Sesuai dengan makna Ramadan yaitu pembakaran, berharap Covid-19 terbakar hilang lenyap seiring dengan lenyapnya segala sifat negatif manusia, lenyapnya kekejian dan maksiat. Bulan Ramadan membakar, menghanguskan dan melenyapkan semua dosa serta angkara murka yang melekat pada diri manusia.

Kaitannya dengan Covid-19, ramadan dapat menjadi klinik penangkal juga penyembuhan dari virus karena klinik ramadan menggiring individual dan sosial berbasis keumatan untuk melestarikan nilai-nilai  ketuhanan yang dapat meredam murka serta tercurah rahmat Allah. Kedatangan ramadan mestinya sebagai refleksi  preventisasi, kuratisasi dan konstruksi dalam menuntaskan perilaku-perilaku keji setiap langkah kita. Pendekatan preventif (pencegahan dan pengawasan) berorientasi pada perwujudan dan integritas diri melalui pengawasan, pengurangan serta penghindaran diri dari perilaku-perilaku buruk yang dapat mendatangkan dosa dan maksiat. Manusia pun kembali kepada kesucian dan ketenangan jiwa. Menurut Ibnu Sina dalam bukunya yang berjudul “Qaanun fii Tib” bahwa jiwa yang tenang sebagai penangkal dan sebagai obat dari pandemi wabah penyakit.

Ramadan adalah religi terapi kejiwaan, dimana individu beribadah yang ikhlas kepada Allah Azza Wa Jalla, memasung jiwa dalam kebaikan, meninggalkan perbuatan angkara murka, membelenggu sifat individual, hasad, iri hati, takabur, pongah, angkuh, berucap kata-kata kotor, mengumpat dan menggunjing, maka proses terapeutik melalui metodologi klinikal ramadan telah bergulir, untuk kemudian individu merasakan kenyamanan, kedamaian, ketenangan, ketenteraman serta kesehatan mental paripurna.

Orang-orang yang senantiasa dalam kejiwaan tersebut akan menghasilkan getaran frekuensi tinggi sehingga dapat mengusir virus. Hal ini telah dibuktikan oleh David Hawkins seorang peneliti tentang frekuensi yang menyatakan bahwa virus tidak bisa hidup pada frekuensi tinggi manusia, namun virus berada pada manusia dengan frekuensi rendah yang diakibatkan dari rasa panik, takut, kuatir, sedih, frustasi, panik dan jauh dari nilai-nilai agama. Saya pun yakin bila kaum muslimin menjalani Bulan Ramadan dengan sebaik-baiknya tidak ada lagi tempat tinggal bagi Covid-19, dan kesibukan di bulan penuh ampunan ini akan mensukseskan social distancing dan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

 

Kita tak tahu pasti sampai kapan wabah Covid-19 ini hilang atau musnah di bumi. Kita begitu berharap akan segera hilangnya pandemi ini supaya aktivitas bisa berjalan seperti sedia kala, dan bisa khusyuk dalam beribadah di bulan suci ini. Meski sebagian pakar menyodorkan aneka macam perkiraan yang menggembirakan, sampai saat ini kita tak mungkin bisa menentukan batas akhir krisis kesehatan itu, baik dalam hitungan hari, minggu, maupun bulan, atau bahkan tahun.   Namun tidak berarti optimisme kita biarkan perlahan-lahan menghilang dari pikiran, kendati harus dipahami pula bahwa memelihara “harapan palsu” bukanlah cara terbaik untuk menghibur diri dan memperbaiki situasi. Kenapa demikian? “Harapan palsu” yang biasanya dipicu oleh ramalan-ramalan tanpa dasar, manipulasi doktrin agama, hoaks dan propaganda, serta terlalu beratnya tekanan hidup yang dirasakan, pada akhirnya justru membuat kita menjadi gampang lemah atau “patah hati”, serta kehilangan motivasi bertahan.

Viktor Frankl, seorang ilmuwan yang berhasil lolos setelah mengalami siksaan panjang di kamp konsentrasi Nazi, turut mengingatkan bahayanya sebuah “harapan palsu”. Harapan palsu menjadi salah satu penyebab melonjaknya angka kematian para tawanan seusai melewati saat-saat yang terlanjur diyakini mereka sebagai “momentum kebebasan”. Sebaliknya, ia menyarankan orang-orang yang sedang dilanda krisis berkepanjangan agar memiliki “tragic optimism”, yaitu meyakini atau mengharap adanya “happy ending” di masa mendatang, dengan tetap merawat ketegaran dan kejernihan hati menghadapi getirnya kenyataan saat ini.   Terlebih lagi di kala ramadan kebetulan sudah berada di depan mata.

Bulan penuh rahmat ini sepatutnya kita manfaatkan sungguh-sungguh untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbesar optimisme seraya memohon ampunan dan pertolongan-Nya. Besar harapan agar di bulan suci ini semoga kita semakin giat berbagi, membantu para hamba-Nya yang susah, menebarkan kebahagiaan kepada sesama, yang sejatinya merupakan makna inti ramadan itu sendiri, yakni mengajarkan manusia untuk berempati dan mengasah solidaritas terhadap kaum fakir miskin.

 

Hablum minannas dan Hablum minallah bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Hablum minannas secara bahasa bermakna hubungan sesama manusia sedangkan Hablum minallah artinya hubungan antara manusia dengan Allah.

Gambaran pokok manusia beragama adalah penyerahan diri. Ia menyerahkan diri kepada sesuatu yang Maha Gaib lagi Maha Agung. Ia tunduk lagi patuh dengan rasa hormat dan khidmat. Ia berdoa, bersembahyang dan berpuasa sebagai hubungan vertikal (hablum minallah) dan ia juga berbuat segala sesuatu kebaikan untuk kepentingan sesama umat manusia (hablum minannas), karena ia percaya bahwa semua itu diperintahkan oleh Zat Yang Maha Gaib serta Zat yang Maha Pemurah.

 

Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdirrahman Muadz bin Jabal radhiyallahu anhuma, dari Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam beliau bersabda, Bertakwalah kepada Allah dimana pun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskan (keburukan). Dan pergauilah manusia dengan akhlak yang mulia. (HR. At-Tirmidzi, dan dia berkata: Hadits Hasan Shahih).

 

Sebagaimana firman Allah yang artinya:  “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kalian mati melainkan dalam keadaan muslim”. (QS. Ali Imran: 102)

 

Hadits di atas mengandung 3 wasiat Nabi yang sangat penting, yakni wasiat tentang hubungan secara vertikal manusia kepada Allah (hablum minallah) dan hubungan secara horizontal sesama manusia (hablum minannas).

Setiap orang akan merasa senang jika datangnya ramadan tahun ini bertanda akhir dari masa ketidakpastian dan kesengsaraan akibat pandemi korona. Tetapi peluang “keajaiban” itu sebaiknya tidak dijadikan obyek imajinasi yang malah menjauhkan kita dari semangat berikhtiar mengatasi tumpukan masalah, sembari menelusuri beragam hikmah yang ada di baliknya.

Kita semua, khususnya umat muslim, diperintahkan pula untuk tawakkal atau berserah diri kepada Tuhan. Namun tawakkal berbeda dengan fatalisme atau bersikap pasif dan tidak berbuat apa-apa kecuali menunggu takdir-Nya. Kita pun tahu bahwa doa tawakkal yang sangat populer; “Bismillahi tawakkaltu ‘alallah” adalah doa yang lazim diucapkan ketika hendak berangkat keluar rumah atau berikhtiar, bukan doa berangkat tidur.   Maknanya apa? Tawakkal harus beriringan jalan dengan ikhtiar, menyatu dalam sebuah tarikan nafas yang sama, dan kurang lebih seperti itulah kesadaran yang perlu kita tancapkan di hati tatkala menyongsong bulan suci ramadan kali ini, yang hadir di tengah-tengah masa kedukaan bangsa.   Hablum minallah diperkuat dan hablum minannas pun dipererat.

 

Penulis           : Gading Pamungkas

Editor             : Abdul Khaliq Napitupulu

 

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *