Sudah beberapa minggu sejak mimpi itu datang, banyak malam yang aku lewati penuh dengan rasa gelisah. Hari-hari biasanya tak seperti hari-hari setelahnya. Setelah malam yang merenggut keceriaanku. Pada malam itu aku menemukan sesuatu di dalam guci di samping kasur kakek. Guci berwarna merah bata yang sudah diselimuti debu dan jarring laba–laba.

Memang setelah kepergian kakek delapan bulan yang lalu, tidak ada yang pernah masuk ke kamarnya lagi. Entah kenapa, ibu melarang kami masuk ke sana. Bahkan untuk dibersihkan sekalipun.

Di suatu pagi saat aku terbangun dari tidurku, aku merasakan kerinduan pada kakek. Biasanya kami berbincang mengenai masa laluku. Aku ingat sewaktu kecil kakek membuatkan aku ayunan besi. Ayunan itu kini masih ada di kamar kakek. Aku ingin mengenang kakek, dan berusaha memudarkan sedikit kerinduanku. Aku pergi kemakam kakek yang cukup jauh dari rumah. Aku menuliskan sepucuk puisi untuk kakek, walaupun aku tak tahu kakek dapat membacanya atau tidak. Ada satu tetesan air mata di puisiku untuk kakek, di atas kata; kakek aku ingin tertawa dan melihatmu memandang kebun di depan rumah lagi.

Aku kembali ke rumah membawa batu yang ada di samping makam kakek. Entah mengapa aku membawa batu itu. Aku rasa aku dekat dengan kakek saat memegang batu itu. Sesampainya di rumah, aku duduk di kursi tua teras di mana kakek biasanya duduk sambil memainkan batu yang kubawa dari makam kakek. “Kakek aku rindu sekali,” gumamku.

Ibu menghampiriku dengan segelas susu yang ia bawakan untukku. Ibu berkata, “Nak, ibu juga sedih, tapi jangan terlalu larut. Biarkan kakekmu tenang di sana. Doakan dia agar kita bisa berjumpa kelak.” Aku tertunduk dengan tangan yang meremas dan wajah kemerah-merahan.

Setiap akan pergi ke kmar mandi, aku melewati depan kamar kakek dengan pikiran aku ingin masuk, aku ingin masuk. Aku memberanikan diri untuk masuk, sayang pintunya terkunci. Pasti ibu yang mengunci dan menyimpan kuncinya. Setiap hari Minggu dini hari, ibu pergi ke pasar untuk belanja. Terbesit dalam benakku, aku akan menyelinap ke kamar ibu dan mencari kunci kamar kakek. Aku ingat sekali kunci kakek berwana emas dan berisi gantungan bunga jepun. Hari Minggu pun tiba, saat ibu pergi ke pasar, aku mulai menggeledah kamarnya. Dan aku menemukannya. Aku senang sekali. Aku membuat duplikat kunci kamar kakek dan mengembalikan kunci aslinya setelah itu.

Pada malam hari tepatnya pukul sebelas di mana seisi rumah telah tidur, aku menyelinap ke kamar kakek. Aku duduk di kasurnya melihat ayunan yang ia buatkan untukku. Tanpa kusadari aku tertidur di kamar kakek. Aku bermimpi kakek memberikan aku sebuah kertas yang berisi gambar guci, kakek tidak menjelaskan apapun. Aku pun terbangun dan kembali ke kamarku. Aku terbayang-bayang dengan mimpi itu dan penasaran apakah kakek memiliki guci atau semacamnya tapi kenapa aku tidak pernah tahu.

Malam berikutnya, aku menyelinap ke kamar kakek di jam yang sama. Aku menggeledah kamar kakek dan aku menemukan guci walaupun tidak seperti yang kakek perlihatkan dalam mimpi. Tapi hanya itu satu-satunya guci di kamar kakek. Berdebu sekali aku melihat ke dalamnya, gelap dan banyak jarring laba-laba.

Aku meneranginya dengan senter ponsel yang aku bawa. Di dalam ada satu batu berwana hitam pekat dan mengkilat. Aku mengambilnya dan melihatnya lebih dekat. Ternyata ada tulisan seperti tulisan aksara Jawa kuno. Aku mencari tahu di ponselku mengenai aksara Jawa kuno. Dan akupun dapat membacanya.

Masuklah melalui dinding ini, dan jangan pernah takut sebut nama orang yang kaurindu, dan sentuh dinding itu dengan mata terpejam.

Tapi aku bingung dinding apa yang dimaksud kakek. Akupun berpikir apakah melalui guci ini. Aku pejamkan mata sambil menempelkan kedua tanganku kepada guci itu dan aku menyebutkan nama kakek. Aku tak merasakan apapun, akupun membuka mata. Betapa terkejutnya aku, aku bukan dikamar kakek lagi.

Aku berada di suatu tempat di mana tidak ada seorang pun dan tempat itu sangan gelap. Aku merasakan ada air yang merendam sebagian kakiku. Aku bingung, aku tak bisa melihat apapun. Aku tak mendengar siapapun. Sangat sunyi sampai aku bisa mendengar detak jantungku dan hembusan napasku sendiri. Aku bingung apakah ini mimpi atau ini nyata. Aku memanggil kakek, tetapi tidak ada respon darinya dan siapapun. Aku menangis, aku bingung, aku takut, aku tak tahu bagaimana cara kembali.

Aku terus berjalan entah ada apa di sana dan apa yang akan terjadi. Ini semua terasa sangat nyata. Aku rasa sudah berjalan cukup jauh, aku melihat cahaya redup sekali. Aku berlari menuju cahaya tersebut, namun cahaya itu tak pernah kucapai, semakin jauh. Aku pun terjatuh di sebuah lubang. Di lubang itu aku melihat seseorang yang berdiri agak jauh dekat cahaya yang kukejar, tampak seperti kakek.

Aku berteriak memanggilnya. Dia mengulurkan tangan dan menyuruhku datang. Aku menghampirinya dan berhasil menggapainya. Sesosok orang yang aku rindukan yaitu kakek. Namun bukan kakek yang terakhir kali aku melihatnya. Wujudnya seperti kakek yang masih muda. Aku pun merasakan sedikit ketenangan.

Kakek mengajak aku berjalan sambil berbincang. Kakek bertanya padaku, “Cucuku, apakah kau mau ikut denganku?”

Tentu saja aku mau, pkirku tak panjang. Kakek mengajakku menuju cahaya itu. Cahaya itu semakin dekat dan dekat. Aku dan kakek menembus cahaya itu. Ada danau dan rumah tua yang sangat indah di sana.

Aku berlari sambal bereriak betanya kepada kakek, “Kakek di mana kita?”

“Kita di alam kakek, kau tak akan dapat kembali ke alammu karena telah melewati cahaya tadi.”

aku bertanya kembali, “Bagaimana dengan ibu dan ayah, apakah mereka tak bisa kemari?”

“Tentu saja tidak, mereka sudah merelakan kakek.”

Aku pun berlari menuju danau dan terjerumus ke dalam seusatu yang gelap lagi. Pada saat itu aku sudah tidak merasakan apapun lagi. Semuanya telah selesai. Mungkinkah aku telah tiada, karena aku sudah tidak dapat meraskan apapun. Aku terbangun, namun bukan dalam tubuhku. Aku melihat ayah dan ibu menangis menggedong jasadku yang sudah mulai mengurus. Aku tersenyum dengan sedikit kesedihan, “Sampai jumpa ayah dan ibu, aku akan pergi menemui kakek dan mungkin aku tak akan menemukan pagi kembali.”

Penulis: Yuliana Pratiwi

Editor: Iqbal Firdaus

Gambar: pixabay.com

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *