Membaca tidak hanya diperintahkan kepada Nabi Muhammad SAW saja, tetapi juga bagi seluruh umat di dunia ini. Sebab dengan membacalah kunci menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

“Assalamualaikum, teman-teman. Perkenalkan nama saya Aisyah. Kali ini saya akan membacakan cerita yang berjudul …”

Begitulah keseruan anak-anak mengikuti kelas bercerita yang diadakan oleh Taman Bacaan Masyarakat Mata Aksara. Meski hujan turun rintik-rintik, namun orangtua terlihat antusias mengantarkan anak-anaknya ke TBM Mata Aksara. Semua dilakukan agar para anak dapat memanfaatkan waktu kosong dengan membaca dan berbaur bersama teman-temannya.

Berlokasi di Jalan Kaliurang kilometer 14, Umbulmartani, Ngemplak, Sleman, taman bacaan ini berada persis di belakang toko bangunan Praktis Jaya. Meski tak begitu luas, taman bacaan ini tidak hanya sekedar menyediakan buku cerita untuk anak-anak, bahkan berbagai macam buku bertema remaja dan dewasa juga tersedia di sini.

Mata Aksara merupakan hasil perjuangan keras Nuradi Indra Wijaya bersama istrinya Heni Wardatur Rohmah yang dirintis pada 9 Januari 2010 lalu. Awalnya, semua buku yang ada di Mata Aksara merupakan usaha Nuradi dan keluarganya dengan membeli sendiri serta melakukan relasi kepada negara-negara yang mempunyai kedutaan besar di Indonesia. Pemberian dari kedutaan besar ini lah yang kemudian dikelola dan dikumpulkan hingga menjadi perpustakaan keluarga.

“Kemudian dari perpustakaan keluarga itu, karena kita merasa bahwa buku itu sudah banyak yang dibaca, alangkah sayangnya kalau kita hanya egois dipakai sendiri. Karena masih banyak ternyata masyarakat di luar sana yang tidak bisa membaca buku. Akses itu tidak mereka dapatkan dengan mudah dan kita ingin berbagi itu,” ucap Nuradi.

Alhasil, apa yang dilakukan oleh pria yang akrab dipanggil Adi itu diterima baik oleh masyarakat. Hal itu, menurutnya, dikarenakan tingginya minat baca dari masyarakat namuntidak diimbangi dengan akses bahan bacaan yang baik sehingga membuat masyarakat menjadi tidak bersemangat dalam membaca.

Untuk memudahkan mobilitas taman bacaannya, Adi juga merombak motor biru beroda tiga pemberian dari Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Sleman hingga memiliki kontainer di bagian belakangnya. Melalui kontainer tersebutlah, buku-buku disebarkan ke berbagai desa dan sekolah yang tak jauh dari Mata Aksara.

Selain menyediakan tempat bacaan dan perpustakaan keliling, taman bacaan ini juga menyediakan berbagai macam program kelas menarik mulai dari anak-anak hingga untuk orang dewasa. Program kelas yang disediakan antara lain kelas bercerita, menggambar, menari, merajut, bercocok tanam aquaponik, catur dan sebagainya.

Bahkan dalam kurun waktu terdekat ini, Adi berencana membuat cafe baca yang menyajikan berbagai macam makanan murah dan banyak buku serta beberapa kajian diskusi. Tak lupa pula Adi juga akan menyediakan akses internet gratis guna menarik banyak mahasiswa agar tertarik membaca.

Program kelas yang disediakan Mata Aksara ini bahkan tidak dipungut sepersen pun alias gratis. Menurut Ida dan Lana, wali murid dari kelas bercerita, terkadang masih ada rasa kurang kepedulian dari masyarakat meski kelasnya tidak membayar, masyarakat enggan untuk datang mengikuti program kelas Mata Aksara.

“Namun, begitulah sebuah kendala karena tidak ada cara menjadi pemenang dengan mudah, walaupun langkahnya sangat mudah,” imbuhnya.

Berbeda dengan pemikiran kebanyakan, Adi tidak menjadikan setiap kendala yang dialami sebagai suatu masalah. Sebab, jika menganggap kendala merupakan suatu masalah akan menjadikan kata-kata negatif menjadi tidak produktif, sehingga Adi justru menganggap kendala yang dialami sebagai suatu tantangan dan motivasi untuk bangkit.

Adapun tantangan yang dialami oleh Adi ialah minimnya sumber daya manusia yang menjadi relawan Mata Aksara. Akhirnya untuk menambah minat sumber daya manusia, dibuatlah jejaring ke berbagai mahasiswa agar tertarik menjadi relawan Mata Aksara.

Terkait minimnya relawan mahasiswa di Mata Aksara, Imam seorang mahasiswa UII yang merupakan penduduk asli Desa Umbulmartani mengaku belum pernah mendapat kabar ataupun sebuah selebaran yang menyatakan dibutuhkannya relawan Mata Aksara.

Imam sendiri mengenal Mata Aksara sejak dirinya masih duduk di bangku SMP. Ia mengaku suka mengikuti program rutin kelas catur yang diadakan Mata Aksara setiap hari Ahad, meskipun ia belum pernah berkontribusi langsung terhadap Mata Aksara.

Menurut Imam, “Mata Aksara ini sangat bagus. Sangat perlu diapresiasi. Sayangnya untuk mahasiswa UII sendiri sangat jarang yang berkontribusi. Kalau menurut pernyataan dari Bu Heni saat saya bersilaturrahmi ke Mata Aksara, malahan yang paling banyak bersinggungan dengan Mata Aksara, baik berkolaborasi atau belajar, malah dari mahasiswa UNY, mahasiswa UIN, UAD, dan sebagainya.”

“Saya juga tidak tahu apakah hal ini telah menjadi kebiasaan atau bahkan menjadi sunnatullah. Bahwasanya di daerahnya tidak terkenal, namun justru dikenal di daerah yang jauh. Padahal Ibu Heni sendiri merupakan ketua TBM tingkat DIY. Malahan yang lebih tahu adalah yang notabenenya lebih jauh,” imbuhnya.

Tak jauh berbeda dengan pendapat Imam, menurut pengakuan dari Ida dan Lana yang merupakan wali murid kelas bercerita Mata Aksara, mereka juga mengaku bahwa masyarakat yang sering datang berkontribusi justru adalah masyarakat yang notabenenya bertempat tinggal jauh dari Mata Aksara.

Umumnya, seorang pendiri ataupun penemu akan mengharapkan respon dari pemerintah guna keberlanjutan usahanya. Sekali lagi berbeda dengan pemikiran kebanyakan, Adi tidak mengharapkan respon dari pemerintah dalam pembangunan TBM Mata Aksara.

Ia hanya berpikirkan apakah yang sudah ia berikan untuk negara ini dan apakah yang ia lakukan itu bermanfaat bagi negara. Akhirnya berbagai kegiatanpun dilakukan hingga membuat pemerintah datang dan bermitra dengan Mata Aksara.

Bahkan, Mata Aksarapun menjadi mitra sejajar dan menjadi konsultan bagi banyak taman bacaan lainnya. Adi pun menyimpulkan dengan melakukan banyak kegiatan tanpa meminta apapun kepada pemerintah, justru akan banyak bantuan yang bermunculan.

“Beda tatkala kita belum melakukan apa-apa kemudian kita meminta. Orang juga tidak akan kasih. Tapi jika kita sudah melakukan banyak kemudian kita meminta, bahkan saat kita tidak memintapun, orang pasti akan memberi kepada kita,” terang Adi.

Berkat kegigihan Adi dan istrinya dalam mengelola Mata Aksara, akhirnya Mata Aksara mendapat banyak apresiasi dari berbagai pihak. Tak ketinggalan anak-anak dan ibu-ibu yang mengikuti kegiatan program di Mata Aksara juga turut mendapatkan berbagai penghargaan dan keuntungan.

“Iya, prestasi anak di sekolah jadi meningkat. Mata Aksara sendiri juga bekerja sama dengan sekolah-sekolah lain. Jadi kalau ada lomba-lomba yang melibatkan sekolah, justru anak-anak di sini yang sering dipilih karena lebih berani dan tidak gugup,” jelas Lana dan Ida.

Menurut keduanya, hal tersebut dikarenakan anak-anak dilatih agar sering berbicara di depan umum. Anak menjadi lancar bicara karena dalam mengajar, Heni Wardatur Rohmah memperhatikan pemilihan katanya dengan sangat baik. Proses itu lah yang membuat anak akhirnya terbiasa mengikuti.

Adi berharap Mata Aksara tidak hanya menjadikan seseorang gemar membaca, tetapi juga senang untuk datang ke tempat yang bernuansa buku. Ia juga berharap masyarakat dapat membaca dengan bobot yang lebih berkualitas.

“Bacaan Al-Quran kita juga kaya jika kita juga membaca buku-buku yang lain. Tapi setelah itu, untuk memperbaiki buku-buku yang kadang-kadang membingungkan kita, maka kembali kepada Al-Quran agar kita aman lagi,” terangnya.

Di akhir Adi berpesan, “Jika kita ingin memperoleh suatu ilmu maka mulailah dengan membaca. Walaupun terkadang, membaca hanya dilakukan saat kita membutuhkan saja. Seperti saat kita mau mengerjakan tugas atau saat mau menghadapi ujian. Akan tetapi dengan adanya rasa kebutuhan untuk membaca itulah, maka lama-kelamaan akan timbul rasa suka membaca.”

 

Penulis: Mu’arifatur Rahmah

Editor: Iqbal Firdaus

Reportase bersama: Hani Syahidah dan Siti Marhamah

Foto oleh: Reza Maraghi

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *