Judul di atas merupakan tema diskusi yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Ahwal Syakhshiyah (HMAS) divisi keilmuan Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII), pada beberapa waktu lalu, bertempat di Hall FIAI. Pada tulisan ini, saya tidak hanya akan fokus membahas tema tersebut, melainkan saya juga akan menyampaikan beberapa catatan yang terkait.

Pertama, saya ingin menyoroti gairah diskusi para mahasiswa, khususnya mahasiswa Ahwal Syakhshiyah (AS), yang menurut saya, syahwat diskusinya amat lemah. Bayangkan saja, dari ratusan mahasiswa AS, presentase yang hadir tidak sampai 3%! Mengenaskan bukan? Tentu ini merupakan sebuah ironi bagi mahasiswa yang mengaku masih berproses. Berproses tentunya saja tidak hanya terbatas di dalam ruang kelas. Justru, terkadang, apa yang didapat di luar kelas jauh lebih banyak daripada yang didapat di dalam kelas.

Tidak hanya diskusi di luar kelas, di dalam kelas pun juga amat lemah dan tak bergairah. Bahkan, tidak sedikit dosen yang merasa bendu (kesal) disebabkan respon teman-teman yang tidak memuaskan. Ditambah lagi, banyak yang lebih fokus mengotak-atik handphone daripada mendengarkan penjelasan dosennya. Saya melihat, amat sedikit yang berusaha untuk menambal ketidaktahuan; atau berusaha memahami apa yang tidak dipahami. Memang banyak faktor yang melatarbelakangi, misalnya, tidak paham mata kuliah ushul fikih dikarenakan tidak bisa baca kitab kuning. Akan tetapi, hal tersebut tidak bisa dijadikan justifikasi untuk tidak berusaha. Sebab, adakah yang tidak bisa diraih dengan usaha? Tentu tidak ada! Mario Puzo, penulis asal Italia, dalam salah satu karya terbaiknya, The Godfather, pernah mengatakan, “Orang-orang besar tidak terlahir hebat, tetapi dia tumbuh dengan hebat.”

Kedua, berkenaan dengan diskusi. Saya amat mengapresiasi semangat teman-teman LEM di dalam mengadakan diskusi, meskipun, saya pikir, mereka tidak begitu yakin bahwa yang hadir akan sesuai dengan ekspektasi. Saran saya, karena ini hanyalah langkah awal membentuk kultur diskusi di LEM, sebaiknya yang perlu diperhatikan dengan baik dan cermat adalah kualitas diskusi, bukan kuantitas peserta diskusi. Dengan diskusi yang berkualitas, maka konsistensi akan tetap terjaga. Dalam melakukan apapun, konsistensi adalah yang paling utama. Tentu saja, untuk menciptakan diskusi yang berkualitas, mesti dengan manejeman yang berkualitas pula. Tanpa menejemen yang baik dan berkualitas, sulit untuk menciptakan diskusi berkualitas, apalagi membudayakannya.

Ketiga, tentang kritik. Diakui ataupun tidak, tidak sedikit mahasiswa yang anti kritik. Lebih banyak yang senang mengkritik. Sebuah anomali, tentunya. Ibaratkan dalam sepakbola, menyerang senang, tapi tidak senang bertahan. Apakah sepakbola macam itu akan berkembang dan menarik? Tentu saja tidak!

Apa sih kritik itu? Wikipedia mendefinisikan kritik dengan, “Masalah penganalisaan dan pengevaluasian sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan.”

Coba Anda perhatikan definisi kritik di atas, adakah hal negatif dari sebuah kritikan? Saya yakin jawabannya pasti tidak ada hal negatif di dalamnya. Justru sebaliknya, kritikan adalah hal yang amat positif. Kritikan ibaratkan jamu, pahit tetapi menyehatkan. Pujian ibaratkan gula, manis tetapi terkadang menjadi penyakit. Ulama-ulama dahulu, lebih suka dikritik daripada dipuji. Menurut mereka, dengan ada yang mengkritik, mereka menjadi tahu di mana letak kekurangan yang mereka miliki untuk kemudian diperbaiki. Berbeda dengan pujian yang cenderung membuat seseorang terlena. Mendapat pujian palsu pun kita terkadang senangnya bukan kepalang.

Lantas, kenapa ada yang tidak suka dikritik? Menurut saya, ada dua kemungkinan. Pertama, dia tidak paham hakikat kritikan. Mengkritik sama dengan menghina, meremehkan, dan hal negatif lainnya. Kedua, adakalanya karena dia sudah merasa baik. Faktor kedua ini yang amat berbahaya. Orang yang merasa baik, sulit untuk menjadi orang hebat. Orang yang merasa baik, tidak akan mau lagi untuk belajar. Orang yang merasa baik, tidak mau lagi ikut diskusi. Orang yang merasa baik, tidak mau lagi untuk membaca. Orang yang merasa baik, akan sombong dan anti kritik. Mungkin karena itulah Jim Collins mengatakan, “Baik (good) adalah musuhnya hebat (great).”

Bagaimana menghadapi sebuah kritikan? Nah, setelah paham apa itu kritikan, maka dalam menghadapi kritikan, ya biasa-biasa saja. Jangan jadikan kritikan sebagai sebuah masalah. Kaidahnya, masalah tidak akan menjadi masalah jika tidak dipermasalahkan. Gitu aja kok repot!

(Muhammad Nadi/Kader LPMPilar Demokrasi 2016)

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *