Pilardemokrasi.com, Kampus Terpadu UII–Beberapa waktu lalu, tepatnya pada bulan Desember 2018 lalu, warga Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) dikejutkan dengan keberadaan “kantin kejujuran” yang menghilang. Jajanan berupa makanan ringan dan berat yang sebelumnya terletak di atas deretan bangku persis sebelah tangga lantai dua gedung K.H. Wahid Hasyim.

Sejak awal Desember 2018 lalu, tempat itu sudah kosong dan meninggalkan sebuah papan bertuliskan larangan berjualan. Pada papan tersebut juga dipersilakan, bagi yang biasa berjualan di tempat itu, untuk bergabung tempat dengan fotokopi, di samping mushala FIAI.

Namun, tulisan itu meninggalkan tanda tanya, karena beberapa saat setelahnya tempat fotokopi justru tutup. Apa alasan dibalik tutupnya tempat fotokopi?

Saat ditemui tim Pilar Demokrasi di rumahnya, Paryanto, penjaga fotokopi FIAI yang telah berkerja sejak tahun 2007 itu menjelaskannya secara gamblang. Menurutnya, sepinya pengunjung setelah tempat fotokopi dipindahkan dari hall FIAI ke samping mushala menjadi alasan tempat bekerjanya itu tutup.

“Saya sendiri aja kadang-kadang di bawah (tempat fotokopi sekarang), dua-tiga jam engga layanin fotokopi atau jajanan,” ucapnya.

Pemindahan tersebut, masih menurut Paryanto, dikarenakan adanya kebutuhan ruang untuk kepala jurusan. Pemindahan tepatnya dilakukan setelah lebaran Idul Fitri tahun 2018 lalu.

“Dulu waktu di atas itu sepinya 2 rim, kalo rame bisa 3-4 rim, bahkan sampai 5 rim. Sedangakan semenjak pindah di bawah, 1 rim saja seminggu engga habis,” tutur bapak satu orang anak itu.

Selain melayani fotokopi, tempat itu menyediakan pula jajanan dan minuman dingin, baik yang dibeli sendiri maupun titipan.

Untuk minuman dingin, dulu Paryanto mengisi kulkas dengan kocek 500 sampai 600 ribu rupiah yang dapat habis dalam setengah pekan dengan keuntungan 350 ribu rupiah. Namun, di tempat baru ia hanya berani membeli 200 ribu rupiah saja, itupun baru habis dalam dua minggu.

Sebelumnya, Paryanto mendapatkan gaji 230 ribu rupiah sepekan, dengan pendapatan keseluruhan tempatnya di atas satu juta rupiah. Namun, akhir-akhir ini pendapatan yang diraih hanya 100-150 ribu rupiah, tidak lebih besar dari gajinya dulu.

Faktor lokasi yang kurang strategis menjadi penyebab sepinya tempat fotokopi yang dimiliki Imam, “orang luar” FIAI yang sejak 2009 tidak mengurus secara langsung usahanya itu.

Kemudian kami mendatangi Sutaryo, pengelola tempat fotokopi yang mengatur pembagian keuntungan bagi Imam dengan pihak fakultas selaku pemilik tempat.

Sutaryo menjelaskan, setelah Paryanto memberikan pendapatan yang diraih tiap pekan, ia membagi hasil tersebut kepada Imam dan pihak fakultas per bulannya dengan perbandingan 70 persen berbanding 30 persen. Sebelum diberikan ke Sutaryo, Paryanto telah mengambil gajinya serta membeli keperluan usaha yang ia jaga.

Kebetulan, papan larangan berjualan “kantin kejujuran” dikeluarkan oleh Bagian Rumah Tangga FIAI, yang tentu menuju kepada Sutaryo sebagai kepalanya. Sutaryo menuturkan penertiban itu dilakukan karena akan datangnya tim akreditasi untuk Fakultas Teknologi Industri (FTI), disamping juga tempat itu tidak memiliki izin.

“Soalnya mau akreditasi kan tamunya dari Jakarta, asesor BAN-PT itu. Nanti kalo sidak pas ada kaya gitu memang nanti menjatuhkan, kekumuhan lingkungan,” jelasnya.

Mengenai tulisan papan yang mempersilahkan gabung dengan fotokopi, ia menyebutkan itu hanyalah solusi darinya.

Sebagai jalan keluar sepinya usaha fotokopi di FIAI semenjak dipindah, nantinya akan disediakan tempat di basement gedung baru. Namun hal itu tentu belum dapat terwujud dalam waktu dekat.

Dekan FIAI Tamyiz Mukharrom membenarkan pemindahan tempat fotokopi merupakan kebijakannya selaku dekan, karena dibutuhkan ruang untuk ketua jurusan menyesuaikan aturan baru yang ada.

“Kalo untuk ruang ketua jurusan kan memang harus ada,” ujarnya.

Dekan FIAI itu mengungkapkan keadaan fakuktas yang ia pimpin dengan segala keterbatasan tempat. Salah satunya ruang untuk dosen Prodi Ekonomi Islam yang kurang memadai.

“Harusnya dosen paling engga satu kamar (ruang kecil) kan dua orang, nah ini ada yang tiga-empat,” jelasnya.

Keberadaan gedung baru akan menjadi jawaban masalah keterbatasan tempat yang ada di gedung K.H. Wahid Hasyim, tempat kegiatan perkuliahan FIAI yang berjalan selama ini.

 

Penulis: Husain Raihan

Editor: Miftah Ayu A.

Reportase bersama: Mauliya Redyan N., Naila Rif’ah, Hera

Foto oleh: Hera

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *