Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah pemeluk Islam terbanyak. Tidak heran, apabila Islam dan Muslim hadir dalam representasi kultur pop Indonesia. Mulai dari musik, sastra, juga sinema. Hadirnya Islam dalam belantika sinema Indonesia pada era Reformasi dipopulerkan oleh film-film seperti Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Perempuan Berkalung Sorban dan lain sebagainya. Kami mewawancarai Ekky Imanjaya, seorang dosen film tetap di Universitas Bina Nusantara dan Ketua komite Dewan Kesenian Jakarta. Ekky cukup terkenal atas karya tulis yang membahas bagaimana Islam dan Muslim direpresentasikan dalam sinema Indonesia. Ia pernah menulis buku dengan judul Mencari Film Madani: Sinema dan Dunia Islam, dan buku terbarunya, berjudul Usmar Ismail: Mujahid Film. Wawancara ini adalah salah satu cara redaksi Pilar Demokrasi dalam menyambut bulan Ramadhan dan bulan film nasional pada bulan Maret lalu.

Simak wawancaranya berikut ini!

Apa definisi dari “Film Islam” secara umum?

Sebenarnya tidak ada definisi baku yang disepakati bersama. Dan ada banyak varian. Seperti film Islam, Film Islami, Film dakwah, profetik, dll.

Secara singkat, bagi saya, ada beberapa kategori tentang film bernafaskan atau bertema Islam. Pertama, Film yang “Islami” adalah yang mengandung nilai-nilai keislaman secara universal, walau tidak secara langsung menyatakan simbol keislaman—seperti yang dibahas Kuntowijoyo terkait “Sastra Profetik”.  Sutradara Chairul Umam juga pernah menyatakan saat saya wawancarai,   bahwa film Islami adalah film yang “cerita dan pengadegannya tidak meresahkan orang beriman”.  Artinya, selama cerita dan adegan bernafaskan nilai-nilai keislaman (kejujuran, tanggung jawab, disiplin, keadilan,  menjaga kebersihan, dll), maka itu sudah cukup. Bagi saya, walau ada benarnya, tapi definisinya terlalu luas. Selama kita memakna dan menafsirkan sebuah film dengan kacamata Islami, maka banyak film bisa dikategorikan ke sini.

Kedua,  yang sebaliknya. Semua harus terlihat ada tanda-tanda keislaman. Seperti simbol-simbol  dan ikonografi islami (ada adegan shalat, di masjid, jilbab), ucapan (salam, doa, ayat-ayat suci), bahkan ceramah agama yang verbal. Termasuk pernah ada kelompok yang ingin mencari semacam “fiqh film”—misalnya, bagaimana hukumnya pria dan wanita yang bukan mahram berpelukan atau berpegangan tangan dalam satu adegan.

Ketiga, film yang merepresentasikan dan bercerita tentang umat Islam dan segala permasalahan khasnya, namun tidak eksklusif hanya bisa bermakna bagi umat Islam saja.  Saya cenderung kepada yang kedua, yang juga saya sebut film Madani. Kebetulan sejak 2018 ada Madani Film Festival, yang saya juga ikut dirikan, dan saya setuju dengan visi misi dan pilihan kurasinya secara estetika dan tematisnya.  

Secara singkat, definisinya adalah: “film-film yang bercerita tentang Umat Islam dan permasalahan khasnya”, tentang “living Islam” (Islam yang dihayati dalam sehari-hari). Temanya adalah “kemusliman” dan seluk beluk bagaimana menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim.  Saya setuju dengan sutradari Bosnia Aida Begic dan cendekiawan Muslim Haidar Bagir. Film (yang bertema kemusliman) yang baik adalah justru yang tidak berceramah secara verbal. Semakin tidak terlihat berdakwah, semakin baik. Karena film bukan mimbar Jumat. Cerita harus dikemas dengan menarik, dengan standar estetika dan cara bertutur yang baik dan menghibur tanpa melupakan pesan-pesan islami yang universal.

Bagaimana awal mulai munculnya Muslim/Islam  dalam film Indonesia?

Sepertinya sebuah hal wajar kalau kisah-kisah Masyarakat Muslim masuk ke dalam film di negara yang mayoritas Muslim. Namun, saya mesti melakukan penelitian lagi kalau topiknya adalah sejarah munculnya Muslim/Islam dalam cerita film-film Indonesia. Dulu sempat ada film Lari ka Arab (1930), yang awalnya berjudul Lari ka Meka (Mekkah), tapi disensor karena menyebut kota suci umat Islam. Film ini dibintangi oleh  Partasuwanda adalah dalang wayang golek terkenal.

Asrul Sani termasuk yang paling dulu membuat film bertemua dunia Islam, khususnya dunia santri. Misalnya Titian Serambut di Belah Tujuh (1959) yang kemudian didaurulang oleh Chairul Umam tahun 1982 . Asrul juga membuat film Tauhid (1964), berkolaborasi dengan Usmar Ismail dan Djamaluddin Malik, di bawah bendera Lesbumi (sayap seni budaya Nahdhatul Ulama).

Karya kolaborasi  ASrul dan Chairul Umam adalah salah satu favorit saya, dan biasanya dengan berbagai film dengan berlatar pesantren. Seperti Al Kautsar (1977) serta Nada dan Dakwah (1994). Ceritan biasanya tentang pembaruan dalam Islam, dimana ada orang dari luar kota hadir ke sebuah desa, tepatnya ke pesantren.

Seberapa penting representasi Muslim/Islam dalam film Indonesia? mengingat Indonesia memiliki salah satu jumlah muslim terbesar di dunia.

Film adalah  alat untuk bercerita. Dan sineas pada dasarnya adalah storytelller dengan media audio visual.  Pasti banyak sekali kisah-kisah seputar Masyarakat Muslim dengan problematika khasnya. Misalnya tentang naik haji, berpuasa, sunat, mandi wajib, mudik, perbedaan furuiyah (seperti isu bid’ah),  hingga tema anti-radikalisme dan toleransi. Atau juga Muslim sebagai warga negara dan warga dunia berinteraksi dengan umat atau negara lain.  Namun bagaimana caranya agar tidak terjebak menjadi dakwah verbal.

Film bisa juga berfungsi sebagai “duta” sebuah negara atau komunitas, atau dalam hal ini Masyarakat Muslim Indonesia. Sineasnya bisa memperlihatkan bahwa kaum Muslim juga manusia, punya emosi, dialektika kehidupan, dinamika   keseharian. Dan juga memasukkan nilai-nilai anti-kekerasan, sisi manusiawi Masyarakat Muslim yang menghayati nilai-nilai luhur dan ramah, dan sebagainya.

Yang menarik, sedikit sekali film yang mengungkapkan latar belakang Ramadhan, Idul Fitri, mudik, atau Idul Adha. Dari sedikit itu, misalnya ada film Rindu Kami Pada-Mu dan Ghibah. Saya pernah tulis di blog saya (tapi mesti saya update, sih)

Bagaimana penggambaran muslim/islam di film Indonesia pada era Reformasi?

Sekarang sudah makin berkembang variatif, baik dari genre, gaya, tema, dan pendekatan sinematis.

Beberapa  film bertema Islam pasca 1998 biasanya hasil alih wahana dari novel laris. Sebut saja Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, hingga Perempuan Berkalung Sorban dan Tiga Hati Dua Dunia Satu Cinta.  Ada film yang berdakwah dengan verbal, dengan simbol-simbol yang terlihat. Juga mementingkan tema urgensi pendidikan (biasanya S2 luar negeri), soal poligami, dan mencari jodoh yang syar’I (ta’aruf).  Ini lebih bersifat kegelisahan atau problematika individual.

Lantas ada yang bernuansa Islam Internasional atau kosmopolitan. Muslim sebagai bagian dari masyarakat dunia dan mewariskan peradaban yang tinggi. Genre-nya tidak melulu drama, tapi ada horor (Ghibah, di luar negeri ada Munafik, Dabbe), thriller (Pesantren Impian), komedi (Mekkah I’m Coming), dan sebagainya. Temanya juga tidak melulu permasalahan pencarian jati diri, pertobatan, atau memperlihatkan Islam yang berjuang atau yang berprestasi atau yang paling menonjil. Tapi juga masalah yang lebih bersifat sosial, budaya, bahkan politik, seperti terorisme, anti radikalisme, intoleransi dan kerukunan intra dan antar umat beragama juga dada. Misalnya, karya-karya Nurman Hakim, Garin Nugroho (Mata Tertutup, Rindu Kami Pada-Mu). Atau menyindir praktik korupsi (hal yang difatwakan haram oleh mayoritas ulama, tapi banyak yang menganggap bukan bagian dari kemusliman), seperti dalam film-film Deddy Mizwar (Ketika, Alangkah Lucunya Negeri Ini).

Penggambaran perempuan muslim di indonesia cukup menjadi diskusi pada beberapa tahun b elakangan, menurut mas, bagaimana penggamabran perempyan muslim di film Indonesia?

Saya tidak banyak meneliti tentang sosok perempuan dalam film-film bertema Islam. Sepertinya Dr.  Alicia Izharuddin (penulis Gender and Islam in Indonesian Cinema)  dan  Dwiki Aprinaldi (penulis Gender, Islam, dan Sinema)  bisa lebih fasih menjelaskan hal ini. Tapi saya melihat karakter perempuan di film-film Madani banyak yang tidak sekadar pelengkap saja, dan juga semakin kuat penokohannya. Sosok kuat, misalnya bisa dilihat mulai dari Tjoet Nyak Dhien.

Tapi,  saya tidak setuju dengan penuturan, misalnya  film Perempuan Berkalung Sorban. Film itu  menceritakan tentang pesantren dan umat Islam yang tak ramah terhadap perempuan, namun solusinya bukanlah Islam yang ramah terhadap perempuan (misalnya, buku karya Fatima Mernissi, Ali Asghar Engineer, atau Annemarie Schimmel), tetapi karya-karya “kiri”.  Kalau film itu diputar di sebuah komunitas yang tidak paham Islam (misalnya di London atau New York) dan konteks besarnya, maka kemungkinan besar akan salah paham, dan menyimpulkan bahwa ajaran Islam memang benar-benar misoginis (benci terhadap wanita).

Ekky sendiri sering memakai istilah “Film Madani”? Apa itu “Film Madani”? Apakah ” film madani” berbeda dengan “film islam”?

Sudah saya jabarkan di atas, ya. Dengan memakai istilah film Madani, saya memperlebar jangkauan. Saya bisa mengulas film-film seperti Yuni, Bukan Cinta Biasa, Laskar Pelangi dengan bingkai Madani. Pendek kata, film-film yang selama ini tidak dianggap “Islami.  Atau film-film Yasmin Ahmad (misalnya, Mukhsin, Rabun, dan Talentime di Netflix).

Dari film-film yang beredar, menurut mas, bagaimana masa depan dari film bertemakan islam/muslim di Indonesia?

Semakin baik. Seperti saya bilang di atas, makin banyak variasi tema dan genre, berarti makin banyak pilihan. Dan juga makin banyak yang tidak verbal.  Tapi masing-masing tipe dan jenis film punya penontonnya sendiri, sebenarnya.

Pertanyaan terakhir, mungkin bisa kasih 5 film rekomendasi bertemakan Islam sebagai referensi

Ada beberapa yang mungkin bisa jadi referensi:

Kantata Takwa  

Titian Serambut dibelah Tujuh

Rindu Kami PadaMu

Yuni

3 Hati 2 Dunia 1 Cinta

Para Perintis Kemerdekaan.

Al-Kautsar

Desain dan diwawancarai oleh: Galih Pramudito

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *