Sebuah peluru gas air mata keluar dari wadahnya. Membutakan sejenak mata seorang kutu buku yang berdiri di tengah ribuan anak Adam. Ia terjatuh karena terdorong. Badannya terinjak-injak oleh kaki-kaki yang ketakutan. Membuat si kutu buku itu tidak bernafas dan meregang nyawa.

***

Ribuan judul buku tertata di belasan rak lemari. Bayu berdiri di depan salah satu rak itu, memegang dan membaca salah satu buku sastra. Kumpulan puisi Chairil Anwar tepatnya. Lembar demi lembar ia baca dengan seksama. Ia tertarik dengan salah satu judul puisi Chairil Anwar, Karawang-Bekasi.

“Baca puisi melulu kaya cewek aja,” Riko mengagetkan Bayu. Saking kagetnya Bayu sempat menutup buku dengan tiba-tiba.

“Emang cewek doang yang boleh suka puisi? Nyatanya kebanyakan penyair itu laki-laki, buktinya Chairil Anwar,” jelas Bayu dengan nada kesal.

“Iya deh terserahmu.”

Bayu kembali dengan kesibukannya. Melanjutkan lembaran kertas yang lusuh itu. Nampaknya buku ini terbit sebelum ia lahir, warna coklat, sedikit berdebu, baunya pun khas. Ketika ia membalikkan lembaran kertas mulutnya bergumam, “Memang sastra tidak pernah terbatasi oleh waktu.”

Sama halnya dengan Bayu, Riko mulai mengambil buku-buku dari rak dan membacanya. Akan tetapi tidak ada yang ia baca sampai tuntas. Sekadar membuka, membaca sekilas dan menaruhnya kembali di rak semula.

Riko mulai bosan dengan buku-buku yang berjejeran. Ia mengambil handphone di saku celana. Sudah hampir dua jam ia belum melihat layar handphone. Ketika handphone itu dinyalakan, terdapat sebuah pesan yang dikirim oleh teman Riko.

“Apa kalian akan diam saja ketika keadilan direnggut? Apa kalian acuh tak acuh ketika rakyat melarat. Ayo rapatkan barisan,” begitulah isi pesan singkat tersebut.

Seketika jiwa muda Riko terbakar. Ia terprovokasi oleh deretan kata yang barusan dibaca. Rasa ingin turun ke jalan, menyuarakan aspirasi membayangi pikirannya.

“Apa kau tau berita tentang rancangan undang-undang yang sedang viral?”

Hanya anggukan kepala sebagai jawaban dari Bayu. Matanya tetap terpaku ke buku yang dibaca. Kecintaannya terhadap apa yang dibaca membuatnya enggan diganggu oleh siapapun. Terutama sahabatnya sendiri.

“Dasar kutu buku gemulai. Kamu masa bodoh sekali dengan keadaan pemerintah,” celetuk Riko yang naik pitam setelah dirinya dicampakkan. Saking kesalnya Riko merebut buku puisi yang dibaca Bayu dan menaruhnya di rak buku.

“Seberapa kenal sih kau dengan Chairil Anwar dan Wiji Thukul. Aku meragukan kecintaanmu terhadap sastra.” Bayu masih melongo mendengar orasi-orasi sahabatnya yang terbakar semangat. Ia berusaha memahami apa yang diinginkannya.

“Walaupun aku tidak paham betul dengan sastra tapi menurutku sastra tidak akan membutakanmu untuk mendengarkan keluh kesah warga,” Riko masih bertahan dengan nada yang cukup tinggi. Ia tidak mikirkan dimana ia sedang berada. Usaha untuk mengajak Bayu untuk turun ke jalan selalu terlontar dari mahasiswa ini.

“Baiklah aku akan ikut denganmu turun ke jalan besok,” kata Bayu singkat untuk menutup orasi-orasi dari sahabatnya.

***

Terik matahari hampir sejajar dengan ubun-ubun kepala. Ribuan anak Adam yang sering dijuluki sebagai mahasiswa berkumpul di depan kampusnya. Dengan satu komando yang berseru untuk jalan, kumpulan mahasiswa itu bergerak memenuhi jalan raya. Aparat keamanan mengatur ombak manusia agar tidak terjadi kericuhan.

Setiap langkah mereka diisi dengan nyanyi-nyanyi pembakar semangat. Semua bernyanyi dengan lantang. Seorang pecinta puisi dan kutu buku, Bayu menjadi bagian dari mereka. Ini pertama kalinya ia mengikuti kegiatan di luar kampus dan tidak memegang buku. Biasanya ia selalu membawa buku dan hanya mengikuti kegiatan seminar, pembelajaran, dan hal-hal semacamnya.

“Aku bangga dengan kalian yang turun ke jalan,” seru salah mahasiswa dari kampusnya sambil berlari di tepi barisan.

Mentari semakin panas. Tempat tujuan mereka hampir sampai. Yel-yel dan nyanyi-nyanyi semakin gencar dilantangkan. Mereka disambut oleh mahasiswa berbeda kampus yang sudah datang terlebih dahulu. Walaupun kampus mereka berbeda, tujuan mereka satu; menuntut keadilan untuk masyarakat.

Setelah beberapa orasi-orasi yang dituturkan mahasiswa-mahasiswa pilihan selesai, ribuan manusia duduk beristirahat di atas tanah kering. Mereka mengumpulkan tenaga untuk aksi nanti.

“Bagaimana perasaanmu. Bangga tidak?” tanya Riko. Seperti biasanya, sahabatnya itu jarang sekali berucap. Hanya anggukan yang menjadi perwakilan atas  jawabannya. Sifatnya yang tidak suka banyak bicara membuat Riko memakluminya, namun bukan sikapnya saja membuat Bayu tidak bersuara, rasa lelah yang dirasa membuatnya tidak mau berbicara banyak.

“Ayo kawan-kawan kita berdiri kembali. Menyuarakan aspirasi masyarakat yang mereka bungkam,” teriak seorang pria yang berdiri di atas sebuah mobil. Sontak kata-katanya dituruti oleh semua orang yang berada di sana.

Nyanyian, yel-yel, orasi silih berganti keluar dari mulut mereka. Hampir lima jam sudah mereka tidak ditemui oleh seseorang yang mereka inginkan. Beberapa orang dari mereka ingin mencoba masuk ke dalam pagar. Dengan sigap anggota keamanan mencegahnya dan membuat beberapa orang itu mundur.

Peluh membasahi pakaian-pakaian mereka. Satu persatu dari mereka jatuh ke tanah karena lelah. Mereka yang terlanjur jatuh pingsan digotong ramai-ramai ke tepi lapangan. Mobil-mobil ambulan datang menjemput.

“Lihat kawan-kawan. Beberapa kawan kita telah jatuh terkuras tenaganya. Ayo desak para pengkhianat dan berikan kabar gembira kepada mereka yang rela berkorban,” teriak pria yang berdiri tegak di atas mobil pick up.

Riko menggepalkan tangannya. Jiwanya bergejolak. Terik matahari dan bualan pria-pria yang bergantian naik ke atas mobil mematik api di dadanya. Jaringan otot Riko tarik-menarik dengan kencang. Tanpa ragu ia mengumpat, “hajar bedebah itu.” Teriaknya kencang menjalar ke telinga mahasiswa yang sedang berkumpul di tanah lapang itu.

Ucapan-ucapan pembakar amarah bermunculan dari mulut-mulut massa. Mereka mendesak pagar bangunan pemerintah. Puluhan tangan saling mendorong. Bayu yang terhimpit dalam kumpulan manusia itu ikut-ikutan saling dorong. Tidak ada yang mau mengalah. Aksi dorong mendorong berakhir ketika gerbang pagar rusak dan jatuh.

Mereka berebutan masuk bak kumpulan ikan dalam plastik yang baru saja dipindahkan ke dalam kolam. Kini tinggal kawat berduri dan tameng aparat yang menjadi pembatas antara mahasiswa dan aparat. Huru hara melingkari tempat itu. Aparat sempat kewalahan, akan tetapi latihan fisik yang mereka lakukan setiap hari menjadi jaminan kekuatan mereka.

Entah angin apa yang datang, sebongkah batu terhempas mengarah ke salah satu aparat. Untung saja tameng yang ia pegang dapat melindungi. Tak ada yang luka hanya ada goresan kecil di tameng tersebut.

Setelah satu batu menuju aparat, beberapa saat kemudian disusul oleh kawan-kawan batu yang lain. Semakin lama hujan batu pun tercipta. Alunan suara pilu yang terdengar dari helm dan tameng aparat membuat bising kuping.

Tak terima diserang terus menerus, para aparat dengan serentak mengeluarkan senjata mereka. Layaknya kisah Romawi dan Persia terulang kembali. Bayu yang tidak membawa apa-apa berusaha mundur dari kericuhan. Ia takut nyawanya terancam. Ia tak mau nasibnya seperti Wiji Thukul. Pria kutu buku ini harus segera menjauh. Sayangnya larinya yang lambat membuatnya terkena peluru gas air mata.

 

 

Penulis                  : Bagus Sulistio/ merupakan mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab dan mentor kepenulisan cerpen di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) IAIN Purwokerto. Ia juga menjadi wakil ketua Forum Lingkar Pena (FLP) ranting Banjarnegara dan anggota di KPBJ. Karyanya terdokumentasikan dalam beberapa antologi cerpen sertatersiar pada beberapa media lainnya.

Editor                    : Mu’arifatur Rahmah

Ilustrasi Gambar : Ula Ulhusna

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *