Aku langgas!

Sekali lagi Marini melaungkan kalimat itu kepada pekatnya malam. Batinnya bergemuruh. Sebuah harapan mengalahkan rasa lelah pada dirinya. Seketika itu ia tersenyum. Namun, pada detik selanjutnya ia menangis. Betapa rasa sakit itu telah melukai sekujur tubuhnya.

Kemudian dengan geram ia melempar tas besar dalam pelukannya. Benda itu terpelanting menghantam tumbuhan perdu. Marini menjerit sekali lagi. Seketika itu di ujung pelupuk mata bulatnya menyimpan begitu banyak genangan air mata.

Aku langgas!

Bisik Marini nelangsa, penuh putus asa. Ia tahu hidupnya tidak akan lagi sama. Namun, sekarang ia telah puas. Bebas. Tiada lagi rasa sakit. Tiada lelaki bernama Jazuli.

*

Marini dan Jazuli bukan sekadar jejaka dan perawan yang tidak sengaja berselisih lalu. Ketika itu Marini hanya perempuan sebatang kara yang tinggal di gubuk reyot dekat pemakaman, sedangkan Jazuli adalah anak tuan tanah yang mewarisi harta tujuh turunan. Namun, kisah kasih Marini dan Jazuli tidak bisa didongengkan siapa pun. Kecuali oleh mereka sendiri.

Adalah Kartono, ayah Jazuli, yang telah mengatur perkawinan mereka. Jelas saja kabar itu segera menggegerkan seisi kampung. Beritanya merambat sangat cepat seperti jerami tersambar api. Semua orang menatap dengki wajah Marini. Sumpah serapah bergaung menghakiminya. Marini disebut punya azimat atas segala keberuntungan yang didapat.

Tapi Marini tidak peduli dengan tuduhan itu. Ia segera mengiakan lamaran Jazuli. Bukan saja karena ia tidak bisa menolak permintaan Kartono, namun karena ia juga menaruh hati pada lelaki bermata bening itu.

Tapi nasib berkata lain.

Ketika pertama kali Marini menginjakkan kaki di rumah gedong itu, ia merasa tidak yakin atas keputusannya. Namun, berulang kali Marini meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua akan baik-baik saja. Sebenarnya rumah gedong itu tidak akan menjadi masalah seandainya penghuninya hanya Marini dan Jazuli. Namun apa boleh buat. Rumah itu milik mertuanya.

“Anggap saja rumah sendiri, Marini,” ucap Kartono pertama kali saat ia tiba.

Marini merasa lebih baik ketika mendengar kalimat itu. Namun, apa yang terjadi tidaklah demikian. Pada hari pertama Marini tinggal, ia sudah dapat suatu keganjilan. Sore itu Marini duduk di teras rumah, sambil menyeruput segelas teh hangat. Lantas ketika makan malam tiba, Marini mendapat sindiran dari ibu mertuanya.

“Seharusnya sebagai tamu itu harus tahu diri. Banyak pekerjaan yang mesti dilakukan. Bukan malah santai-santai seperti nyonya besar!” ketus Surtini, ibunda Jazuli.

Wajah Marini mendadak pucat di seberang meja. Kalimat itu jelas tertuju kepada dirinya. Sebenarnya ia ingin membela diri. Sore itu ia hanya sedang meluruskan kakinya sebentar setelah membersihkan lantai. Tapi Marini memilih mengunci mulutnya rapat-rapat.

Selang beberapa bulan, Marini makin kewalahan. Banyak sekali perintah yang diberikan kepadanya. Jika bisa dihitung, mungkin perintah-perintah itu telah menghabiskan ratusan kertas dalam sehari. Tapi Marini tidak mau ambil pusing. Ia mafhum dengan keadaannya, sebab dirinya hanyalah seorang menantu.

Mertua Marini adalah orang sibuk. Selalu dipanggil sana sini untuk memberi sambutan atau sekadar menjadi tamu kehormatan. Itu sebabnya Marini maklum jika harus mengerjakan pekerjaan rumah seorang diri. Tapi ada kalanya ia merasa jengkel. Rasa lelah dan sedih yang membuatnya seperti itu. Saat-saat seperti itu Marini hanya bisa menangis.

Pada suatu malam, Marini pun memberanikan diri untuk menceritakan keresahannya kepada Jazuli. Lelaki yang sangat ia sayangi.

“Kenapa tidak sewa pembantu saja, Mas? Aku benar-benar cape!” getir Marini.

“Untuk apa?” sahut Jazuli acuh tak acuh.

“Membantuku merapikan rumah, memasak, membuat kue bolu kegemaran ibu, mencuci pakaian, menyapu halaman belakang, menyiram tanaman, dan, ah … masih banyak yang lainnya!”

“Apa kamu tidak ikhlas mengerjakan semua itu?” tukas Jazuli dengan suara yang meninggi.

“Bukan begitu, Mas. Aku hanya merasa lelah jika seterusnya harus seperti ini.”

“Kalau memang kamu tidak suka, ya pergi saja. Sudah untung aku menikahi kamu! Masih banyak kok perempuan di luar sana. Kamu itu miskin, Marini. Tidak usah banyak tingkah!”

Marini tersentak dengan ucapan Jazuli. Seketika cairan bening berkubang di sudut matanya. Lalu tumpah menuruni lereng pipi yang terjal. Marini ingin menjerit. Tapi ia tidak punya kuasa.

Berbulan-bulan Marini hidup dalam keterpaksaan. Dirinya seperti dipasung oleh waktu. Ia tidak pernah sekalipun pergi ke luar rumah. Hidupnya hanya sebatas melayani suami serta mertuanya. Marini pun hanya bisa menangis dan menangis. Semoga kenestapaan cepat berlalu, batinnya.

“Aku minta pisah, Mas. Pisah!” ungkap Marini dengan suara berat. Ia pikir hanya dengan cara itu ia bisa bebas.

Tetapi perkataannya hanya memancing kemarahan Jazuli. Telapak tangan hitam itu mendarat di pipi sebelah kanan Marini, dan meninggalkan bekas merah setelahnya. Marini memohon ampun. Lelaki itu kesetanan. Tubuh Marini seketika limbung.

*

Pada suatu waktu, Marini diam-diam menyelinap ke luar saat Jazuli dan mertuanya tidak ada di rumah. Ia menjebol lubang jendela di kamarnya. Tak terbilang betapa bahagianya Marini saat dapat menghirup udara segar. Ia teringat dengan jalan. Teringat angin. Teringat akan kebebasannya.

Langkah Marini terseok-seok meninggalkan rumah gedong itu. Ia berjalan tanpa arah. Hingga suatu ketika ia melihat mobil Jazuli terparkir di sebuah tempat makan. Hasratnya yang lain membuatnya berani mendekati tempat itu.

Melalui lubang jendela, Marini melihat Jazuli dan mertuanya duduk bersama wanita yang tidak ia kenali. Batinnya terasa sakit saat melihat Jazuli bersanding dengan wanita itu. Oh, astaga! Pikir Marini, kenapa Jazuli mengecup bibir basah wanita itu? Dadanya tetiba terasa sesak. Tubuh Marini bergetar hebat. Ia segera meninggalkan tempat itu dengan kepala yang berdenyut-denyut.

Marini merebahkan tubuhnya di atas sofa. Badannya menggigil. Tak lama Jazuli dan mertuanya pulang. Tapi Marini tidak bisa membuka pintu. Ia tak kuasa mengangkat berat badannya sendiri. Tetiba Surtini berdiri di sampingnya, lalu menumpahkan segelas air ke wajah Marini. Ia terperanjat. Air panas itu segera membakar lapisan kulitnya.

“Menantu tidak tahu diri! Bukannya merapikan rumah malah enak-enakan tidur. Cepat ambilkan kami minum!”

Seketika itu Marini bergegas ke dapur. Ia berdengus penuh kebencian. Marini mengambil gelas, lalu mengisinya dengan air dan sirup perisa jeruk. Kemudian, Marini mengambil sedotan dan menaruhnya ke gelas. Tapi sebelum itu, ia telah memasukkan tusuk gigi yang paling runcing ke dalam sedotan minuman itu.

Marini menyuguhkan minuman itu. Tak berselang lama Jazuli dan mertuanya tersendat dan berdarah-darah. Marini segera merapikan baju dan meninggalkan rumah. Sebuah senyuman tersungging di bibir mungilnya.

“Aku langgas!” ucap Marini lirih, pedih.

 

 

Penulis    : Ede Tea / Penulis merupakan mahasiswa Institut Digital Bisnis Indonesia. Cerpennya telah tersebar di media cetak dan media daring. Karya-karyanya juga tergabung dalam beberapa buku antologi.

Editor      : Mu’arifatur Rahmah

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *