Ini adalah kisah tentang seni rupa Banyumas yang hampir hilang. Yang pernah tercatat namanya dalam sejarah seni rupa Indonesia ketika dinisbatkan sebagai daerah sentra lukisan. Tepatnya pada tahun 1970 sampai 1980, berbagai galeri lukis memenuhi sepanjang jalan Jenderal Soedirman, Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah. Jalan yang pernah menjadi “jujugan” para wisatawan yang ingin mencari lukisan di Indonesia.

Perupa-perupa dari daerah Banyumas ingin mengembalikan kejayaan seni khususnya seni rupa yang hampir hilang. Sambung-menyambung para perupa di Banyumas itu memfasilitasi tempat untuk memamerkan karya-karya mereka agar dapat dinikmati oleh para seniman lain, juga agar dapat diperjualbelikan kepada wisatawan yang berkunjung ke Banyumas.

Galeri bernama Kampoeng Maen ialah salah satu fasilitas berupa tempat pameran lukisan yang baru dibuka di Banyumas. Dengan itu, para perupa Banyumas dapat leluasa memamerkan hasil karyanya kepada wisatawan. Langkah nyata dari para perupa Banyumas itu dimulai dengan menyelengarakan agenda  pameran bertajuk “Banyumas Tiga Zaman” bertepatan dengan pembukaan galeri Kampoeng Maen (31/3/2019).

“Awal mula, saya dan teman-teman menggagas pameran tiga zaman ini. Sebenarnya berawal dari sebuah keinginan yang sangat sederhana, bahwa Sokaraja semakin lama semakin tergantikan dengan barang lain, sementara seninya semakin sedikit,” ujar Nugroho, penggagas pameran seni rupa Banyumas Tiga Zaman.

Foto oleh: Supriadi
Foto oleh: Supriadi
Foto oleh: Reza Maraghi
Foto oleh: Reza Maraghi
Foto oleh: Supriadi
Foto oleh: Supriadi
Foto oleh: Reza Maraghi
Foto oleh: Reza Maraghi

“Di sini ada 18 perupa, yang itu dibagi menjadi perupa yang angkatannya Bahati Wijaya, 60-an tahun keatas, pertengahan 30 sampai 40, dan ada yang masih sangat muda,” imbuhnya. Kedelapan belas perupa itu ikut menjadi bagian dari gerakan pengembalian kejayaan seni rupa Banyumas.

Dengan berbagai macam aliran seni rupa yang mereka bawa, para penikmat seni itu bak melihat makanan yang ia sukai dan sudah lama tidak mencicipinya sehingga menjadi kenikmatan tersendiri ketika memandangnya.

Foto oleh: Iqbal Firdaus
Foto oleh: Iqbal Firadus
Foto oleh: Reza Maraghi
Foto oleh: Reza Maraghi
Foto oleh: Reza Maraghi
Foto oleh: Reza Maraghi
Foto oleh: Reza Maraghi
Foto oleh: Reza Maraghi

Dengan konsep yang sangat dadakan, para pelukis Banyumas itu melukis dengan alirannya masing-masing dan dengan warna yang sangat indah. Dengan konsep dadakan, mereka sudah membuat hasil karya seni yang sangat indah untuk dipandang dan dilihat secara langsung.

“Ini kan pamerannya lukisan mendadak semua ya. Waktunya mepet dengan hari H-nya. Jadi lukisannya tahun 2000-an ke sini, tetapi ada juga yang mendadak melukis karena waktunya sulit terjamah,” jelas Rayung, salah satu perupa dari Banyumas.

Foto oleh: Abdul Khaliq
Foto oleh: Abdul Khaliq
Foto oleh: Supriadi
Foto oleh: Supriadi
Foto oleh: Abdul Khaliq
Foto oleh: Abdul Khaliq

Bermodalkan melaksanakan pameran dengan keinginan yang kuat dan mendanai sendiri tanpa melirik pemerintah, para pelukis Banyumas sangat antusias sekali untuk mengembalikan masa kejayaan seni rupanya. Begitu besar semangat dan tekat para pelukis pada ruangan itu seakan sekilas melihat kejayaan seni rupa Banyumas pada masa jayanya.

“Bahkan sebagian seniman juga alergi dengan dana pemerintah,” kata Rayung.

Ia mengaku, munculnya ide-ide atau inspirasi banyak datangnya dari mana saja. Tetapi tanpa tekad dan semangat untuk menuangkan ide tersebut ke dalam sebuah karya seni itu yang sulit. Bidang karya seni sudah hampir tidak terdengar di zaman sekarang ini. Maka dari itu, para seniman khususnya seniman Banyumas ingin sekali menjadi penggerak agar hal-hal yang sudah diwariskan oleh nenek moyang tidak hilang begitu saja.

Foto oleh: Supriadi
Foto oleh: Supriadi
Foto oleh: Iqbal Firdaus
Foto oleh: Iqbal Firdaus

Mereka, para perupa Banyumas, siap membawa kembali masa kejayaan seni rupa Banyumas yang dulu pernah ada, dan akan selalu merawatnya lewat usaha seperti pameran seni rupa Banyumas Tiga Zaman atau yang lain-lainya.

 

Penulis: Zidan Alfiqri

Editor: Mu’arifatur Rahmah

Reportase bersama: M. Fadel Assidiq dan Akbar Terbangsyah

Foto utama oleh: Abdul Khaliq

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *