Derasnya hujan tidak membuat Joko bangun dari tidurnya. Ia  terlelap  di depan monitor komputer. Padahal tugas kuliah menulis esai film “Pulp Fiction”nya masih setengah jalan. Jam masih menunjukkan pukul 11 malam, Lewat dari jam tidur Joko. Sedikit aneh memang, jika dibahas tentang si Joko satu ini. Ia adalah mahasiswa fakultas Film Dan Telivisi bidang Kajian Sinema. Terlepas dari Stigma “Anak seni” yang ada, Joko termasuk orang yang dapat memberikan aura positif. Selama 6 semester, ia tak pernah absen satu mata kuliah. Tak hanya kegiatan kuliah, ia juga aktif dalam Kegiatan screening film di komunitas bahkan sempat menjadi programmer film. Kehidupan sosialnya pun tak kalah positifnya. Ia berteman dengan siapa saja, namun selektif dalam memilihnya. Joko aktif sholat berjamaah di Masjid, khususnya sholat shubuh. Maka dari itu jam tidur joko adalah jam 10.

Terlepas dari kesempurnaan yang ada, ia mati kaku jika membahas perihal wanita. Selama hidupnya ia tidak pernah memegang ataupun merangkul wanita. Ia lebih memilih untuk berkencan dengan seonggok batu ketimbang harus berbicara dengan lawan jenisnya. Banyak  berasumsi bahwa  ketertarikan seks joko ada pada lelaki. Joko pun dengan lantang menggeleng tidak, ia sendiri canggung dan malu jika berbicara dengan teman belajar wanita nya. Namun, ada satu hal yang mesti di pertanyakan untuk tokoh utama kita ini. Dia mencintai Karolina. Karolina sendiri adalah secangkir minum yang ia seduh setiap pagi.

Jam menunjukkan pukul 3 pagi. Joko pun terbangun dari tidurnya dan melihat monitor komputernya.  Sialan. Gumamnya dengan panik. Secepat kilat, ia membasuh mukanya dengan air, dan demi Tuhan joko tidak pernah melihat tangannya selentur itu dalam mengetik esai. Tangannya sama lenturnya dengan tarian balet Natalie Portman di film “Black Swan”.

Setengah jam pun berlalu, dan esai yang ia garap akhirnya usai. Meski tulisannya tampak seperti Leo Tolstoy mengadaptasi ulang novel “Harry Potter”. Tidak nyambung. Namun yang penting selesai dan bisa dilanjut nanti di kampus, katanya. Mata joko mengibarkan bendera putih, dan sontak  dalam sesaat ia terlelap dalam tidurnya.

Adzan shubuh berkumandang, Joko tersontak bangun. Setelah selesai sholat shubuh, ia akan melakukan suatu hal yang menurutnya sangat sakral. Ia berjalan di depan sebuah lemari. Lemari tersebut seperti lemari biasa yang menyimpan gelas-gelas dan piring-piring. Namun ada satu rak paling atas yang terdapat satu cangkir yang menurutnya paling suci. Ya, para pembaca saya persembahkan untuk ada semua : Karolina!

Karolina adalah sebuah cangkir  minum yang berbahan dasar tanah liat.  Di tengahnya terdapat lukisan bunga bewarna merah yang di lukis dengan sangat apik. Joko menatapnya dengan sangat terkagum, seolah di depannya muncul bak Ariana Grande. Dengan sangat hati-hati Joko mengambil Karolina, dan ia pun membisikan dengan halus “Selamat Pagi gadisku,” sambil mencium nya dengan penuh kasih sayang. “Jadi gimana tidurnya lin? Nyenyak kah?,” ucapnya sambil mengusap badannya dengan kain lap. Tentu Karolina hanya diam. Mungkin juga dia akan tertawa melihat perilaku Joko seperti ini. Namun tidak, Karolina adalah cangkir bukan seorang gadis. Joko menaruh Karolina di atas meja makan dan berbisik halus, “Aku seduhin teh ya buat kamu lin, moga kamu suka.” Dia pun menyeduh teh yang dibuatnya tadi ke dalam karolina. Tubuh karolina pun menjadi hangat. “Gimana lin, enak kan?.” Karolina hanya diam seribu kata. Dia mengambil cangkir yang baru dan menyeduh tehnya lalu ia pun menyeruput tehnya. Karolina berada di depan joko.

“Eh lin tau gak? Kemarin pak Hadi, dosen aku nyuruh buat tugas esai gitu. Masa disuruh kemarin dikumpulnya sekarang? Kan aneh.”

Karolina diam membisu.

“Maka dari itu tadi aku buru-buru banget buat esainya. Makanya aku sekarang ngantuk banget.”

Dan lagi, Karolina diam membisu.

Joko mulai mengelus tangkai karolina.

“Btw, kamu udah cukup tidurnya kan? Moga moga deh. Kamu harus banyak istirahat yak jangan begadang kaya aku nih. Jadi susah nanti.”

Karolina pun hanya diam.

Beberapa saat kemudian Joko beranjak dari kursinya dan berkata, “Udah dulu ya sayang, aku berangkat dulu,” sambil mencium tubuh karolina.

Joko pun mengambil Karolina menuju bak cuci. Saat di bak cuci, kalian sendiri bisa melihat bahwa Joko memiliki dua sabun cuci piring. Sabun pertama, sabun cuci biasa yang terang bewarna hijau. Di sampingnya terdapat sabun kedua, sabun ini memiliki botol yang terlalu kelewatan mewah untuk botol sabun cuci piring. Botolnya lebih mirip botol parfum ke timbang botol sabun cuci piring. Di tubuh botol tersebut terdapat tulisan “Khusus Untuk Karolina”. Saya tidak bisa memastikan merk sabun tersebut, Jelas bahwa sabun itu mahal. Warnanya biru dengan percikan warna emas.

Perlahan Joko membasuh air ke tubuh Karolina, ia membasuhnya seperti membasuh bayi yang baru lahir. Ia membasuhnya dengan sabun, dan perlahan mengelus permukaan tubuh Karolina dengan sabun. Lalu membilasnya dengan sangat perlahan. Ia pun mengeringkan Karolina dengan kain lap yang begitu mewah. Mungkin terbuat dari sutra? Entahlah, saya sendiri tidak tau. Lalu ia menaruh karolina di lemari rak paling atas.  Setelah itu dia mencuci cangkir yang ia pakai.

 

Hari ini Joko mendapat kelas pagi, maka dari itu ia langsung bersiap dan meluncur dengan motornya ke kampus. Ia tiba 20 menit  lebih awal. Sambil menunggu  ia mampir ke kantin kampus sambil menyunting esai yang ia buat tadi malam dan menyantap gorengan. Tak lama,  Danil menghampirinya.

“Eh ko, kok kayanya kau sibuk amat ya?”

“Hah? Kau lupa ya? Ngerjain tugas pak Hadi itu lho. Buat esai”

“Oh esai itu? Pfft.. kok kau kerjain sih? Paling juga dia ga datang”.

“Ah diam kau”

Danil pun duduk di depannya dan mengambil gorengan serta menyantapnya. Sambil  menyantap gorengan, ia menatap kaus yang dikenakan Joko dengan tatapan aneh dan berkata, “Waduh, itu kaus Kill Bill beli dimana lagi?.” Joko pun menatap Danil dengan wajah kesal dan berkata, “Online, baru sampai kemarin sore”.

“Sejak minggu ini udah kali ketiga aku lihat kau memakai baju itu,  selingkuh ya dari Mia Wallace?”

“Diam kau.”

Aduh, di episode ini aku lupa memberitahu bahwa Joko adalah penggemar berat dari Uma Thurman.  Ia mengenalnya dari temannya saat di sekolah menengah. Ia memiliki puluhan poster Uma Thurman yang terpajang di kamarnya.  Separuh uang jajan bulanannya habis untuk membeli Marchandaise Uma Thurman di toko online. Namun lucunya, di balik label “Fans Uma Thurman” ia hanya menyukai Uma Thurman di satu film saja.  Yaitu saat menjadi Mia Wallace di Pulp Fiction. Ia jatuh hati kepada paras cantik Mia Wallace. “Poni rambutnya buat aku meleleh tak karuan lho,” papar nya saat itu kepada Danil. Danil yang mengetahui hal tersebut hanya menggangguk supaya Joko terdiam dan senang. Baginya Mia Wallace adalah pacar keduanya setelah Karolina.

Namun, beberapa minggu belakangan ini delusi Joko terhadap Mia Wallace mulai menghilang. Ia mengganti display namenya di Line. Dari “Joko Thurman” menjadi nama lengkap nya “Joko Prasetya”. Danil juga mengakui bahwa Joko sekarang jarang mengenakan kaus Mia Wallace kesayangannya itu. Beberapa minggu ini Joko lebih realistis terhadap Uma Thurman. Ia mulai menghargai Thurman sebagai aktris, bukan sebagai pacar delusi. Ia sekarang mulai menghargai karya Thurman yang lain. Seperti “Kill Bill”. Sekarang ia membeli kaus hanya untuk mengapresiasi karya Thurman, bukan delusi belaka.

 

Oke kembali ke kantin. Walaupun tidak selentur saat tadi pagi. Tanganya masih saja lincah dalam mengetik esai. Tak beberapa saat air muka joko menunjukkan wajah lega. Seperti ia baru saja meniduri Karolina. “Alhamdulilah, akhirnya siap juga.” Danil pun sontak menatap Joko dan langsung merampas laptopnya. Kemudian dengan santainya mengetik ulang esai yang barusan joko tulis. “Kebiasaan banget sih,” ucap Joko. Danil hanya menyegir tak berdosa.

 

Sampai di rumah, wajahnya tampak kesal. Ia pun menaruh tasnya di kamar nya dan langsung menuju lemari penyimpanan Karolina. Dengan ritual biasanya, ia menyeduhkan teh di tubuh Karolina dan menaruhnya di meja makan. Ia duduk dengan tatapan lesu sambil menatap karolina. Mengelus elus tangkai nya dan berkata “Kamu gimana tadi dirumah? Baik-baik ajakan?”. Kesunyian pun melanda percakapan tersebut. “Baik pasti ya? Jangan kayak aku Lin, udah capek-capek begadang ngerjain esai, malah dosennya ngga datang. Kan kampret”

Untuk beribu kalinya, Karolina hanya terdiam.

“Untung hari ini cuma satu mata kuliah. Jadi aku bisa pulang cepet untuk ketemu ama kamu”.

Wajah Joko pun sedikit berubah, dan Karolina pun hanya terdiam.

“Udah dulu ya lin. Maaf aku gak bisa lama soalnya aku ada mau nonton screening film nanti”.

Karolina pun diam membisu.

Ia pun langsung membersihkan tubuh Karolina. Bersiap, mengganti baju dan langsung pergi ke tempat Screening. Film yang diputar nanti adalah filmnya Michael Mann yang berjudul “Heat”. Tema Screening itu tentang bagaimana kehidupan dunia post modern yang dituangkan dalam bentuk film. Menurut Joko, memutarkan film sekelas “Heat” adalah ide yang konyol dan belum terpikirkan oleh dia sebelumnya. Soalnya rata-rata durasi film saat di Screening adalah sekitar 60- 120 menit. Supaya nanti ketika diskusi, otak masih fresh. “Heat” sendiri berdurasi 170 menit. Hampir 3 jam. Joko tidak yakin bahwa nanti dia sanggup untuk melanjutkan sesi diskusi. Namun tetap saja, ia ikut.

Sesampainya di tempat screening, ia langsung memesan tempat dan duduk di tempat yang ia pesan. Beberapa saat ia menunggu filmnya diputar, datang seseorang lelaki kurus jangkung yang tingginya hampir sama dengan pemain basket NBA. Ia pun mengingat-ingat, dan akhirnya sadar bahwa itu adalah Ronald, teman SMA yang dulu adalah seorang kapten klub basket. Tanpa basa-basi ia pun sontak menghampiri Ronald dan berkata “Ronald ya?”. Ia pun menjawab “Lha, Joko yak? Haduh iya-iya, apakabar?,” sambil menjabat tangan Joko.

“Sehat kok, sekarang kau suka film?.”

“Hehe, iya nih. Aku baru suka sekarang sekarang aja sih. Katanya film ini bagus ya Ko?”

“Iya, bagus banget. Aku udah nonton, kesini cuma buat diskusinya doang. Hehe”

“ohh gitu. By the way sekarang kau kuliah dimana ko?. Kalau aku ngambil Manajemen di UGM”.

“Haha aku ngambil Kuliah film peminatan Kajian sinema”.

“Widih, keren tuh”.

Joko hanya nyengir  sambil mengangguk. Jika Joko berbicara pada lelaki, ia akan akrab dan sangat ramah. Namun, jika  ia dihadapkan dengan satu spesies yang bernama wanita, ia akan terpaku terdiam. Hal unik inilah yang ada pada tokoh utama kita.

Tak Lama, MC datang untuk membuka acara. Lampu dimatikan, dan film pun diputar. Setelah pemutaran dan diskusi, Ronald dan Joko pergi ke tempat parkir untuk ngobrol tentang banyak hal. Joko dan Ronald memanglah bukan teman dekat Joko. Tapi sejak  SMA, Ronald adalah orang ramah. Melihat seorang yang kalem dan pendiam seperti Joko pada tahun pertama, ia merasa iba. Karena rasa iba itulah, Ronald sering mengajak ngobrol Joko. Walaupun menurut Ronald pembicaraannya tidak satu frekuensi, yang penting Joko tak sendirian. Pada penghujung topik, Ronald pun berkata, “eh, minggu depan ada reuni angkatan SMA kita nih, Mau join ga?” tak berpikir lama Joko pun menjawab “Boleh sih” Ronald yang mendengar jawaban dari Joko pun terkejut. “Wah, kau sekarang udah gak anti sosial kayak pas SMA ya? Hahah” ucapnya sambil tertawa kecil. Joko hanya nyegir dan mengganguk. “Baguslah, kau ada Whatsapp kan? Biar aku invite ke grup angkatan,” tanpa ragu Joko memberi nomor teleponnya dan Ronald berkata, “Oke, udah aku invite ya”.

Setelah itu, Ronald duluan yang berpamitan. Alibinya ada latihan basket bareng anak angkatan SMA. Tanpa menyangkal, Joko pun membolehkan ia pulang. Mereka berpamitan saling memberi pelukan. Dan joko pun pulang. Sesampainya di rumah, ia merebahkan badan di kasur sambil mengecek keributan grup angkatan Whatsap yang sedang di landa penyakit rindu. “kau kuliah dimana?” adalah pertanyaan yang beribu kali ditanyakan di grup tersebut. Joko hanya diam tidak mengambil alih grup tersebut sambil membacanya dengan seru.

Tak lama, sebuah reuni sejati yang benar-benar diingkan oleh Joko terjadi. Tiba-tiba handphone nya berdering. Nomornya tidak di ketahui. Tanpa prasangka buruk joko pun mengangkat telepon itu.

“Halo, assalamualaikum,” buka joko.

“Ya halo, Walaikumsalam”.

Itu suara perempuan. Joko sedikit terkejut dengan suara itu. Namun, prasangka Joko mungkin itu hanya teman wanita sekelasnya yang ingin minta bantuan untuk mengerjakan esai. Karena juga di kelas Joko di cap sebagai murid teladan.

“Ini siapa ya kalau boleh tau?”

Terjadi hening sementara.

“Halo? Salah sambung kah?”

Dengan suara yang riang, dia menjawab.

“Joko ini aku lho! Kangen ga?!”.

Joko sontak terkejut. Ia ingin teriak namun tidak bisa. Ia ingin pingsan. Ia ingin muntah. Ia ingin berak. Ia ingin melakukan hal itu di saat yang bersamaan. Campur aduk rasanya. Berdasarkan dari suaranya, Joko tahu persis siapa dalang di balik telepon misterius itu.

Terjadi hening sementara.

“Halo joko? Masih disana?”.

 

****

Saat tahun pertama di sekolah menengah, Joko bukanlah orang yang terbuka. Jangankan pada teman perempuan, bahkan dia tidak bisa bergaul baik dengan kawan laki-lakinya. Mungkin jika hewan dapat bicara, ia pun tidak bisa bergaul dengannya. Joko bukanlah anak yang rajin. Nilai rapornya hanya sebatas KKM saja. Namun, ada satu hal yang membuat Joko berbeda. Ia menyukai Sinema. Bolehlah Joko mendapatkan Nilai KKM pada rapornya, Bolehlah Ia mendaptkan nilai 35 di UAS pada pelajaran matematika. Tapi, jika bicara tentang sinema, Ia Jagonya.

Joko mulai menyukai sinema saat ia menonton Spiderman 3 di bioskop bersama keluarganya. Peran ayahnya tak lepas dalam mengenalkan Joko pada Sinema. Saat duduk di bangku SMP, ayahnya  mulai mengenalkan Joko pada film yang lebih berkualitas seperti Forest Gump, The Godfather, Goodfellas dan lain sebagainya. Dan saat tahun pertama di SMA, ia mulai mengenal film dengan subject matter yang lebih berat. Seperti film The French New Wave contohnya seperti Breathless, The 400 Blows, Alphaville dan Lain sebagainya. Tokoh sinema klasik seperti Akira Kurosawa, Federico Felinni, Jean Luc Goddard, Charlie Chaplin, Yasujiro Ozú menjadi temannya pada fase tahun pertama di SMA. Sehari-hari ia membawa laptop bukan karena ada tugas, melainkan menjalin kasih bersama sahabatnya yaitu sinema. Di Kelas, Joko di anggap sebagai “Gudang Film”. Di harddisk joko terdapat ratusan film bermacam jenis. Kadang tidak jarang kawan sekelas joko menyodorkan flashdisk untuk Joko salinkan sebuah film. Joko tentu santai saja, asalkan ia tidak diganggu.

Dan pada suatu hari, datanglah seorang murid pindahan yang merubah tahun pertama Joko selamanya. Murid pindahan tersebut berkelamin perempuan. Ia lumayan cantik, dengan bola mata cokelat yang indah dan juga pipinya yang merah. Rambut panjangnya selalu ia ikat ke atas. Saat perkenalan di depan kelas, ia mengenakan baju hangat yang bergambarkan poster film Pulp Fiction. Dimana kita tau di poster itu, Uma Thurman merokok dengan gayanya yang sangat sensual. Tentu hal ini menjadi daya ikat dari Joko, belum pernah ia melihat teman perempuannya mengenakan baju hangat Pulp Fiction. Selesai perkenalan, Wali kelas  meminta ia untuk menanggalkan baju hangat tersebut dengan alasan gambar yang di tampilkan di baju hangat itu terlalu sensual untuk anak SMA. Ia menolak, mengeluh kedinginan. Namun dengan lembut hati wali kelas  membujuknya. Dan terjadilah perdebatan kecil. Tapi pada akhirnya ia menanggalkan baju hangat dengan muka sedikit jengkel.

Setelah itu, guru mempersilahkan perempuan itu untuk duduk. Kebetulan, Joko ini suka menyendiri, dan duduknya selalu di belakang, maka dari itu tidak ada yang mau duduk dengannya. Oleh karena itu, kursi sebelah Joko kosong melompong. Tak ada pilihan, perempuan itu duduk di samping Joko. Sontak Joko keringat dingin, terpaku pada duduknya. Joko terlihat tegang dengan keringat mecucur di badannya. Perempuan itu santai menjulurkan tangan nya ke Joko, ia memperkenalkan namanya dan bertanya “Kamu? Siapa?”. Joko benar benar gugup “Jj..Joko”. “Santai aja kali bro! Gausah tegang, aku kan manusia, bukan setan, haha” Ia menjawabnya dengan tawa riang, Joko pun mengangguk. Sontak keadaan pun menjadi hening.

“Eh btw itu sweaternya beli dimana?” “Kamu suka film Pulp Fiction  juga ya?” “Sejak kapan kamu suka Pulp Fiction?” adalah beberapa pertanyaan yang ingin Joko tanyakan kepada dia. Namun, bibir joko dilanda oleh ke-belengguan yang tak terbatas. Jangankan bicara, untuk menatap ke perempuan itu ia tak sanggup. Tak kehabisan akal, Joko pun “memancing” dengan cara cerdiknya. Ketika melihat guru belum memulai pelajaran, ia mengeluarkan laptopnya, membuka folder film “Pulp Fiction” dan memutarnya. Terlihat joko seolah menontonnya, padahal film itu sudah ditontonnya berbulan-bulan yang lalu. Hal ini di lakukan hanya untuk “Memancing Ikan” yang ia inginkan. Beberapa menit film di putar, sontak perempuan tersebut menengok layar laptop Joko, ia terkejut dengan Joko. Seolah selera filmnya dan tampilan Joko tidak nyambung. Ia menatap joko dan histeris berkata “Kamu suka pulp fiction juga?!” dengan singkat Joko menoleh dan berkata “Iya, aku suka”.

Sontak, saat kejadian itu Joko dan perempuan itu menjadi dua sejoli yang membuat teman sekelasnya menganga dan bingung, menimbulkan pertanyaan “Lah, bocah se lugu Joko kok bisa ya berteman sama perempuan se nyentrik dia?”. Mereka lantas bertukar referensi. Saat itu, si perempuan itu hanya mengetahui Pulp Fiction sebagai refrensi tunggal filmnya. Ia mengetahui film itu saat berselancar di tumblr dan melihat adegan dari film tersebut. Yaitu ketika Mia Wallace berdansa riang bersama Vincent Vega. Ketika itu ia melihat bahwa Mia Wallace adalah gadis yang badass dan menurut ia itu keren. Perempuan itu menganggap bahwa Mia Wallace lah satu satu peran terbaik yang dimiliki oleh Uma Thurman. Sebenarnya Joko menganggap Mia Wallace adalah karakter yang biasa saja, ia lebih suka peran Uma Thurman di film Kill Bill. Namun, untuk membuat si perempuan itu senang, ia hanya mengangguk saja. Si perempuan tersebut belum mempunyai cukup referensi untuk mengenali film. Lantas, Joko mengenalinya dengan Kill Bill, Fight Club, Memento, Forest Gump. Perempuan itu hanya suka beberapa, dan tetap menggangap bahwa Pulp Fiction adalah film terbaik.

 

Layaknya seperti perempuan itu, namun berbeda. Referensi Joko akan musik bisa dihitung jari. Ia mengenal beberapa dari ayahnya dan beberapa dari film yang ia tonton. Sedangkan perempuan itu, ia bisa di kenal sebagai “Gudang musik” ataupun “Kritikus musik” di kelasnya. Karena setiap ada musik baru yang bergaya pop EDM dan teman sekelas menyukai nya, ia selalu mengkritik nya dengan gaya sok seperti Yocki Suryo Prayogo. Referensi musik perempuan itu bisa dibilang cukup luas. Dari musik Jazz, Hip Hop, Rock, Metal, Alternatif dan lain sebagainya. Joko pernah bilang bahwa ia menyukai Arcade Fire di soundtrack film “Her” dan Joko ingin mengetahui band yang mirip dengan band Arcade Fire. Lantas, perempuan tersebut memberikannya beberapa band yang mirip dengan Arcade Fire. Band seperti  LCD Soundsystem, Radiohead , Sigur Rös, The Strokes menjadi jawaban atas pertanyaan Joko.

Selain bertukar referensi, mereka berdua sering pergi ke acara musik ataupun ke bioskop hanya berdua. Dan selalu perempuan itu yang mengajak duluan. Selain itu, ia juga mengajak Joko berkenalan dengan beberapa temannya yang mayoritas adalah kaum Hawa. Joko tidak mau berkenalan. Bukannya tidak ramah, namun ia tidak sanggup berhadapan dengan perempuan. Lantas perempuan tersebut menatap Joko dan berkata, “Aku kan perempuan, udahlah lagi pula mereka kan manusia juga.” Joko mengangguk, “Yang penting, berteman ama siapa aja. Namun pilih-pilih juga dong.” Joko pun mengangguk dan memberanikan diri untuk mengenalkan diri.

Dalam pelajaran sekolah, mereka juga saling bekerja sama. Joko adalah penggemar berat sejarah. Maka dari itu nilai sejarahnya selalu nomor satu di kelas. Sedangkan perempuan itu muak dengan sejarah. Baginya ia lebih suka dikasih soal matematika, daripada soal sejarah. Melihat hal ini, Joko selalu memberi sontekan saat ulangan sejarah. Si perempuan dengan acuh menerimanya, karena ia sendiri pun tidak pernah meminta sontekan tersebut. Layaknya perempuan tersebut, namun berbeda, Joko muak akan pelajaran kerajinan tangan. Berbanding terbalik dengannya, perempuan tersebut adalah jagonya. Ia sering membantu Joko dalam tugas praktek kerajinan tangan.

Perempuan tersebut bahagia akan pertemanan mereka. Walaupun banyak dapat omongan dari kiri dan kanan yang menyatakan bahwa ia tak pantas untuk berteman dengan Joko yang lugu, si perempuan itu hanya bersikap bodo amat, ia berteman dengan siapa saja. Joko setali tiga uang dengan perempuan tersebut, ia belum pernah merasakan hal ini sebelumnya. Namun, rasa Joko terhadap simbiosis mutualisme tersebut berubah menjadi hal yang yang lebih manis. Ia jatuh cinta kepada perempuan tersebut.

Hal tersebut ditandai ketika Joko yang selalu membayar  tiket bioskop. Ketika Joko sering membantunya mengerjakan tugas sejarah, bahkan tidak hanya sejarah, hampir seluruh mata pelajaran ia kerjakan. Perempuan tersebut heran melihat sifat Joko yang aneh. Ia pun tidak pernah meminta apapun kepadanya. Tapi si perempuan tersebut hanya terlihat acuh kepada sifat Joko.

Pada tahun terkahir, Joko ingin membuat yang berkesan untuk perempuan tersebut. Ia memesan kaus Mia wallace dan menyablon nama perempuan tersebut di bagian belakang. Pada saat acara perpisahan, ia membawa kaus tersebut kepada perempuan tersebut. Wajah perempuan tersebut sedikit terkejut “Waduh, terimakasih ya,” ucapnya dengan sedikit senyum dan menaruh kaus tersebut di tasnya. “Eh ko bentar,” si perempuan tersebut mengeluarkan sebuah kotak bewarna cokelat dari tasnya. “Makasih ya, buat beberapa tahun ini. Maaf ya kalau aku ada salah ama kamu,” ia memberi Joko kotak tersebut  “Besok, aku ada pesawat ke Sydney. Aku mau daftar kuliah di sana”. Dada Joko pun merosot ke bawah, ia tak tahan. Ia membuka kotak tersebut dan Isinya adalah cangkir minum yang berbahan dasar tanah liat dengan lukisan bunga di tubuh cangkir tersebut. “Ini aku yang buat, aku gatau mau balas apa. Kamu udah baik banget ama aku ko. Makasih ya.” Ia memeluk Joko dengan hangat sambil berkata, “kamu sahabat terbaik aku Ko.” Mendengar  tersebut perasaan Joko campur aduk. Ia tak peduli perempuan itu melakukan apa terhadap Joko, yang Joko tahu bahwa ia mencintai perempuan tersebut.

Semua terjadi begitu cepat, ketika acara perpisahan itu selesai Joko pulang. Dan memang benar, besoknya Perempuan itu hilang pergi ke Sydney dan mereka hilang kontak setelah itu.

Hal yang tersisa hanya cangkir minum dan memoar tentang Mia Wallace yang tidak pernah ia lupakan.

***

Joko terdiam sebentar, menghela napas dan berkata “ Oh ini Lina yak? Karolina yak? Eh btw kamu nelpon dari Australia ga mahal ya?”.

“Ah aku lagi di Indonesia. Gimana kabar kamu? Sehat kan? Udah lama ini gak ketemu”

Joko  menahan tangisnya, tangis dari rasa rindu dan cinta yang ia pendam dari sejak dulu.

“Aku sehat, aku kuliah film sekarang. Kamu masih kuliah Kerajinan Tanah liat di Australia yak?” tanya joko

“Iya nih, ini lagi libur. Eh btw kamu masih nyimpan cangkir itu kan?”

Ia tetap menahan tangisnya, tapi mendengar kata itu tangisnya tak terbendung

“Iya,” kata Joko lirih.

“Yaudah, pas reuni kamu bawa itu ya. Aku bawa  juga kaus Mia Wallace itu. Biar menjadi tanda kalau kita sahabat. Kita kan sahabat ya kan Joko?”.

Joko menghapus isak tangisnya dan berkata “Iya karolina, kita sahabat”.

 

 

By : Galih Pramudito

Kader LPM Pilar Demokrasi 2019

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *