliharaan Fasilitas Kampus (PFK) UII. 

Ironisnya, dibeberapa bulan terakhir, boulevard  seperti telah mengalami pergeseran fungsi dari yang awalnya sebagai jalan utama dari dan menuju kampus menjadi sebuah tempat bagi remaja tanggung setingkat SMP dan SMA nongkrong dan unjuk gigi dengan cara membleyer-bleyer (baca: adu suara knalpot) dan beratraksi dengan motornya. Aktivitas yang tidak hanya diikuti oleh remaja putra melainkan juga oleh remaja putri tersebut tidak hanya terjadi pada malam minggu saja, waktu bagi remaja dan muda-mudi keluar untuk bermain dan berkumpul, tetapi hampir di setiap malam. Disadari atau tidak kegiatan tersebut telah  secara nyata menimbulkan keresahan dan ketidaknyamanan bagi orang-orang yang sedang melintasi area boulevard. Berdasarkan pengamatan reporter LPM Pilar Demokrasi di lapangan, aktivitas yang dilakukan oleh sekumpulan remaja di trotoar dan jalanan utama kampus itu membuat beberapa mahasiswi yang sedang berjalan menuju ke dalam kampus lebih memilih untuk melewati jalan memutar atau menyeberang ke lajur sebelah kanan guna menghindari kerumunan. 

Berkenaan dengan fenomena di atas, ketua Satuan Pengamanan (Satpam) UII, Bibit Santoso mengatakan bahwa bebasnya orang asing (warga non kampus) masuk dan berlalu-lalang di sekitar boulevard, antara lain disebabkan oleh letak Pos Satpam yang menurutnya kurang strategis. Pos Satpam utama yang ada saat ini terletak di lantai dasar bangunan Bookstore sehingga pengamatan tidak begitu leluasa.
“Dulu saya menyarankan untuk pos itu ditempatkan di tengah. Dengan begitu otomatis orang luar yang akan masuk menjadi segan, ” ujarnya.

Selain letak pos Satpam yang kurang strategis, ihwal lain yang tak bisa dihindarkan menurutnya adalah letak UII yang berada di jalan lintas kampung dan merupakan kampus terbuka. Sehingga untuk menyikapi hal itu pihaknya telah menugaskan satpam lingkungan untuk memantau keamanan sekitar area kampus.
“Sejak kampus ini berdiri ini adalah jalan lintasan. Kita menghapus jalan tidak bisa, bisanya hanya memantau agar tidak mengganggu kegiatan atau aktivitas mahasiswa,” jelasnya.

Ditemui di pos Satpam utama, Putut, selaku Satpam lingkungan yang secara tetap ditugaskan untuk mengamankan lingkungan Boulevard mengatakan bahwa remaja tanggung yang sering bleyer-bleyer dan mengangkat motor sangat mengganggu keamanan dan kenyamanan mahasiswa, khususnya mahasiswa putri.
“Yang kita khawatirkan anak nongkrong itu nyolek mahasiswi di area yang gelap-gelap, bahaya,” jelas Putut.

Yang mengejutkan adalah pihak keamanan tidak jarang menemukan botol bekas minuman keras dan alat kontrasepsi di tempat sampah di area boulevard saat berpatroli. Apa yang menjadi temuan pihak keamanan ini tentu sangat kontras dengan citra positif UII sebagai salah satu perguruan tinggi swasta terbaik yang menjadikan Islam sebagai nilai fundamental berkegiatan kampusnya. Hal tersebut tidak seharusnya ada di lingkungan kampus. Pihak keamanan kampus mengaku telah melakukan langkah preventif yaitu dengan menutup gerbang utama lebih awal, yakni pada pukul 22.00 wib.. Putut mengatakan, menutup gerbang utama lebih awal adalah tindakan yang paling mungkin dilakukan demi keamanan diri sendiri dan Universitas.

“Kita sudah usaha. Setiap malam itu kita sudah antisipasi dan memberitahu pihak tersebut secara persuasif,” jelasnya.
Bibit Santoso, Kepala Satuan Pengamanan (Satpam) Universitas Islam Indonesia juga menegaskan bahwa pihaknya telah sering melakukan tindakan antisipatif demi keamanan dan kenyamanan lingkungan UII. “Aku paling enggak senang dengan orang trek-trekan. Kemarin tak kejar, tak gembosi,” ungkapnya.

Selain penekanan terhadap tugas kepada satuan kemanan agar lebih genjar melakukan tugasnya, baik pencegahan maupun penanganan hal lain yang bisa dilakukan dalam menyikapi fenomena di atas adalah dengan menjaga kemanan individu masing-masing juga harus datang dari masing-masing individu. Untuk mengembalikan fungsi awal dari boulevard dan terwujudnya keamanan dan kenyamanan bagi siapa pun yang melintas di area tersebut. (Fira/Sri)

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *