Beberapa hari lalu,  seorang akademisi yang beberapa tahun terakhir juga nyambi  menjabat sebagai pengamat politik, Rocy Gerung membuat sebuah analisis yang tidak biasa dilakukan melalui akun resmi youtube-nya. Bung Rocky ini mengeluarkan pernyataan bahwa kecil kemungkinan Ahok, atau kerap dipanggil BTP akan berhadapan dengan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan pada Pemilihan Presiden (Pilpres)  2024. Sebaliknya, Ahok sangat berkemungkinan akan menjadi calon wakil presiden menemani Anies yang maju sebagai calon presiden. Rocky beranggapan bahwa Ahok merupakan sosok yang kuat sebagai pendorong perubahan, tapi tidak untuk memimpin. Berbeda dengan Anies yang memiliki legitimasi kuat dari masyarakat, meskipun belakangan survei elektabilitasnya juga turun karena beberapa permasalahan di DKI Jakarta.

Pernyataan ini tentu saja berbanding terbalik dengan manuver beberapa partai politik dalam beberapa waktu terakhir. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan juga  Nasional Demokrasi (NasDem) yang kian mesra dari waktu ke waktu seolah-olah menyatakan kepada publik bahwa siap bersama mengusung Anies pada Pilpres 2024. Di sisi lain, Partai  Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mulai tampak panik dengan survei elektabilitas Anies. PDIP sebagai satu-satunya partai yang memenuhi presidential threshold tidak memiliki kader dengan elektabilitas tinggi seperti Jokowi pada 2014 silam, maupun kader yang elektabilitasnya dapat menyaingi Anies di tahun ini. Nama Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo atau Walikota Surabaya, Tri Rismaharini memang disebut-sebut akan diusung oleh PDIP pada Pilpres 2024, namun hasil survei menyatakan bahwa persentase elektabilitas kedua tokoh tersebut masih agak jauh dibandingkan Anies. Ahok, bahkan tidak masuk lima besar pada hasil survei yang dirilis Indo Barometer (IB) pada Februari lalu. Lantas kemanakah Jokowi setelah tidak lagi bisa mencalonkan diri ?

 

Jokowi yang sudah tidak lagi bisa mencalonkan diri pada Pilpres 2024 hampir pasti akan ditinggalkan oleh Partai Benteng tersebut, mengingat beliau bukanlah pejabat tinggi partai politik tersebut dan alotnya restu PDIP atas pencalonan anaknya, Gibran sebagai calon walikota Solo. Beberapa waktu terakhir, tampaknya Jokowi lebih mesra dengan Golkar dan Gerindra seperti mengisyaratkan adanya poros ketiga di Pilpres 2024 nanti. Jokowi nampaknya belajar dari Susilo Bambang Yudhoyono yang mulai kehilangan kekuatan politiknya setelah menjadi presiden dan membawa partai politiknya berkuasa selama 10 tahun. Jokowi seolah-olah ingin menjadi sosok di balik layar pada Pilpres 2024, sehingga program-programnya dapat dilanjutkan oleh presiden baru, termasuk wacana pemindahan ibu kota. Nama Prabowo Subianto ataupun Sandiaga Uno menjadi yang terdepan sebagai sosok yang mungkin akan diusung oleh koalisi Jokowi — Golkar — Gerindra ini. Nama terakhir bahkan sempat disebut oleh Jokowi sebagai sosok yang kemungkinan besar menggantikan dirinya sebagai presiden pada tahun 2024. Pernyataan ini disampaikan Jokowi pada acara pelantikan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) pada Januari yang lalu.

Tapi mari sedikit lupakan ulasan mengenai manuver partai politik di atas, kita semua tahu politik kita sangat cair, dimana partai politik di Indonesia cenderung kurang ideologis sehingga akan dengan mudahnya koalisi terbentuk antar partai meskipun memiliki basis massa pemilih yang berbeda. Mari kita kembali ke persoalan kemungkinan duet Anies — Ahok di Pilpres 2024. Apabila dianalisis dari basis massa pemilih, tentu saja massa pemilih Anies dan Ahok sangat jauh berbeda. Bahkan kelompok-kelompok pemilih Anies didominasi oleh massa yang menggugat Ahok terkait pernyataannya pada tahun 2012 yang lalu. Basis massa ini pasti akan sekali lagi harus merasa kecewa setelah gabungnya Prabowo dan Gerindra ke koalisi Jokowi. Anies dapat dipastikan akan kehilangan basis massa Islam kanan ini dan sangat besar kemungkinan basis massa ini akan diambil oleh Prabowo dengan koalisi Jokowi — Gerindra — Golkar nya dengan catatan Jokowi sudah resmi mengundurkan diri dari PDIP.

 

Duet Anies — Ahok ini mungkin saja diusung oleh koalisi PKS — Nasdem dan pastinya Ahok harus mengundurkan diri terlebih dahulu dari PDIP. Tapi hal ini akan sangat disesali oleh PKS karena akan kehilangan basis pemilihnya dari kelompok Islam kanan. Suatu konsekuensi besar sebagai partai politik yang cenderung paling dekat dengan ideologi Islam konservatif saat ini.

Dari beberapa penjelasan di atas tentu saja duet Anies — Ahok merupakan skema yang paling rumit atau kecil kemungkinan akan terealisasikan. Hal ini dikarenakan oleh dua faktor, yaitu basis massa pemilih yang sangat jauh berbeda dan ideologi PKS. Sampai 2024, rasanya Ahok akan tetap di jabatannya sekarang sebagai Komisaris Utama Pertamina. Kalaupun tidak, Ahok mungkin akan menjabat sebagai Kepala Badan Otorita ibu kota baru,  yang mana kini namanya masuk dalam empat besar kandidat bersama dengan Tumiyana (Direktur Utama Wijaya Karya), Bambang Brodjonegoro (Menteri Riset dan Teknologi / Kepala Badan Riset Inovasi Nasional), dan Azwar Anas (Bupati Banyuwangi).

 

Penulis                 : Muhammad Rusydi Arif / mahasiswa Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya program studi D4                                       Teknik  Pengolahan Limbah

Editor                   : Mauliya Redyan Nurjannah

Sumber Gambar : politik.rmol.id

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *